123Berita – 04 April 2026 | Gelombang panas yang melanda Malaysia akhir pekan ini mencatat suhu tertinggi mencapai 38 derajat Celcius, memicu perbincangan hangat di kalangan netizen tentang dampak cuaca ekstrem terhadap aktivitas sehari-hari. Salah satu fenomena yang menjadi sorotan adalah seorang pria yang berhasil memasak telur mata sapi hingga matang sepenuhnya hanya dengan memanfaatkan panas matahari langsung, tanpa bantuan kompor atau peralatan dapur tradisional.
Insiden tersebut terjadi di sebuah area terbuka di kota Johor Bahru, di mana suhu tanah diperkirakan naik jauh di atas suhu udara karena penyerapan radiasi matahari pada permukaan aspal. Pria tersebut, yang tidak disebutkan nama lengkapnya, memposisikan wajan tipis di atas permukaan yang dipanaskan secara alami, kemudian memecahkan telur ke dalam wajan. Dalam hitungan menit, putih telur mengeras dan kuning telur berubah menjadi setengah matang, menandakan bahwa suhu permukaan telah mencapai titik didih air secara lokal.
Para saksi mata melihat proses tersebut dan melaporkan bahwa suhu yang diperlukan untuk mengubah keadaan cair telur menjadi padat berada dalam rentang 70‑80°C pada permukaan wajan. Hal ini menunjukkan bahwa suhu tanah di bawah terik matahari dapat melampaui suhu udara yang terukur, terutama pada kondisi aspal hitam yang menyerap energi matahari secara efisien.
Di sisi lain, pakar gizi menambahkan bahwa meskipun memasak telur di bawah sinar matahari terdengar menarik, proses tersebut tidak selalu menjamin keamanan pangan. “Paparan suhu yang tidak merata dapat menyebabkan bagian telur tidak matang sempurna, berpotensi menyisakan bakteri Salmonella. Oleh karena itu, meski tampak inovatif, metode ini sebaiknya tidak dijadikan praktik rutin,” kata Dr. Irawan Suryadi, dosen gizi di Institut Pertanian Malaysia.
Fenomena ini juga memicu diskusi di media sosial, di mana netizen membagikan video dan foto proses memasak telur tersebut. Beberapa menganggapnya sebagai contoh kreativitas dalam menghadapi cuaca ekstrem, sementara yang lain menyoroti potensi bahaya kesehatan dan menekankan pentingnya tetap menggunakan peralatan dapur yang standar.
Berbagai pihak terkait, termasuk otoritas kesehatan setempat, mengeluarkan peringatan agar masyarakat tidak mencoba metode serupa tanpa pengetahuan yang memadai. Mereka menekankan pentingnya menjaga hidrasi, menghindari paparan sinar matahari langsung pada jam puncak (antara pukul 12.00 hingga 15.00), dan memanfaatkan pendingin ruangan atau ventilasi yang baik untuk mengurangi risiko heatstroke.
Selain itu, fenomena memasak telur di atas panas matahari ini menambah catatan menarik dalam sejarah kuliner yang memanfaatkan energi alam. Di masa lalu, masyarakat di daerah tropis pernah memanfaatkan batu panas atau daun kelapa untuk mengukus makanan. Namun, dengan kemajuan teknologi, metode tradisional tersebut semakin jarang dipraktikkan, menjadikan kejadian ini sebuah anekdot unik yang mencerminkan adaptasi manusia terhadap kondisi iklim yang berubah.
Berikut langkah-langkah umum yang dapat diobservasi dari proses tersebut, meskipun tidak direkomendasikan untuk dicoba secara sembarangan:
- Temukan area terbuka dengan permukaan aspal hitam yang terpapar sinar matahari langsung.
- Letakkan wajan logam tipis pada permukaan tersebut dan biarkan selama 5‑7 menit hingga panas menyebar merata.
- Periksa suhu permukaan wajan dengan termometer (idealnya 70‑80°C).
- Pecahkan telur ke dalam wajan dan biarkan hingga putih telur mengeras dan kuning telur mencapai tingkat kematangan yang diinginkan.
- Angkat wajan dengan sarung tangan pelindung untuk menghindari luka bakar.
Meskipun langkah di atas menggambarkan prosedur yang berhasil dalam kondisi khusus, para ahli tetap mengingatkan bahwa keamanan makanan harus menjadi prioritas utama. Penggunaan termometer makanan, kebersihan peralatan, dan kontrol suhu yang tepat adalah faktor krusial dalam mencegah kontaminasi bakteri.
Secara keseluruhan, kejadian memasak telur di bawah terik matahari ini menyoroti dampak nyata dari gelombang panas yang semakin intens di kawasan Asia Tenggara. Sementara beberapa orang melihatnya sebagai peluang untuk bereksperimen, pihak berwenang dan profesional kesehatan menekankan perlunya kesadaran akan risiko kesehatan yang menyertai praktik tidak konvensional tersebut. Masyarakat diharapkan tetap mengutamakan keselamatan, menjaga hidrasi, dan mengikuti panduan resmi dalam menghadapi suhu ekstrem yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari pola hidup modern.





