123Berita – 09 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Kepala Badan Gubernur Nasional (BGN) menegaskan bahwa rencana pengadaan motor listrik dalam rangka mendukung Program Motor Berbasis Gas (MBG) akan difokuskan pada Sentra Pengembangan Produksi Garasi (SPPG) yang berlokasi di wilayah dengan akses transportasi terbatas. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang dihadiri oleh pejabat kementerian terkait, perwakilan pemerintah daerah, dan sejumlah pelaku industri otomotif.
Program MBG, yang awalnya dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menurunkan emisi karbon, kini mendapat dukungan tambahan berupa alokasi anggaran khusus untuk pengadaan motor listrik. Alokasi tersebut diproyeksikan mencapai miliaran rupiah dan akan dikelola secara terpusat oleh BGN.
Fokus utama BGN adalah menyalurkan motor listrik melalui SPPG yang telah terintegrasi dengan jaringan distribusi logistik pemerintah. SPPG berperan sebagai titik hub untuk perakitan, perawatan, serta distribusi kendaraan ke wilayah‑wilayah yang sulit dijangkau, seperti daerah pegunungan, pulau‑pulau kecil, dan wilayah perbatasan. Dengan memanfaatkan infrastruktur SPPG, proses pengiriman menjadi lebih efisien dan biaya transportasi dapat ditekan.
Berikut adalah beberapa langkah strategis yang akan diimplementasikan dalam rangka memastikan keberhasilan program distribusi motor listrik:
- Identifikasi wilayah prioritas: BGN bersama Kementerian Perhubungan akan melakukan pemetaan geografis untuk menentukan daerah‑daerah dengan akses transportasi terbatas, tingkat polusi udara tinggi, dan kebutuhan mobilitas yang mendesak.
- Peningkatan kapasitas SPPG: Investasi tambahan akan dialokasikan untuk memperluas fasilitas perakitan dan penyimpanan di SPPG, termasuk penyediaan stasiun pengisian listrik (SPK) yang memadai.
- Kolaborasi dengan produsen motor listrik lokal: BGN akan menjalin kemitraan strategis dengan produsen motor listrik dalam negeri untuk memastikan pasokan unit yang sesuai dengan standar keamanan dan efisiensi energi.
- Program subsidi dan insentif: Pemerintah berencana memberikan subsidi harga kepada konsumen di daerah terpencil serta insentif pajak bagi produsen yang berkontribusi pada program ini.
- Pelatihan teknisi lokal: Untuk mendukung pemeliharaan kendaraan, BGN akan menyelenggarakan pelatihan teknis bagi mekanik di wilayah target, sehingga keberlanjutan operasional terjamin.
Pengumuman ini mendapat sambutan positif dari sejumlah pemangku kepentingan. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menyatakan kesiapan pemerintah provinsi untuk berkoordinasi dengan BGN dalam menyediakan infrastruktur pengisian listrik di daerah‑daerah yang belum terlayani. “Kami siap mendukung pembangunan stasiun pengisian listrik di setiap kabupaten, terutama yang berada di daerah pegunungan,” kata Kamil.
Sementara itu, perwakilan Asosiasi Industri Motor Listrik Indonesia (AIMLI) menilai langkah BGN sebagai dorongan signifikan bagi pertumbuhan industri domestik. “Kebijakan ini tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga mendorong inovasi produk yang lebih sesuai dengan kondisi geografis Indonesia,” ujar Ketua AIMLI, Budi Hartono.
Di sisi lain, beberapa pengamat menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur energi listrik yang andal. Menurut Dr. Siti Nurhaliza, pakar energi terbarukan di Universitas Indonesia, keberhasilan distribusi motor listrik ke daerah terpencil sangat bergantung pada ketersediaan jaringan listrik yang stabil. “Investasi pada pembangkit listrik terbarukan dan jaringan distribusi yang kuat harus menjadi prioritas paralel,” ujar Dr. Siti.
Untuk memastikan transparansi penggunaan dana, BGN berkomitmen mempublikasikan laporan periodik yang memuat rincian alokasi anggaran, jumlah motor yang didistribusikan, serta dampak lingkungan yang dihasilkan. Laporan tersebut akan dapat diakses publik melalui portal resmi BGN.
Program ini diharapkan dapat memberikan dampak ganda: mengurangi emisi karbon di daerah dengan kualitas udara yang masih buruk, sekaligus meningkatkan mobilitas masyarakat yang sebelumnya mengandalkan kendaraan bermesin bensin konvensional atau transportasi umum yang tidak memadai. Dengan motor listrik yang lebih terjangkau dan dukungan infrastruktur, diharapkan tingkat adopsi kendaraan listrik di daerah‑daerah tersebut akan meningkat secara signifikan dalam lima tahun ke depan.
Ke depan, BGN berencana memperluas cakupan program tidak hanya pada motor listrik, tetapi juga pada skuter listrik dan kendaraan listrik roda tiga yang dapat melayani kebutuhan transportasi barang dan penumpang di wilayah‑wilayah pedesaan. Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara dengan emisi karbon terendah di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2030.
Dengan komitmen kuat dari pemerintah pusat, kerja sama lintas sektor, dan dukungan masyarakat, distribusi ribuan motor listrik ke daerah‑daerah sulit dijangkau menjadi langkah konkret menuju mobilitas berkelanjutan dan kualitas lingkungan yang lebih baik.





