123Berita – 04 April 2026 | Veteran gelandang Bhayangkara FC, Radja Nainggolan, mengungkap secara terbuka alasan utama mengapa ia tak lagi dipanggil ke Tim Nasional Belgia sejak 2018. Dalam sebuah wawancara eksklusif, mantan pemain klub Italia seperti Cagliari dan Roma tersebut menelusuri dinamika yang terjadi antara dirinya dan pelatih Timnas Belgia, Roberto Martínez, yang pada saat itu memegang kendali penuh atas skuad merah-putih.
Nainggolan, yang dikenal dengan gaya permainan agresif dan kemampuan menembus lini pertahanan lawan, menyatakan bahwa hubungan profesionalnya dengan Martínez mulai memanas setelah kualifikasi Euro 2020. Menurutnya, perbedaan pandangan taktik serta sikap pribadi menjadi pemicu utama perselisihan. “Saya selalu berusaha memberi yang terbaik di lapangan, namun ada momen ketika arahan Martínez tidak selaras dengan cara saya bermain. Saya merasa tidak diberikan ruang untuk mengekspresikan diri,” ujarnya.
Konflik tersebut bukan sekadar perbedaan taktik. Nainggolan menambahkan bahwa ada isu komunikasi yang tidak terselesaikan secara efektif. “Kami pernah berdiskusi di ruang ganti, namun nada pembicaraan berubah menjadi defensif. Saya tidak ingin memaksa keputusan pelatih, tetapi saya juga tidak ingin menjadi boneka yang tidak bisa berkontribusi secara maksimal,” jelasnya.
Akibat ketegangan tersebut, Nainggolan mengaku secara resmi dikeluarkan dari skuad Timnas Belgia pada akhir tahun 2018. Keputusan itu berujung pada penurunan signifikan jumlah capsnya, hanya menambah satu atau dua penampilan setelah kejadian tersebut. Selama periode itu, Belgia berhasil menembus perempat final Euro 2020, namun Nainggolan tidak termasuk dalam daftar pemain yang dipanggil.
Berbagai analis sepak bola menilai bahwa konflik antara pemain senior dan manajer dapat berdampak negatif pada performa tim secara keseluruhan. Dalam kasus Nainggolan, ketidakhadirannya menciptakan kekosongan di lini tengah, mengurangi variasi serangan yang biasanya mengandalkan energi dan kreativitasnya. Sementara itu, Martínez terus menegaskan filosofi permainan yang lebih mengutamakan pressing tinggi dan pergerakan tanpa bola, yang menurutnya lebih cocok dengan profil pemain muda yang sedang berkembang.
- Perbedaan taktik: Nainggolan mengedepankan permainan fisik dan penetrasi, sementara Martínez lebih mengutamakan pergerakan kolektif.
- Komunikasi yang terhambat: Diskusi di ruang ganti berujung pada ketegangan, bukan solusi.
- Dampak pada caps: Sejak 2018, Nainggolan hanya mencatat satu atau dua penampilan internasional.
Setelah keluar dari tim nasional, Nainggolan memfokuskan diri pada karier klub. Pada awal 2023, ia menandatangani kontrak dengan Bhayangkara FC, klub Liga 1 Indonesia, di mana ia menjadi salah satu bintang asing yang paling berpengaruh. Penampilan gemilangnya di liga Indonesia kembali menegaskan kualitasnya, meski tetap tidak membuka pintu kembali ke timnas Belgia.
Selain faktor taktik, Nainggolan juga menyebut adanya tekanan psikologis yang muncul akibat ekspektasi publik dan media Belgia. “Setiap kali saya disebut-sebut akan kembali dipanggil, itu menambah beban mental. Saya lebih memilih fokus pada klub dan keluarga daripada terus menerus menunggu keputusan yang tak pasti,” katanya.
Perspektif lain datang dari mantan rekan satu tim, yang menyatakan bahwa Nainggolan selalu memiliki sikap profesional, namun tidak dapat dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan gaya permainan yang berbeda secara radikal. “Dia adalah pemain yang jujur dan berdedikasi. Jika taktik tidak cocok, lebih baik keduanya mencari jalan keluar yang menguntungkan semua pihak,” ujar mantan rekan satu timnya secara anonim.
Menilik kembali perjalanan karier internasional Nainggolan, ia pernah menjadi bagian penting dalam skuad Belgia yang berhasil melaju ke perempat final Piala Dunia 2018. Namun, konflik internal dengan pelatih baru pada saat itu menjadi titik balik yang mengakhiri babak tersebut. Meskipun demikian, ia tetap menjadi sosok yang dihormati di dunia sepak bola, baik di Eropa maupun di Asia.
Ke depannya, Nainggolan menegaskan bahwa ia tidak menutup kemungkinan kembali ke timnas bila ada perubahan manajemen atau kebijakan yang lebih inklusif. “Jika ada peluang yang adil dan saya masih dapat memberi kontribusi, saya akan dengan senang hati mempertimbangkan kembali panggilan tersebut,” ujarnya dengan nada optimis.
Secara keseluruhan, konflik antara Radja Nainggolan dan Roberto Martínez menggarisbawahi pentingnya komunikasi terbuka dan keselarasan taktik dalam sebuah tim nasional. Kisah ini menjadi pelajaran bagi pelatih dan pemain untuk selalu mencari titik temu demi kepentingan bersama, terutama ketika menata skuad yang mengincar prestasi di panggung internasional.





