PLN Percepat Pembangunan Jaringan Listrik Batola, Menjangkau Dusun Terpencil di Kalsel

PLN Percepat Pembangunan Jaringan Listrik Batola, Menjangkau Dusun Terpencil di Kalsel
PLN Percepat Pembangunan Jaringan Listrik Batola, Menjangkau Dusun Terpencil di Kalsel

123Berita – 05 April 2026 | PT PLN Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan Kalimantan Selatan (UP2K Kalsel) kembali menegaskan komitmen pemerintah dalam memperluas jangkauan listrik ke wilayah-wilayah terpencil. Program akselerasi pembangunan jaringan listrik Batola menjadi fokus utama, dengan target menyentuh lebih banyak desa dan dusun yang selama ini belum terhubung ke jaringan PLN.

Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak akan pemerataan akses energi, khususnya di daerah pedalaman Kalimantan Selatan. Selama beberapa tahun terakhir, banyak wilayah di Kabupaten Barito Kuala, Tabalong, dan Hulu Sungai Utara masih mengandalkan sumber energi alternatif yang tidak stabil, menghambat pertumbuhan ekonomi lokal serta kualitas hidup masyarakat.

Bacaan Lainnya

Dalam rangka menutup kesenjangan tersebut, UP2K Kalsel menyiapkan rencana strategis yang meliputi penambahan tiang listrik, instalasi gardu induk mini, serta pengembangan jaringan distribusi hingga ke dusun‑dusun paling jauh. Seluruh kegiatan direncanakan beroperasi secara simultan, sehingga proses pembangunan dapat dipercepat dibandingkan program konvensional yang biasanya memakan waktu bertahun‑tahun.

Selain aspek ekonomi, proyek ini juga menitikberatkan pada aspek sosial. Masyarakat di dusun‑dusun terpencil kini dapat menikmati pencahayaan yang memadai, mengakses layanan kesehatan secara lebih optimal melalui fasilitas klinik yang berbasis listrik, serta memperluas akses pendidikan dengan penggunaan perangkat digital di sekolah‑sekolah.

Pelaksanaan proyek mendapat dukungan kuat dari pemerintah daerah, yang menyediakan lahan strategis untuk pembangunan gardu induk serta memfasilitasi perizinan. Koordinasi lintas sektoral antara Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalsel, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), serta lembaga‑lembaga kemasyarakatan memastikan bahwa setiap tahapan pembangunan dapat berjalan tanpa hambatan signifikan.

Untuk mengatasi tantangan geografis, PLN mengadopsi teknologi terkini seperti penggunaan tiang listrik berbahan komposit yang tahan korosi dan lebih ringan, serta sistem pemantauan jaringan berbasis Internet of Things (IoT). Dengan monitoring real‑time, tim teknis dapat mendeteksi gangguan atau kerusakan jaringan secara cepat, sehingga mempercepat proses perbaikan dan meminimalkan downtime.

Proses penyaluran listrik ke dusun‑dusun terpencil juga melibatkan pelatihan masyarakat setempat. Tim teknisi PLN bersama mitra lokal menyelenggarakan workshop tentang pemeliharaan jaringan, penggunaan peralatan listrik yang aman, serta pentingnya penghematan energi. Upaya edukasi ini diharapkan dapat menciptakan budaya pemeliharaan infrastruktur yang berkelanjutan.

Dalam hal pembiayaan, proyek ini didanai melalui anggaran negara serta skema kerjasama publik‑swasta (PPP). Beberapa perusahaan energi lokal berpartisipasi sebagai investor strategis, menyediakan peralatan dan bahan baku dengan harga bersaing. Model pembiayaan yang fleksibel ini memungkinkan percepatan realisasi proyek tanpa mengorbankan kualitas.

Sejauh ini, respons masyarakat terhadap program ini sangat positif. Warga desa Batola, salah satu titik fokus pembangunan, menyatakan rasa haru dan antusiasme karena listrik kini menjangkau rumah‑rumah yang sebelumnya harus mengandalkan lampu minyak atau generator diesel yang mahal. “Kini anak‑anak kami bisa belajar di malam hari tanpa harus menunggu matahari terbenam,” ujar salah satu kepala desa.

Pencapaian ini juga diharapkan dapat meningkatkan indikator pembangunan manusia (IPM) di wilayah Kalimantan Selatan. Akses listrik yang memadai berkontribusi pada peningkatan produktivitas, penurunan kemiskinan, serta peningkatan kualitas layanan publik.

UP2K Kalsel menargetkan penyelesaian seluruh fase pembangunan jaringan listrik Batola pada akhir tahun 2025. Jika target tercapai, total rumah tangga yang terhubung listrik diperkirakan akan mencapai lebih dari 150.000 unit, menandai peningkatan signifikan dibandingkan data tahun 2022.

Secara keseluruhan, percepatan jaringan listrik Batola tidak hanya sekadar proyek infrastruktur, melainkan katalisator perubahan sosial‑ekonomi yang menyeluruh. Dengan sinergi antara pemerintah, PLN, dan masyarakat, harapan akan masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan di daerah‑daerah terpencil kini semakin nyata.

Pos terkait