123Berita – 08 April 2026 | Giuseppe Marotta, presiden Inter Milan, menegaskan bahwa tim nasional Italia sedang berada dalam krisis talenta muda setelah gagal lolos dari tiga edisi Piala Dunia berturut‑turut. Menurut Marotta, kegagalan tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan gejala sistemik dalam pengembangan pemain muda di negara yang dulu mendominasi sepak bola Eropa.
“Kami di Inter selalu berkomitmen mengembangkan generasi berikutnya, namun realitas di Italia menunjukkan adanya kekosongan,” ujar Marotta dalam sebuah wawancara eksklusif. Ia menambahkan, “Jika tidak ada upaya terkoordinasi antara klub, federasi, dan akademi, Azzurri akan terus kehilangan peluang di panggung internasional.”
Kegagalan tiga kali berturut‑turut (2022, 2026, dan 2030) menempatkan Italia dalam posisi yang jarang terjadi dalam sejarah sepak bola negara tersebut. Sebelumnya, tim nasional Italia pernah mengalami masa sulit pada awal 2010‑an, namun berhasil bangkit dengan menjuarai Euro 2020. Marotta menilai bahwa kebangkitan tersebut didorong oleh investasi besar pada akademi dan kebijakan yang memprioritaskan pemain berusia 18‑23 tahun, sesuatu yang kini dianggap telah berkurang.
Berbagai faktor menjadi sorotan utama Marotta:
- Keterbatasan akademi muda: Banyak klub Serie A mengurangi dana untuk akademi, beralih fokus pada pembelian pemain asing yang siap pakai.
- Kurangnya kesempatan bermain: Pemain muda seringkali hanya mendapat waktu singkat di kompetisi domestik, sehingga pengalaman kompetitif terbatas.
- Strategi taktik yang konservatif: Pelatih nasional cenderung mengandalkan formasi tradisional, mengurangi ruang bagi pemain kreatif muda untuk mengekspresikan diri.
Marotta mencontohkan keberhasilan klub seperti Inter Milan yang menempatkan pemain berusia 19‑21 tahun dalam skuad utama. “Kami percaya memberi peluang pada talenta muda tidak hanya meningkatkan kualitas tim, tetapi juga memicu semangat kompetitif di seluruh liga,” katanya.
Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) telah merespons kritik dengan mengumumkan program revitalisasi akademi pada akhir 2024, termasuk peningkatan dana, pelatihan pelatih, dan kemitraan dengan klub-klub luar negeri. Namun, Marotta menilai langkah tersebut masih terlalu lambat. “Kami butuh hasil konkret dalam dua atau tiga tahun ke depan, bukan sekadar rencana di atas kertas,” tegasnya.
Analisis para pengamat sepak bola menambahkan bahwa krisis ini juga dipengaruhi oleh perubahan demografis dan budaya olahraga di Italia. Minat generasi muda beralih ke olahraga lain atau hiburan digital, mengurangi basis pemain potensial. Selain itu, regulasi transfer pemain muda ke luar negeri masih ketat, membatasi eksposur mereka pada kompetisi tingkat tinggi.
Dalam upaya mengatasi masalah tersebut, Marotta mengusulkan tiga langkah utama:
- Mengintegrasikan kebijakan “homegrown” yang mewajibkan klub Serie A menurunkan minimal 8 pemain buatan mereka di setiap pertandingan liga.
- Menetapkan kompetisi usia U‑21 yang terstruktur, dengan eksposur media yang lebih besar untuk menarik sponsor dan penonton.
- Mengadakan program pertukaran pelatih dan pemain dengan klub-klub top Eropa, guna meningkatkan standar pelatihan.
Jika langkah-langkah ini diimplementasikan, Marotta optimis Italia dapat kembali bersaing di level tertinggi. “Kita pernah menjadi standar emas sepak bola dunia. Saatnya kembali ke jalur itu dengan memanfaatkan potensi generasi muda,” ujarnya.
Meski tantangan masih besar, harapan tetap ada. Inter Milan terus berinvestasi pada akademi “Inter Campus” yang telah melahirkan beberapa bintang muda, serta memperkuat jaringan scouting di seluruh Italia. Keberhasilan inisiatif tersebut dapat menjadi contoh bagi klub lain dan memberi sinyal kuat kepada FIGC untuk mempercepat reformasi.
Dengan tekanan publik yang semakin tinggi, terutama dari suporter yang menuntut prestasi di turnamen internasional, krisis talenta muda menjadi agenda utama dalam diskusi sepak bola Italia. Apakah kebijakan baru akan mampu mengubah nasib Azzurri? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: tanpa generasi muda yang kuat, impian meraih trofi besar akan semakin sukar dicapai.





