123Berita – 10 April 2026 | Telah terjadi eskalasi dramatis di perbatasan Lebanon–Israel setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan oleh militer Zionis menewaskan setidaknya 254 orang sipil. Operasi militer tersebut, yang dikoordinasikan melalui sistem pertahanan udara canggih, menargetkan sejumlah lokasi di wilayah selatan Lebanon, termasuk pemukiman padat penduduk, fasilitas infrastruktur, serta pos-pos militer yang dianggap milik kelompok Hizbullah.
Sebagai balasan, kelompok Hizbullah, yang bersekutu dengan Iran dan dianggap sebagai kekuatan militer utama di Lebanon, mengumumkan peluncuran serangan balasan yang sangat intensif. Pada sore harinya, unit-unit roket militan menembakkan ratusan unit roket ke arah kapal perang dan barak tentara Israel yang beroperasi di Laut Mediterania serta wilayah perbatasan. Penggunaan roket jarak jauh menandakan peningkatan kapasitas teknis dan logistik Hizbullah dalam menghadapi tekanan militer Israel.
Serangan roket tersebut berhasil menimbulkan kerusakan pada dua kapal perang Israel, meskipun tidak ada laporan resmi tentang korban jiwa di pihak Israel. Sementara itu, barak-barak militer yang ditempatkan di daerah rawan tembakan mengalami kerusakan struktural, memaksa pasukan Israel untuk menghentikan operasi darat sementara demi mengamankan posisi mereka.
Analisis para pakar keamanan regional menilai bahwa konflik ini berpotensi menimbulkan spiral kekerasan yang lebih luas. “Kedua belah pihak kini berada dalam posisi saling mengancam, dimana setiap aksi militer dapat memicu respons yang lebih keras,” ujar Dr. Ahmad Zahran, dosen ilmu politik di Universitas Beirut. Ia menambahkan bahwa keterlibatan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Rusia dapat memperumit dinamika geopolitik di kawasan tersebut.
Di dalam negeri, pemerintah Lebanon menyatakan keprihatinan mendalam atas tingginya jumlah korban jiwa sipil. Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, mengumumkan penetapan hari berkabung nasional dan menuntut bantuan internasional untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang sedang berkembang. “Kami menolak segala bentuk agresi yang mengorbankan warga sipil. Kami meminta semua pihak menahan diri dan kembali ke jalur diplomatik,” tegasnya dalam sebuah pernyataan resmi.
Sementara itu, pemerintah Israel menegaskan bahwa serangan udara tersebut merupakan tindakan defensif yang sah. Menurut juru bicara militer Israel, operasi tersebut bertujuan untuk menghentikan “ancaman roket terus-menerus” yang diluncurkan oleh kelompok militan di Lebanon. Pihak Israel juga menambahkan bahwa mereka akan terus memantau situasi dan siap melakukan tindakan lanjutan bila diperlukan.
Komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyerukan gencatan senjata segera dan mengajak kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyatakan keprihatinannya atas eskalasi kekerasan yang dapat memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. “Kami mendesak semua pihak untuk menghormati hukum humaniter internasional dan melindungi warga sipil,” ujar Guterres dalam sebuah konferensi pers virtual.
Di lapangan, bantuan kemanusiaan telah mulai mengalir ke wilayah yang terdampak. Organisasi non-pemerintah lokal dan internasional menyiapkan tim medis, makanan, serta perlengkapan darurat untuk membantu keluarga korban. Namun, akses ke beberapa daerah masih terhambat karena kondisi keamanan yang belum stabil.
Situasi kini berada pada titik kritis, dengan potensi konflik meluas ke negara-negara tetangga. Masyarakat internasional terus memantau perkembangan, berharap adanya upaya diplomatik yang dapat meredakan ketegangan. Pada akhirnya, penyelesaian damai tetap menjadi harapan utama bagi ribuan nyawa yang terancam oleh konflik berlarut-larut ini.





