123Berita – 09 April 2026 | Banjarbaru, 9 April 2026 – Menyikapi potensi penundaan pembangunan gedung permanen yang direncanakan selesai menjelang tahun ajaran baru 2026, Sekolah Rakyat Banjarbaru telah menyusun serangkaian skenario mitigasi yang dirancang untuk menjaga kelancaran proses belajar mengajar. Upaya preventif ini diharapkan dapat mengurangi gangguan operasional serta memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga meski fasilitas fisik belum selesai.
Sekolah Rakyat Banjarbaru, yang berlokasi di Jl. Sultan Adam, melayani lebih dari 1.200 siswa dari jenjang TK hingga SMA. Saat ini, sebagian besar kelas masih berada di bangunan sementara yang dibangun pada tahun 2018, sementara proyek gedung permanen yang seluas 5.000 meter persegi telah mengalami penundaan akibat kendala perizinan, fluktuasi anggaran, serta keterlambatan material dari kontraktor utama.
Berbagai faktor menghambat penyelesaian proyek, di antaranya perubahan kebijakan alokasi dana DKI Banjarbaru, proses evaluasi ulang desain struktural yang menuntut revisi, serta gangguan logistik yang dipicu oleh cuaca ekstrem di wilayah Kalimantan Selatan. Pihak manajemen sekolah menilai bahwa penundaan tersebut dapat berimbas pada ketersediaan ruang kelas yang memadai pada awal semester baru.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, tim manajemen bersama komite pendidikan daerah merumuskan lima skenario utama yang dapat diaktifkan secara bertahap. Setiap skenario dirancang dengan mempertimbangkan fleksibilitas, efisiensi biaya, serta dampak minimal terhadap proses belajar mengajar.
- Skenario A – Penambahan Kelas Temporer Modular: Menggunakan struktur modular yang dapat dipasang dalam waktu singkat, menambah kapasitas ruang kelas sebesar 30%.
- Skenario B – Rotasi Jadwal Pelajaran: Mengimplementasikan sistem shift pagi dan sore sehingga jumlah siswa yang berada di sekolah pada satu waktu berkurang setengahnya.
- Skenario C – Pembelajaran Daring Terpadu: Memperluas platform e‑learning dengan materi interaktif, memungkinkan sebagian mata pelajaran dilaksanakan secara online.
- Skenario D – Kolaborasi dengan Sekolah Tetangga: Menyewa ruang kelas di sekolah negeri terdekat serta mengatur transportasi bersama.
- Skenario E – Pemanfaatan Aula Komunitas: Mengonversi aula balai desa dan pusat kebudayaan menjadi ruang belajar temporer dengan fasilitas pendingin dan pencahayaan memadai.
Setiap skenario dilengkapi dengan timeline implementasi yang jelas. Misalnya, pada Skenario A, pemasangan modul diperkirakan memerlukan tiga minggu, sementara Skenario B membutuhkan penyesuaian jam operasional yang dapat diterapkan dalam satu minggu setelah persetujuan dewan sekolah. Tim pengawas proyek, yang terdiri dari perwakilan sekolah, Dinas Pendidikan Banjarbaru, serta perwakilan masyarakat, akan melakukan evaluasi mingguan untuk menilai progres dan mengaktifkan skenario yang paling sesuai dengan kondisi aktual.
Dalam sebuah pernyataan resmi, Kepala Sekolah Rakyat Banjarbaru, Bapak Ahmad Fauzi, menegaskan komitmen institusi dalam melindungi hak belajar siswa. “Kami tidak ingin keterlambatan infrastruktur mengorbankan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, kami menyiapkan rencana kontinjensi yang fleksibel dan berorientasi pada kepentingan utama—yaitu siswa,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjarbaru, Ibu Siti Marwiyah, menambahkan bahwa pemerintah daerah siap memberikan dukungan logistik serta alokasi dana tambahan bila diperlukan.
Para orang tua juga memberikan respons positif terhadap langkah proaktif sekolah. Ibu Lina, ibu dari dua orang anak kelas 5 SD, menyatakan, “Kami merasa lebih tenang mengetahui ada rencana cadangan. Yang penting adalah anak‑anak tetap bisa belajar dengan nyaman, meski gedung baru belum selesai.”
Untuk memastikan standar akademik tidak terdegradasi, sekolah menyiapkan program pelatihan guru dalam penggunaan teknologi pembelajaran daring, serta mengoptimalkan materi ajar berbasis kompetensi. Selain itu, evaluasi belajar akan dilakukan secara periodik menggunakan platform digital, sehingga kemajuan siswa dapat dipantau secara real time meskipun berada di kelas temporer.
Secara keseluruhan, strategi mitigasi yang diusung Sekolah Rakyat Banjarbaru mencerminkan pendekatan holistik dalam mengelola risiko konstruksi besar di lingkungan pendidikan. Dengan kombinasi solusi fisik, digital, dan kolaboratif, institusi berharap dapat meluncurkan tahun ajaran 2026 tanpa gangguan signifikan, sekaligus menyiapkan fondasi kuat bagi penyelesaian gedung permanen yang lebih modern dan ramah lingkungan.