Rudal Iran Gempur Tel Aviv, Membakar Jantung Kota dalam Serangan Gelombang ke-98

Rudal Iran Gempur Tel Aviv, Membakar Jantung Kota dalam Serangan Gelombang ke-98
Rudal Iran Gempur Tel Aviv, Membakar Jantung Kota dalam Serangan Gelombang ke-98

123Berita – 08 April 2026 | Tel Aviv, Israel – Pada Senin, 6 April 2026, Iran meluncurkan serangan udara berulang yang kini disebut sebagai gelombang ke-98 dalam rangkaian agresi yang telah berlangsung selama berminggu‑minggu. Serangan tersebut menggabungkan ratusan rudal balistik serta drone bersenjata, menargetkan sejumlah titik strategis di ibu kota Israel, termasuk pusat komersial dan kawasan perumahan padat penduduk. Dampak paling mencolok terjadi di daerah pusat kota, di mana kebakaran besar melanda gedung‑gedung tinggi, menimbulkan kepanikan massal dan kerusakan infrastruktur yang signifikan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Israel, Dr. Yael Ben‑Gurion, mengonfirmasi bahwa kebakaran melibatkan lebih dari 30 bangunan, termasuk pusat perbelanjaan, hotel, dan beberapa gedung apartemen. Tim pemadam kebakaran harus mengerahkan lebih dari 250 personel serta 40 kendaraan pemadam untuk memadamkan api yang menyebar ke lantai atas. “Kondisi cuaca yang kering serta intensitas bahan bakar di dalam gedung memperparah penyebaran api,” ujar Ben‑Gurion dalam konferensi pers pada sore hari.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, otoritas medis melaporkan 45 orang terluka, dengan 12 korban luka serius yang dirawat di rumah sakit Hadassah dan Sheba Medical Center. Tidak ada laporan korban jiwa pada tahap awal, namun pejabat kesehatan menegaskan bahwa situasi dapat berubah mengingat potensi komplikasi kesehatan akibat inhalasi asap tebal.

Serangan ini menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan antara Tehran dan Yerusalem. Pemerintah Iran, melalui Menteri Luar Negeri Hossein Amir‑Abdollahian, menyatakan bahwa operasi militer ini merupakan “balasan sah atas serangan Israel di wilayah Gaza.” Pernyataan tersebut menambah kerumitan diplomatik, terutama mengingat tekanan internasional yang terus meningkat untuk menurunkan intensitas konflik di Timur Tengah.

Pemerintah Israel menanggapi dengan tegas, mengumumkan penempatan tambahan pasukan khusus di perbatasan utara serta meningkatkan kesiapan intelijen. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa Israel tidak akan mundur dari pertahanan kedaulatan nasionalnya. “Setiap serangan yang diarahkan pada warga sipil Israel akan kami balas dengan kekuatan maksimal,” ujarnya dalam sebuah pidato yang disiarkan secara live di stasiun televisi nasional.

Reaksi internasional pun beragam. Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi tersebut dan menyerukan penarikan segera semua pihak ke jalur diplomatik. Uni Eropa menambahkan bahwa pelanggaran hukum humaniter internasional tidak dapat dibiarkan, sementara Rusia mengajak kedua belah pihak untuk “menahan diri dan menghindari pertempuran yang dapat menimbulkan korban sipil masif”.

Analisis para pakar keamanan menunjukkan bahwa serangan ini bukan sekadar demonstrasi kekuatan militer Iran, melainkan upaya untuk menguji efektivitas sistem pertahanan Israel yang telah beroperasi selama lebih dari satu dekade. Dr. Amir Levy, pakar strategi militer di Tel Aviv University, menilai bahwa meskipun Iron Dome berhasil menetralkan mayoritas rudal, kemampuan Iran dalam menyelipkan drone bersenjata menunjukkan evolusi taktik yang mengancam kestabilan regional.

Di sisi ekonomi, pasar saham Israel mengalami penurunan tajam pada sesi perdagangan sore, dengan indeks TA‑35 turun 2,3 persen. Investor global menilai peningkatan risiko geopolitik dapat memicu penurunan nilai tukar shekel serta mengganggu aliran investasi asing ke sektor teknologi tinggi yang menjadi tulang punggung ekonomi Israel.

Sementara itu, warga Tel Aviv berusaha kembali ke aktivitas normal meski masih dihadapkan pada pemadaman listrik parsial dan penutupan jalan utama untuk evakuasi. Layanan transportasi umum meluncurkan rute alternatif, dan pusat-pusat perbelanjaan mengumumkan penutupan sementara demi keamanan. “Kami berharap pemerintah dapat mempercepat proses pemulihan, karena kehidupan sehari-hari kami terhenti karena serangan yang tidak terduga ini,” ujar seorang pengusaha lokal di kawasan Dizengoff Center.

Dalam konteks yang lebih luas, serangan ke‑98 ini menandai titik kritis dalam konflik berlarut‑lurus antara Israel dan Iran. Setiap langkah militer selanjutnya dapat berpotensi mengubah dinamika regional, memicu keterlibatan negara‑negara lain, serta memperparah krisis kemanusiaan yang sudah melanda wilayah Gaza dan sekitarnya.

Dengan situasi yang masih belum menentu, pemerintah Israel telah menyiapkan rencana kontinjensi untuk menghadapi kemungkinan serangan lanjutan, termasuk penguatan pertahanan siber dan mobilisasi cadangan militer. Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa operasi militer ini akan berlanjut hingga tujuan politiknya tercapai, tanpa mengindahkan ancaman sanksi internasional.

Kesimpulannya, serangan gelombang ke‑98 yang diluncurkan Iran pada Senin 6 April 2026 menimbulkan dampak destruktif yang signifikan di Tel Aviv, memicu kebakaran hebat, kerusakan infrastruktur, serta menambah ketegangan geopolitik yang sudah memuncak. Respons cepat dari sistem pertahanan Israel, bantuan medis, dan dukungan internasional menjadi faktor penentu dalam mengendalikan situasi yang berpotensi meluas menjadi konflik berskala lebih besar.

Pos terkait