123Berita – 08 April 2026 | Dalam sebuah pernyataan yang menegaskan posisi strategis Indonesia di peta maritim dunia, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menyoroti betapa pentingnya laut kepulauan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi kawasan Asia Timur serta menjadi poros utama perdagangan internasional. Prabowo menekankan bahwa sekitar 70 persen energi yang dikonsumsi negara‑negara di Asia Timur, termasuk minyak, gas, dan bahan bakar alternatif, mengalir melalui Selat Malaka, Selat Sunda, dan jalur‑jalur laut lainnya yang berada di dalam wilayah kedaulatan Indonesia.
Selain peran vital dalam sektor energi, Prabowo menambahkan bahwa laut Indonesia juga menjadi jalur utama bagi perdagangan dunia. Lebih dari setengah volume perdagangan internasional melintasi jalur laut yang melintasi perairan Indonesia, menjadikan kawasan ini sebagai “ruas hidup” bagi pertumbuhan ekonomi global. “Kita tidak hanya menjadi jalur, tetapi juga penjaga, sehingga keamanan dan kelancaran arus barang harus menjadi prioritas nasional,” tegasnya.
Berikut beberapa poin utama yang disorot Prabowo dalam paparan tersebut:
- Posisi Geografis Strategis: Indonesia menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa, yang merupakan pintu gerbang utama bagi kapal tanker, kontainer, dan kapal kargo lainnya.
- Ketergantungan Energi Asia Timur: Sekitar 70% kebutuhan energi negara‑negara di Asia Timur, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan China, bergantung pada rute laut yang melewati wilayah Indonesia.
- Kontribusi Terhadap Perdagangan Global: Lebih dari 50% nilai perdagangan dunia melewati perairan Indonesia, mencakup ekspor‑ekspor utama seperti elektronik, tekstil, dan barang konsumsi.
- Keamanan Maritim: Penegakan hukum di laut, patroli kapal patroli, serta kerja sama internasional menjadi kunci untuk mencegah gangguan seperti pembajakan, penyelundupan, dan konflik teritorial.
- Pengembangan Infrastruktur: Pemerintah berkomitmen meningkatkan fasilitas pelabuhan, sistem navigasi, dan teknologi monitoring untuk memastikan kelancaran arus barang dan energi.
Prabowo juga menyinggung upaya pemerintah dalam memperkuat kedaulatan maritim melalui revisi Undang‑Undang Keamanan Laut dan peningkatan anggaran pertahanan. Ia menekankan pentingnya sinergi antara TNI‑AL, Badan Keamanan Laut (Bakamla), serta lembaga‑lembaga terkait lainnya dalam rangka menanggulangi ancaman yang semakin kompleks, termasuk kejahatan siber yang mengincar sistem pelayaran.
Dalam konteks geopolitik, pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal kepada negara‑negara besar bahwa Indonesia tidak hanya menjadi “jalan” bagi mereka, melainkan juga pemegang kunci yang dapat mempengaruhi dinamika energi dan perdagangan regional. Prabowo menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia akan tetap mengedepankan prinsip kebebasan berlayar, perlindungan terhadap kepentingan nasional, serta kerja sama multilateral yang berlandaskan pada hukum internasional.
Selain menyoroti aspek ekonomi dan keamanan, Prabowo menyinggung pula tantangan lingkungan yang muncul seiring dengan meningkatnya lalu lintas maritim. “Kita harus memastikan bahwa peningkatan aktivitas laut tidak mengorbankan ekosistem laut, terutama terumbu karang dan keanekaragaman hayati,” katanya, menambahkan bahwa pemerintah sedang mengembangkan program mitigasi pencemaran laut serta memperkuat regulasi mengenai emisi kapal.
Menutup pernyataan, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa—pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil—untuk berperan aktif dalam mengoptimalkan potensi maritim Indonesia. Ia menekankan bahwa keamanan, kelancaran, dan keberlanjutan jalur laut Indonesia menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi nasional serta kontribusi Indonesia terhadap stabilitas regional dan global.
Dengan menegaskan kembali peran vital laut Indonesia, Prabowo berharap kebijakan yang diambil akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat energi dan perdagangan, sekaligus menjaga kedaulatan dan keberlanjutan sumber daya laut bagi generasi mendatang.





