Pendekatan Unik Razka Robby Ertanto dalam Menggandeng Anak-anak Sumba untuk Film ‘YOHANNA’

Pendekatan Unik Razka Robby Ertanto dalam Menggandeng Anak-anak Sumba untuk Film 'YOHANNA'
Pendekatan Unik Razka Robby Ertanto dalam Menggandeng Anak-anak Sumba untuk Film 'YOHANNA'

123Berita – 09 April 2026 | Jakarta, KapanLagi.com – Sutradara muda Razza Robby Ertanto kembali menunjukkan kreativitasnya yang tak terbatas dalam proses produksi film drama “YOHANNA“. Alih-alih mengandalkan pemeran anak profesional dari kota besar, Ertanto memutuskan menelusuri pulau Sumba, mengundang anak-anak lokal untuk menjadi bagian integral dari cerita yang tengah digarap. Keputusan tersebut bukan sekadar eksperimen estetika, melainkan upaya mendalam untuk menambah keaslian budaya serta menumbuhkan rasa kebersamaan antara tim produksi dan komunitas setempat.

Ertanto mengawali langkahnya dengan melakukan riset intensif mengenai adat istiadat, bahasa, serta kebiasaan sehari-hari masyarakat Sumba. Ia mengunjungi desa-desa terpencil, berinteraksi dengan kepala desa, tokoh adat, dan para orangtua. Selama kunjungan tersebut, sutradara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai persepsi anak-anak terhadap dunia seni dan film, sekaligus menilai kesiapan mereka untuk berpartisipasi dalam proses syuting yang menuntut disiplin dan konsistensi.

Bacaan Lainnya

Setelah memperoleh izin resmi dari pemerintah daerah dan lembaga adat, Ertanto menyelenggarakan serangkaian lokakarya kreatif selama dua minggu. Lokakarya tersebut tidak hanya berfokus pada teknik akting, melainkan juga meliputi permainan tradisional, tarian, serta pembuatan kostum sederhana yang mengacu pada pakaian adat Sumba. Dengan melibatkan guru lokal, para peserta dapat belajar sambil tetap mempertahankan nuansa edukatif yang tidak mengganggu ritus harian mereka.

Strategi unik Ertanto terletak pada pendekatan personal yang ia terapkan kepada setiap anak. Ia memperkenalkan diri secara informal, mengundang mereka untuk bermain di lapangan terbuka, serta mendengarkan cerita-cerita mereka tentang kehidupan di Sumba. Melalui proses ini, rasa percaya terbentuk, memungkinkan anak-anak merasa nyaman berada di depan kamera. Ertanto menekankan pentingnya bahasa tubuh dan ekspresi alami, sehingga adegan-adegan yang dihasilkan tidak terkesan dipaksakan.

  • Menggunakan bahasa lokal: Seluruh arahan diberikan dalam bahasa Sumba, yang membantu meminimalisir kebingungan dan meningkatkan kedalaman emosional pada setiap adegan.
  • Pengaturan jadwal fleksibel: Mengingat aktivitas pertanian dan upacara adat yang menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka, tim produksi menyesuaikan jadwal syuting sehingga tidak mengganggu rutinitas harian anak-anak.
  • Penghargaan simbolik: Setiap anak yang terlibat menerima sertifikat penghargaan serta pakaian tradisional sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka.

Selain aspek teknis, Ertanto juga berupaya menumbuhkan rasa kepemilikan atas karya yang sedang dibuat. Ia mengajak para anak untuk memberikan masukan tentang adegan-adegan yang dirasa kurang autentik atau tidak sesuai dengan realitas mereka. Pendekatan kolaboratif ini menghasilkan dialog yang produktif, memperkaya narasi film dengan sentuhan perspektif anak yang jarang terdengar dalam produksi mainstream.

Selama proses syuting, tantangan tak terelakkan muncul. Beberapa anak mengalami kelelahan karena lama berada di lokasi terpencil, sementara yang lain mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan peralatan teknis seperti mikrofon atau lampu. Untuk mengatasi hal tersebut, tim produksi menyiapkan fasilitas istirahat yang nyaman, menyediakan makanan bergizi khas Sumba, serta menugaskan asisten produksi lokal sebagai pendamping pribadi setiap anak.

Hasil kerja keras tersebut kini terlihat pada beberapa cuplikan yang telah dirilis secara terbatas. Penonton dapat menyaksikan keotentikan ekspresi anak-anak Sumba, yang menampilkan kebahagiaan, kepolosan, dan kehangatan yang sulit ditiru oleh aktor anak profesional. Visual ini tidak hanya memperkuat estetika film, tetapi juga mengangkat nilai budaya Sumba ke panggung nasional.

Pengalaman ini juga memberikan dampak sosial yang signifikan bagi komunitas setempat. Anak-anak yang terlibat melaporkan peningkatan rasa percaya diri, serta keinginan untuk mengejar karier di bidang seni. Beberapa orangtua bahkan menyatakan rencana untuk mengirim anak mereka ke sekolah seni di kota besar, mengingat pengalaman positif yang diperoleh selama produksi.

Razza Robby Ertanto menegaskan bahwa pendekatan ini tidak bersifat eksklusif untuk “YOHANNA” semata. Ia berencana mengimplementasikan metode serupa pada proyek-proyek berikutnya, dengan harapan dapat membuka pintu bagi lebih banyak talenta muda dari daerah terpencil untuk terlibat dalam industri film Indonesia. Menurutnya, keberagaman budaya merupakan aset terbesar yang dapat memperkaya cerita-cerita sinematik, sekaligus menumbuhkan rasa kebangsaan yang inklusif.

Dengan menggabungkan riset mendalam, empati, serta kolaborasi komunitas, Ertonto berhasil menciptakan sebuah proses produksi yang tidak hanya menghasilkan karya visual yang memukau, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi generasi muda Sumba. “YOHANNA” diproyeksikan akan tayang pada akhir tahun ini, dan diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana sinema dapat menjadi jembatan antara dunia modern dan tradisi lokal.

Keberhasilan pendekatan ini menjadi bukti bahwa kreativitas dalam industri film tidak hanya terletak pada teknologi canggih, melainkan juga pada kemampuan sutradara untuk mendengarkan, memahami, dan menghargai keunikan setiap individu yang terlibat. Dengan demikian, “YOHANNA” tidak hanya sekadar film, melainkan sebuah karya yang mencerminkan semangat kebersamaan, kejujuran, dan keindahan budaya Sumba.

Pos terkait