123Berita – 09 April 2026 | Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Prabowo Subianto, menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk menggerakkan sektor energi terbarukan melalui pembangunan Pusat Olah Sawit (POS) yang terintegrasi dengan fasilitas konversi jelantah menjadi bahan bakar avtur. Pengumuman tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri pejabat kementerian, perwakilan industri kelapa sawit, dan para investor domestik serta asing.
POS yang direncanakan akan berlokasi di kawasan strategis Provinsi Riau, mengingat konsentrasi perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia berada di sana. Fasilitas ini tidak hanya akan memproses tandan buah segar (TBS) menjadi minyak kelapa sawit (CPO) dan minyak inti sawit (CIO), tetapi juga dilengkapi unit pengolahan limbah organik—jelantah—menjadi bahan bakar avtur berkualitas tinggi. Menurut Prabowo, integrasi dua lini produksi tersebut akan menurunkan biaya produksi, meningkatkan nilai tambah, serta mengurangi jejak karbon industri kelapa sawit.
Teknologi konversi jelantah menjadi avtur yang dipilih adalah proses hidrogenasi katalitik berbasis hidrogen hijau, yang memanfaatkan listrik bersih dari pembangkit tenaga surya atau pembangkit listrik tenaga air di sekitar kawasan. Proses ini mengubah lemak dan asam bebas dalam jelantah menjadi hidrokarbon yang memenuhi standar Internasional Civil Aviation Organization (ICAO) untuk bahan bakar penerbangan. Keunggulan utama teknologi ini terletak pada efisiensi tinggi, emisi CO₂ yang jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil, serta potensi penggunaan kembali residu sebagai pupuk organik.
Investasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan POS dan fasilitas avtur diproyeksikan mencapai lebih dari USD 2 miliar. Sebagian besar dana berasal dari skema public‑private partnership (PPP), dengan partisipasi modal dari perusahaan kelapa sawit terkemuka, lembaga keuangan internasional yang bergerak di bidang energi bersih, serta dana investasi pemerintah. Selain itu, pemerintah menyiapkan insentif fiskal, keringanan pajak, dan kemudahan perizinan untuk menarik lebih banyak pemain asing yang memiliki kompetensi teknologi tinggi.
- Penurunan emisi karbon nasional hingga 1,5 juta ton CO₂ per tahun.
- Penciptaan lebih dari 15.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung.
- Peningkatan nilai ekspor avtur berbasis biofuel.
- Penguatan ketahanan energi dan diversifikasi sumber energi domestik.
Rencana tersebut sejalan dengan agenda nasional untuk mencapai target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025. Dengan mengolah jelantah menjadi avtur, pemerintah tidak hanya memanfaatkan limbah yang selama ini menjadi tantangan lingkungan, melainkan juga membuka peluang pasar baru bagi industri penerbangan Indonesia, yang selama ini masih sangat tergantung pada impor bahan bakar jet.
Namun, pelaksanaan proyek ini tidak lepas dari tantangan. Ketersediaan hidrogen hijau dalam jumlah besar masih menjadi kendala utama, mengingat infrastruktur produksi hidrogen di Indonesia masih dalam tahap pengembangan. Selain itu, kebutuhan akan tenaga ahli dalam bidang kimia proses dan rekayasa katalis menuntut kerjasama intensif dengan universitas dan lembaga riset. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah berencana membentuk pusat inovasi teknologi (Innovation Hub) yang akan menyatukan akademisi, industri, dan startup guna mempercepat transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia.
Jadwal pembangunan POS diharapkan dimulai pada kuartal pertama tahun 2027, dengan fase pertama berupa pembangunan pabrik pengolahan minyak sawit dan instalasi pra‑proses jelantah. Fase kedua, yaitu instalasi konversi avtur, dijadwalkan selesai pada akhir 2029. Pada akhir 2030, fasilitas tersebut diharapkan beroperasi penuh dengan kapasitas produksi avtur mencapai 200.000 barrel per tahun, cukup untuk melayani sebagian kebutuhan bahan bakar maskapai penerbangan domestik.
Secara keseluruhan, inisiatif Prabowo ini menandai langkah strategis Indonesia dalam mengubah sektor agribisnis tradisional menjadi pilar energi berkelanjutan. Dengan mengoptimalkan rantai nilai kelapa sawit—dari kebun hingga bahan bakar penerbangan—pemerintah berharap dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta memberikan kontribusi signifikan dalam upaya mitigasi perubahan iklim global.





