Prabowo Dorong Indonesia Kembangkan Jagoan Otomotif Seperti Jepang dan Korea Selatan

123Berita – 09 April 2026 | Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subiatan, menegaskan kembali tekad pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen mobil terdepan di Asia, mencontoh keberhasilan industri otomotif Jepang dan Korea Selatan. Dalam sebuah pernyataan publik, Prabowo menyoroti pentingnya menciptakan pabrikan mobil nasional yang tidak hanya kompetitif di pasar domestik, tetapi juga mampu menembus pasar ekspor dengan kualitas kelas dunia.

Prabowo juga menyinggung tentang proyek VKTR (Vehicle Korea Technology Research), sebuah inisiatif yang sedang dikembangkan untuk menghasilkan kendaraan listrik berbasis teknologi Korea. “Berapa tahun lagi kita akan melihat VKTR menjadi champion sejati bagi Indonesia?” tanyanya retoris, mengisyaratkan bahwa pencapaian tersebut bukan sekadar impian, melainkan target yang dapat dicapai dalam dekade berikutnya.

Bacaan Lainnya

Berikut beberapa langkah strategis yang diusulkan Prabowo untuk mengakselerasi perkembangan industri otomotif nasional:

  • Peningkatan investasi asing langsung (FDI): Menyederhanakan perizinan dan memberikan insentif fiskal bagi produsen mobil asing yang berkomitmen membangun pabrik di dalam negeri, sekaligus menyalurkan teknologi canggih ke dalam rantai pasok lokal.
  • Pengembangan sumber daya manusia: Mendorong kolaborasi antara universitas, vokasi, dan industri untuk menciptakan kurikulum yang berfokus pada engineering, desain, serta manufaktur kendaraan listrik.
  • Penguatan rantai pasok domestik: Mengoptimalkan produksi komponen kritis seperti baterai, motor listrik, dan sistem elektronik melalui kebijakan pembelian dalam negeri (local content) dan dukungan pembiayaan bagi supplier lokal.
  • Regulasi ramah inovasi: Menetapkan standar keselamatan dan emisi yang sejalan dengan standar internasional, namun tetap memberi ruang bagi inovasi lokal untuk berkembang.
  • Dukungan riset dan pengembangan (R&D): Membentuk dana khusus untuk penelitian kendaraan ramah lingkungan, termasuk teknologi hibrida, sel bahan bakar, dan kendaraan otonom.

Selain langkah-langkah tersebut, Prabowo menekankan pentingnya memanfaatkan pasar domestik yang luas sebagai laboratorium uji coba. “Kita dapat menjadikan Indonesia sebagai sandbox bagi mobil listrik, sehingga produsen dapat mengoptimalkan produk sebelum meluncurkannya ke pasar global,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah juga diharapkan meningkatkan jaringan infrastruktur pendukung, seperti stasiun pengisian listrik (SPKLU) yang tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Dengan memperluas jaringan tersebut, adopsi kendaraan listrik akan lebih cepat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Prabowo menambahkan bahwa kebijakan fiskal, termasuk insentif pajak bagi pembeli mobil listrik, akan mempercepat peralihan ke kendaraan ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam perjanjian Paris dan target pengurangan emisi karbon nasional.

Secara historis, Jepang dan Korea Selatan berhasil menciptakan ekosistem otomotif yang kuat melalui kombinasi kebijakan pemerintah, dukungan industri, serta inovasi teknologi berkelanjutan. Jepang, dengan merek-merek seperti Toyota, Honda, dan Nissan, menekankan pada kualitas, efisiensi produksi (lean manufacturing), dan pengembangan kendaraan hybrid. Sementara Korea Selatan, melalui Hyundai dan Kia, menonjolkan desain modern, teknologi infotainment, dan strategi pemasaran agresif di pasar global.

Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan pertumbuhan kelas menengah yang signifikan, memiliki peluang besar untuk meniru model-model tersebut. Namun, tantangan utama tetap pada kesiapan infrastruktur, kualitas tenaga kerja, dan akses ke teknologi tinggi. Prabowo mengakui bahwa tantangan tersebut tidak dapat diatasi dalam semalam, namun menekankan pentingnya komitmen jangka panjang.

Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, pemerintah berencana menyusun Rencana Induk Industri Otomotif (RIIO) yang terintegrasi dengan Rencana Induk Nasional (RIN). Dokumen ini diharapkan menjadi panduan bagi semua pemangku kepentingan, mulai dari kementerian terkait, asosiasi industri, hingga pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang bergerak di bidang suku cadang.

Kesimpulannya, harapan Prabowo untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen mobil kelas dunia tidak hanya bersifat retoris. Dengan pendekatan yang terstruktur—menggabungkan kebijakan fiskal, investasi, pengembangan SDM, serta peningkatan infrastruktur—Indonesia memiliki peluang nyata untuk melahirkan “jagoan otomotif” yang dapat bersaing dengan Jepang dan Korea Selatan. Keberhasilan tersebut akan menambah nilai ekspor, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung transisi energi bersih di tanah air.

Pos terkait