123Berita – 06 April 2026 | Stinky tofu, jajanan beraroma tajam yang sudah menjadi ikon kuliner jalanan Asia, kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah insiden mengganggu kesehatan menjerat beberapa penjualnya. Aroma kuat yang menimbulkan rasa cinta sekaligus kebencian ini memicu perdebatan sengit antara pecinta kuliner otentik dan pihak berwenang yang khawatir akan dampak negatifnya.
Berakar dari tradisi Tiongkok, stinky tofu biasanya melalui proses fermentasi selama beberapa hari hingga berminggu‑minggu, menghasilkan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam. Di Indonesia, varian ini banyak ditemui di pasar malam, gerai pinggir jalan, dan bahkan pusat kuliner modern, dengan cara penyajian yang beragam: digoreng, dipanggang, atau disajikan dalam sup pedas.
Kebangkitan popularitasnya di era digital tidak lepas dari video‑video viral di media sosial yang menampilkan reaksi pertama kali konsumen mencicipi bau menyengat tersebut. Penonton yang penasaran pun berbondong‑bondong mencicipi, menjadikan stinky tofu salah satu tren kuliner yang paling dibicarakan dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, di balik antusiasme itu, muncul laporan mengenai kasus keracunan makanan yang diduga berkaitan dengan konsumsi stinky tofu yang tidak melalui proses higienis. Beberapa korban mengeluhkan gejala muntah, diare, hingga pusing setelah mengonsumsi produk yang dijual di gerai tertentu. Keluhan tersebut memicu penyelidikan oleh dinas kesehatan setempat.
Menanggapi situasi tersebut, Kepolisian Daerah mengeluarkan perintah penghentian penjualan pada tiga gerai yang terbukti melanggar standar kebersihan. Alasan resmi meliputi:
- Penggunaan bahan baku yang tidak terkontrol kualitasnya.
- Proses fermentasi yang tidak mengikuti prosedur sanitasi resmi.
- Kurangnya sertifikasi keamanan pangan dari otoritas terkait.
Perintah itu bersifat sementara namun dapat berlanjut menjadi larangan permanen jika pelanggaran berulang.
Reaksi penjual tidak dapat dihindari. Sebagian mengklaim bahwa larangan tersebut merugikan mata pencaharian mereka, sementara yang lain berjanji akan memperbaiki standar produksi. Di sisi lain, konsumen terbagi antara yang tetap setia pada rasa otentik dan yang memilih menjauh karena kekhawatiran akan kesehatan.
Para pakar makanan tradisional menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian cita rasa dan kepatuhan pada regulasi kebersihan. Mereka menyarankan agar proses fermentasi dilakukan dalam fasilitas yang terkontrol suhu, pH, dan kebersihan, serta dilengkapi dengan sertifikasi dari lembaga pengawas makanan.
Dengan demikian, stinky tofu tetap memiliki peluang untuk tetap eksis sebagai kuliner khas, asalkan penjual dan regulator bekerja sama menciptakan standar yang menjamin keamanan konsumen tanpa mengorbankan keunikan rasa. Kesadaran publik akan pentingnya kebersihan pangan menjadi kunci dalam mengubah persepsi negatif yang selama ini melekat pada makanan beraroma kuat ini.





