123Berita – 09 April 2026 | Seorang anggota legendaris grup K-Pop BTS, Min Yoongi atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Suga, kembali menjadi perbincangan publik setelah mengungkapkan alasan pribadi mengapa ia tidak pernah menatap mata lawan bicara dalam setiap sesi wawancara atau perbincangan publik. Pengakuan tersebut muncul secara tak terduga dan langsung memicu gelombang rasa penasaran di kalangan fans BTS, khususnya fandom ARMY, yang selama ini mengamati setiap gerak-gerik sang rapper sekaligus produser musik.
Dalam sebuah sesi tanya jawab yang diadakan oleh sebuah media hiburan Korea, Suga menjelaskan bahwa kebiasaan menghindari kontak mata bukanlah hasil dari rasa tidak nyaman semata, melainkan merupakan strategi psikologis yang telah ia latih sejak masa debut. Menurutnya, menatap langsung ke mata orang lain dapat menimbulkan tekanan emosional yang mengganggu konsentrasi saat menyampaikan pesan atau menjelaskan karya musiknya. Oleh karena itu, ia memilih untuk memfokuskan pandangan pada titik yang lebih rendah atau mengalihkan ke arah lain, sehingga dapat menjaga kestabilan mental dan kualitas penyampaian.
Strategi tersebut ternyata memiliki akar yang lebih dalam. Suga mengaku bahwa sejak masa trainee di Big Hit Entertainment (sekarang HYBE), ia pernah mengalami kegelisahan berlebih ketika berada di depan kamera atau saat harus berbicara di depan publik. Pada saat itu, para mentor dan psikolog perusahaan menyarankan teknik pernapasan dan visualisasi, termasuk mengurangi intensitas kontak mata, untuk membantu mengendalikan kegugupan. Seiring berjalannya waktu, teknik tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari kebiasaan Suga dalam menghadapi sorotan media.
Pengakuan ini menambah dimensi baru pada persepsi publik terhadap Suga, yang selama ini dikenal sebagai sosok introvert, pekerja keras, dan sangat fokus pada produksi musik. Ia dikenal sering menulis lirik yang mendalam, menciptakan melodi yang kompleks, serta terlibat langsung dalam proses mixing dan mastering lagu-lagu BTS. Kebiasaan menghindari tatapan mata kini dapat dipahami sebagai cerminan dari kepribadiannya yang mengutamakan kontrol diri dan kualitas karya.
- Kebiasaan psikologis: Mengurangi kontak mata membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan saat berada di depan publik.
- Pengaruh masa trainee: Pelatihan intensif di era debut BTS menanamkan teknik-teknik coping yang kini menjadi kebiasaan pribadi.
- Fokus pada kualitas: Dengan mengalihkan perhatian dari tekanan visual, Suga dapat lebih konsentrasi pada penyampaian pesan dan detail musik.
Reaksi fans tidak dapat dipisahkan dari keunikan fenomena ini. Banyak ARMY yang menyatakan bahwa mereka dulu mengira Suga bersikap acuh atau tidak menghargai lawan bicara. Namun setelah penjelasan tersebut, para penggemar justru mengapresiasi kedalaman mental dan strategi coping yang diterapkan oleh idol mereka. Beberapa bahkan memulai diskusi di media sosial tentang pentingnya kesehatan mental di dunia hiburan, serta bagaimana artis dapat menyesuaikan diri dengan tekanan publik tanpa mengorbankan kesejahteraan pribadi.
Para pakar psikologi juga menanggapi pernyataan Suga dengan positif. Dr. Kim Hye‑jin, seorang psikolog klinis yang berfokus pada artis publik, menyebut bahwa menghindari kontak mata dapat menjadi mekanisme adaptif bila tidak berlebihan. “Dalam konteks wawancara, mengalihkan pandangan dapat membantu mengurangi rasa cemas, tetapi penting bagi individu untuk tetap menjaga interaksi sosial yang sehat di luar situasi formal,” ujar Dr. Kim.
Selain itu, kebiasaan Suga ini juga menimbulkan pertanyaan tentang budaya industri hiburan Korea Selatan yang menuntut performa sempurna. Banyak artis lain, terutama yang berkarier sejak usia remaja, melaporkan tekanan yang serupa, termasuk ketakutan akan kesalahan verbal atau penampilan yang tidak ideal. Hal ini menegaskan pentingnya dukungan mental yang berkelanjutan bagi para artis, baik dari manajemen maupun dari lingkungan profesional.
Secara keseluruhan, pengakuan Suga tentang alasan mengapa ia tidak pernah menatap mata lawan bicara menambah lapisan pemahaman tentang dinamika psikologis di balik panggung K‑Pop. Ia tidak hanya menegaskan bahwa setiap tindakan publik memiliki latar belakang pribadi yang kompleks, tetapi juga membuka ruang diskusi lebih luas mengenai kesehatan mental di industri musik global. Bagi para penggemar, cerita ini menjadi pelajaran penting bahwa di balik sorotan lampu panggung, artis pun memiliki cara unik untuk melindungi diri mereka dari tekanan yang tak terelakkan.
Dengan demikian, meski penampilan Suga di depan kamera tetap konsisten, cara ia berinteraksi secara non‑verbal mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya self‑care dan adaptasi psikologis dalam dunia hiburan yang kompetitif. Penggemar dan masyarakat luas diharapkan dapat mengambil hikmah dari cerita ini, serta terus mendukung upaya artis dalam menjaga keseimbangan antara karier dan kesejahteraan mental.





