Starmer Bandingkan Trump dengan Putin, Soroti Lonjakan Biaya Energi di Inggris

123Berita – 10 April 2026 | Pemimpin Partai Buruh Britania, Keir Starmer, menyampaikan seruan tegas dalam sebuah pidato publik minggu ini, menyoroti krisis energi yang tengah melanda rumah tangga Inggris. Dalam rangkaian pidatonya, Starmer menyinggung secara langsung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, serta Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyamakan keduanya sebagai figur yang memperparah ketidakstabilan pasar energi global.

Starmer menegaskan bahwa kebijakan luar negeri yang agresif dan kurangnya kepedulian terhadap dampak ekonomi menjadi faktor utama mengapa harga energi di Inggris melonjak tajam. Ia menyebut bahwa “kebijakan yang dipimpin oleh Trump dan Putin menempatkan dunia pada risiko energi yang lebih tinggi,” menambahkan bahwa tindakan mereka menambah beban pada konsumen yang sudah merasakan tekanan inflasi.

Bacaan Lainnya

Selain menuding peran Trump dan Putin, Starmer juga mengaitkan konflik Iran dengan kebutuhan Inggris untuk memperkuat ketahanan energi domestik. Ia berpendapat bahwa perang yang berlangsung di Timur Tengah menjadi peringatan jelas bahwa ketergantungan pada pasokan energi luar negeri harus diatasi melalui diversifikasi sumber daya dalam negeri dan kerjasama regional yang lebih solid.

Berikut beberapa poin utama yang diangkat Starmer dalam pidatonya:

  • Penolakan terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dianggap memperburuk ketidakstabilan pasar energi.
  • Panggilan untuk mengurangi ketergantungan Inggris pada energi impor, khususnya gas alam cair (LNG) dari negara‑negara yang terlibat konflik.
  • Usulan investasi besar‑besaran dalam energi terbarukan, termasuk angin lepas pantai dan tenaga surya.
  • Komitmen untuk melindungi konsumen melalui skema subsidi energi yang lebih adil dan transparan.
  • Penekanan pada pentingnya solidaritas Eropa dalam mengatasi krisis energi bersama.

Reaksi dari partai-partai politik lain tidak kalah keras. Sejumlah anggota Partai Konservatif menuduh Starmer menggunakan retorika anti‑Amerika untuk memperoleh dukungan pemilih, sementara pemimpin oposisi Liberal Democrat menyoroti perlunya kerja sama lintas partai demi mengatasi krisis yang bersifat lintas sektoral.

Pidato Starmer juga muncul di tengah persiapan pemilu umum yang dijadwalkan pada akhir tahun ini. Dengan energi menjadi isu utama bagi pemilih, terutama di wilayah industri Utara dan Skotlandia yang paling terdampak kenaikan tarif, strategi politik Starmer tampak berfokus pada penekanan kegagalan pemerintahan konservatif dalam menangani inflasi dan krisis energi.

Dalam penutupnya, Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak boleh berada “di bawah kuasa peristiwa luar negeri” dan menuntut pemerintah untuk mengimplementasikan kebijakan energi yang berkelanjutan serta melindungi daya beli masyarakat. Ia menambah, “Kita harus membangun ketahanan nasional yang tidak tergoyahkan oleh perang, sanksi, atau tekanan geopolitik,” mengajak seluruh warga negara untuk bersatu dalam upaya mengatasi tantangan energi yang mendesak.

Dengan menyoroti peran tokoh‑tokoh internasional seperti Trump dan Putin, Starmer mengirimkan pesan kuat bahwa solusi krisis energi harus bersumber dari kebijakan dalam negeri yang pro‑rakyat, bukan sekadar respons reaktif terhadap dinamika geopolitik global.

Pos terkait