123Berita – 08 April 2026 | Ketegangan militer yang memuncak di Teluk Persia, khususnya konflik antara Iran dan koalisi internasional, menimbulkan ancaman serius tidak hanya bagi keamanan energi dunia, tetapi juga bagi stabilitas pasokan pangan global. Penutupan potensial Selat Hormuz—jalur penyebrangan minyak dan gas terbesar di dunia—dapat memicu guncangan harga pangan yang meluas, mempengaruhi negara‑negara produsen sekaligus konsumen.
Selat Hormuz menyumbang sekitar 20 persen volume minyak mentah dunia serta sebagian besar bahan bakar kapal tanker yang mengangkut komoditas pertanian. Jika jalur ini terganggu, biaya transportasi laut diperkirakan akan melonjak 30‑50 persen, menambah beban logistik pada rantai pasok gandum, jagung, dan kedelai. Dampaknya tidak terbatas pada peningkatan harga, melainkan dapat memicu kelangkaan di pasar yang sudah rapuh akibat perubahan iklim dan konflik sebelumnya.
Berbagai analisis menunjukkan bahwa penutupan Selat Hormuz akan mengganggu tiga pilar utama pasokan pangan global:
- Pengiriman bahan bakar untuk kapal pengangkut komoditas: Peningkatan biaya bahan bakar menurunkan margin keuntungan pelayaran, memaksa operator mengurangi frekuensi atau beralih ke rute yang lebih panjang, meningkatkan waktu transit dan biaya.
- Pasokan pupuk nitrogen: Sebagian besar pupuk urea dunia diproduksi dengan gas alam sebagai bahan baku. Gangguan pasokan energi mengakibatkan kenaikan harga gas alam, yang pada gilirannya menaikkan harga pupuk secara signifikan. Negara‑negara agraris, terutama di Afrika dan Asia, akan menghadapi penurunan produksi tanaman utama.
- Stabilitas harga pangan di pasar domestik: Negara dengan ketergantungan impor tinggi, seperti Inggris, Jepang, dan banyak negara di Afrika, berisiko mengalami inflasi pangan yang tajam, memperparah tekanan pada rumah tangga berpendapatan rendah.
Di Inggris, penutupan Selat Hormuz diproyeksikan dapat menambah biaya impor makanan hingga 8‑10 persen dalam jangka pendek. Pemerintah Inggris telah menyiapkan cadangan strategis, namun stok terbatas tidak dapat menutup kesenjangan jangka panjang jika gangguan berlanjut lebih dari enam bulan.
Di sisi lain, Cina, sebagai konsumen terbesar pupuk nitrogen, telah berusaha mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri dengan meningkatkan produksi urea berbasis batu bara. Kebijakan ini memberikan bantalan sementara bagi petani Cina, namun menambah beban emisi karbon dan tidak menyelesaikan masalah ketidakstabilan pasokan global.
Para ahli juga menyoroti risiko sistemik yang lebih luas. Menurut sebuah studi, gangguan pada jalur logistik utama dapat menurunkan volume perdagangan pangan internasional hingga 12 persen pada tahun pertama, dengan efek domino pada harga beras, gandum, dan kedelai. Negara‑negara yang belum memiliki cadangan pangan strategis akan mengalami tekanan inflasi yang dapat memicu kerusuhan sosial.
Berikut adalah perkiraan dampak ekonomi dari skenario penutupan Selat Hormuz selama satu tahun:
| Indikator | Proyeksi Dampak |
|---|---|
| Kenaikan biaya pengapalan | 30‑50% (USD 200‑300 per ton) |
| Kenaikan harga pupuk urea | 15‑25% (USD 400‑500 per ton) |
| Kenaikan harga gandum dunia | 8‑12% (USD 250‑300 per ton) |
| Inflasi pangan di negara impor tinggi | 4‑6% tambahan pada indeks inflasi |
Selain faktor ekonomi, konflik di Teluk Persia mengungkapkan kerentanan struktural dalam sistem pangan global. Ketergantungan pada rute pelayaran tunggal menempatkan negara‑negara pada posisi defensif ketika geopolitik berubah. Para pembuat kebijakan kini dipanggil untuk memperkuat ketahanan pangan melalui diversifikasi rute logistik, peningkatan produksi dalam negeri, serta investasi pada teknologi pertanian berkelanjutan.
Langkah-langkah mitigasi yang sedang dipertimbangkan meliputi:
- Pengembangan pelabuhan alternatif di Laut Merah dan Laut Hitam untuk mengurangi beban pada Selat Hormuz.
- Peningkatan stok strategis pupuk dan biji-bijian di negara‑negara rentan.
- Investasi dalam produksi pupuk berbasis energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada gas alam.
- Peningkatan efisiensi rantai pasok melalui digitalisasi dan pelacakan real‑time.
Kesimpulannya, konflik yang berlangsung di Teluk Persia berpotensi menimbulkan guncangan pangan global yang meluas, memengaruhi harga, ketersediaan, dan keamanan pangan di hampir seluruh dunia. Respons cepat dan koordinasi internasional menjadi kunci untuk mencegah krisis yang dapat memperburuk ketidaksetaraan ekonomi dan memicu ketidakstabilan sosial.





