123Berita – 07 April 2026 | Riyadh, 7 April 2026 – Mantan pelatih dua klub elit Serie A, Lazio dan Inter, Simone Inzagri, menegaskan komitmen penuh pada Al-Hilal meski terus menjadi sorotan publik terkait kemungkinan kembali memimpin Timnas Italia. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan media Italia, Inzagri menolak spekulasi yang mengaitkan namanya dengan posisi kepala pelatih Azzurri, dan menekankan bahwa prioritas utama kini adalah menyelesaikan kontrak satu tahun yang tersisa bersama klub Arab Saudi itu.
Sejak kedatangan di Riyadh pada awal musim 2024/2025, Inzagri berhasil mengubah performa Al-Hilal menjadi salah satu tim paling konsisten di Liga Arab Saudi. Timnya kini berada di posisi kedua klasemen, terpaut lima poin dari pemimpin Al-Nassr yang dibantu oleh bintang dunia Cristiano Ronaldo. Statistik sementara menunjukkan Al-Hilal mengumpulkan 38 poin dari 18 laga, mencatat 12 kemenangan, 2 hasil imbang, dan 4 kekalahan.
- Posisi: 2
- Poin: 38
- Gol: 34
- Kekalahan: 4
“Saya merasa tersanjung dengan tawaran untuk melatih Italia, namun hati saya berada di sini. Saya masih memiliki satu tahun kontrak dengan Al-Hilal dan tujuan utama saya adalah menyelesaikannya dengan sukses,” ujar Inzagri kepada wartawan Liberty. Pernyataan itu menegaskan tekadnya untuk tidak teralihkan oleh peluang internasional yang masih menggiur, melainkan fokus pada tantangan domestik yang masih menunggu.
Keputusan Inzagri datang di tengah kekecewaan mendalam para penggemar sepak bola Italia. Tim Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah tersingkir di fase kualifikasi, menandai kegagalan pertama sejak era Marcello Lippi. Kegagalan itu tidak hanya melukai rasa kebanggaan nasional, tetapi juga menimbulkan tekanan besar pada federasi sepak bola Italia (FIGC) untuk segera menemukan pengganti Gennaro Gattuso, yang mengundurkan diri setelah serangkaian hasil buruk.
Inzagri, yang merupakan bagian dari keluarga dengan warisan kuat dalam sepak bola Italia—saudara kembarnya, Filippo Inzagri, pernah menjadi bagian dari skuad juara Piala Dunia 2006—menyatakan rasa dukanya atas kegagalan Italia. “Saya sangat sedih Italia tidak akan tampil di Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut‑turut. Saya 100 % orang Italia, dan keluarga kami memiliki sejarah panjang di dunia sepak bola nasional. Saya yakin Italia akan bangkit kembali,” tuturnya dengan nada penuh harap.
Reaksi FIGC terhadap pernyataan Inzagri menegaskan bahwa pencarian pelatih baru akan terus berjalan. Pejabat FIGC mengungkapkan bahwa proses seleksi kini memasukkan beberapa nama pelatih berpengalaman, termasuk mantan asisten teknik tim nasional dan pelatih klub Eropa. Meskipun Inzagri menutup pintu secara tegas, nama-nama lain seperti Andrea Pirlo dan Roberto Mancini masih dipertimbangkan sebagai kandidat potensial.
Di sisi lain, Al-Hilal tidak hanya berjuang untuk gelar liga, tetapi juga mengincar trofi regional. Klub yang dimiliki oleh kerajaan Saudi ini sedang mempersiapkan diri untuk melaju ke tahap semifinal Liga Champions Asia, di mana mereka akan bertemu tim-tim kuat dari Jepang, Korea Selatan, dan Iran. Keberhasilan di panggung Asia dapat memperkuat posisi Inzagri sebagai pelatih yang berhasil mengantarkan klubnya ke puncak kompetisi domestik dan internasional.
Strategi taktis Inzagri di Al-Hilal menonjolkan permainan menyerang cepat, mengandalkan kecepatan sayap dan kreativitas gelandang tengah. Ia juga dikenal memberi kebebasan kepada pemain muda untuk mengekspresikan diri, sebuah pendekatan yang telah membuahkan hasil pada beberapa pertandingan krusial melawan rival tradisional. Para analis sepak bola menilai bahwa adaptasi taktik Inzagri yang fleksibel menjadi faktor utama mengapa Al-Hilal tetap berada di posisi bersaing meski kehilangan beberapa pemain kunci pada bursa transfer musim panas.
Dalam hal kontrak, Al-Hilal telah menandatangani Inzagri hingga akhir musim 2025/2026, dengan opsi perpanjangan satu tahun jika klub berhasil meraih gelar liga. Pernyataan resmi klub menegaskan kepercayaan penuh pada visi Inzagri untuk mengembalikan kejayaan tim, sekaligus menolak segala rumor mengenai kepindahan pelatih ke tim nasional.
Melihat ke depan, fokus utama Inzagri adalah menutup musim pertama bersama Al-Hilal dengan mengamankan trofi liga dan melaju jauh di kompetisi Asia. Ia menambahkan, “Setiap pertandingan adalah kesempatan untuk membuktikan kualitas kami. Saya berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi para pemain, staf, dan pendukung yang setia.”
Kesimpulannya, meski tekanan dan harapan publik terhadap Inzagri untuk memimpin Timnas Italia tetap tinggi, keputusan ia untuk menutup pintu pada peluang tersebut mencerminkan profesionalisme dan dedikasi pada tugas yang sedang dijalani. Al-Hilal kini menanti kelanjutan perjalanan mereka di kompetisi domestik dan internasional, dengan Inzagri sebagai nahkoda yang bertekad mengantarkan klub meraih gelar juara.





