Purbaya Tegaskan World Bank Salah Hitung Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,7%

Purbaya Tegaskan World Bank Salah Hitung Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,7%
Purbaya Tegaskan World Bank Salah Hitung Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,7%

123Berita – 09 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Purbawati (yang akrab disapa Purbaya), kembali menegaskan keraguan terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dikeluarkan oleh World Bank. Menurutnya, perkiraan pertumbuhan sebesar 4,7 persen yang dipublikasikan pada kuartal pertama tahun ini mengandung kesalahan perhitungan yang signifikan, terutama pada asumsi harga minyak dunia yang dipengaruhi oleh konflik militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan media nasional, Purbaya mengungkapkan bahwa World Bank tampaknya belum mengakomodasi dinamika geopolitik terbaru yang memengaruhi harga komoditas utama, khususnya minyak mentah. “Kami memantau secara intensif fluktuasi harga minyak yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah. Jika asumsi World Bank tetap menganggap harga minyak tinggi secara konstan, maka proyeksi pertumbuhan ekonomi kami akan terdistorsi,” ujar Purbaya dengan nada tegas.

Bacaan Lainnya

World Bank, dalam laporan terbarunya, memperkirakan bahwa Indonesia akan mencatat pertumbuhan real GDP sebesar 4,7 persen pada tahun 2026, dengan asumsi harga minyak tetap pada level tinggi selama setahun penuh. Purbaya menilai bahwa asumsi tersebut terlalu konservatif dan tidak mempertimbangkan kebijakan penyesuaian tarif energi, subsidi, serta langkah-langkah fiskal yang telah diambil pemerintah sejak akhir 2025. “Kami telah melakukan penyesuaian tarif energi yang progresif, memperkuat subsidi listrik bagi rumah tangga berpendapatan rendah, serta meningkatkan investasi dalam energi terbarukan. Semua langkah ini akan menahan dampak negatif harga minyak,” jelasnya.

Selain faktor harga minyak, Purbaya juga menyoroti peran sektor manufaktur dan ekspor non‑migas yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan kuat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan produksi industri pengolahan sebesar 6,3 persen pada kuartal terakhir 2025, serta pertumbuhan ekspor barang non‑migas mencapai 8,1 persen secara tahunan. Purbaya menilai bahwa fondasi ekonomi Indonesia yang berbasis pada konsumsi domestik dan industri manufaktur memberikan bantalan yang cukup untuk menahan gejolak harga energi global.

Para analis ekonomi di dalam negeri pun mulai meninjau kembali estimasi World Bank. Sebagian besar institusi keuangan swasta dan lembaga riset independen mengeluarkan perkiraan pertumbuhan yang lebih optimis, berkisar antara 5,0 hingga 5,5 persen untuk tahun 2026. Mereka mengacu pada indikator leading seperti indeks kepercayaan bisnis yang naik, peningkatan investasi asing langsung (FDI) yang mencapai US$12,5 miliar pada 2025, serta kebijakan moneter yang tetap akomodatif dengan suku bunga acuan Bank Indonesia berada pada 5,75 persen.

Namun, Purbaya menegaskan bahwa perbedaan pandangan tersebut tidak menutup kemungkinan adanya revisi proyeksi dari World Bank di masa mendatang. Ia mengajak lembaga internasional tersebut untuk memperbaharui model perhitungan mereka dengan memasukkan variabel geopolitik yang lebih dinamis, serta memperhitungkan kebijakan domestik Indonesia yang adaptif. “Kami siap berdialog dengan World Bank dan lembaga keuangan lainnya untuk memastikan bahwa proyeksi ekonomi yang dipublikasikan mencerminkan realitas di lapangan,” pungkasnya.

Dengan menyoroti kesalahan perhitungan ini, Purbaya berharap dapat menegaskan kembali kepercayaan investor dan publik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Ia menekankan bahwa Indonesia tetap berada pada jalur pertumbuhan yang berkelanjutan, didukung oleh reformasi struktural, peningkatan produktivitas, dan upaya diversifikasi sumber energi. Sejauh ini, pemerintah tetap berkomitmen pada target pertumbuhan tahunan sebesar 5,0 hingga 5,5 persen dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025‑2029, sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan menekan inflasi ke level yang dapat diterima.

Pos terkait