123Berita – 09 April 2026 | Pemerintah Kota Jakarta Barat (Pemkot Jakbar) meluncurkan program penataan kembali kawasan permukiman bersubsidi Angke yang sebelumnya dikenal dengan tumpukan sampah tak terkelola. Inisiatif ini tidak hanya menata kembali ruang fisik, melainkan juga mengubah paradigma pengelolaan limbah menjadi peluang ekonomi sirkular yang dapat menggerakkan komunitas setempat.
Selama bertahun‑tahun, area di sekitar Rusun Angke menjadi tempat penumpukan sampah rumah tangga, limbah konstruksi, dan bahan organik yang tidak teratur. Kondisi tersebut menimbulkan bau tidak sedap, menurunkan kualitas udara, serta mengancam kesehatan warga. Menyikapi permasalahan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Perumahan serta Kawasan Permukiman bersama Dinas Pertanian Kota Jakarta Barat menyusun rencana integratif yang menekankan pada konversi lahan limbah menjadi ruang hijau produktif.
Program ini dimulai dengan fase pembersihan menyeluruh. Tim lapangan mengidentifikasi jenis-jenis sampah, memisahkan material yang dapat didaur ulang, serta mengangkut limbah organik ke fasilitas composting milik kota. Proses pemisahan ini melibatkan warga setempat sebagai relawan, yang dilatih untuk mengenali kategori sampah dan cara pengolahannya. Hasilnya, lebih dari 70% volume sampah berhasil dipindahkan atau diolah, meninggalkan lahan kosong yang siap diubah menjadi taman kota.
Langkah selanjutnya adalah penanaman vegetasi yang tidak sekadar estetis, melainkan memiliki nilai ekonomis. Pemkot Jakbar menggandeng koperasi pertanian perkotaan untuk menanam sayuran hidroponik, buah-buahan lokal, serta tanaman obat tradisional. Tanaman-tanaman tersebut dipilih karena mampu tumbuh optimal di lahan bekas sampah dengan teknik pemupukan organik berbasis kompos yang dihasilkan dari sisa sampah organik sebelumnya. Selain meningkatkan kualitas lingkungan, kebun ini memberikan kesempatan kerja bagi penduduk sekitar, terutama perempuan rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki sumber pendapatan tetap.
Keberhasilan program ini juga tercermin dalam indikator ekonomi sirkular. Setiap kilogram kompos yang dihasilkan dapat dipasarkan kepada petani kota atau digunakan sebagai pupuk untuk kebun komunitas, mengurangi kebutuhan pembelian pupuk kimia. Produk sayuran dan buah yang dipanen dijual melalui pasar tradisional dan gerai online, menciptakan aliran pendapatan baru bagi warga. Sebagai contoh, pada kuartal pertama pelaksanaan, pendapatan bersih dari penjualan hasil kebun mencapai Rp 150 juta, yang sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan fasilitas kebun dan pelatihan lanjutan.
Selain manfaat ekonomi, revitalisasi Rusun Angke memberikan dampak positif pada kualitas hidup masyarakat. Penurunan tingkat bau tak sedap dan peningkatan udara bersih berkontribusi pada penurunan kasus penyakit pernapasan yang sebelumnya sering dilaporkan di wilayah tersebut. Fasilitas taman bermain anak, jalur joging, serta area bersantai yang dilengkapi bangku dan penerangan LED memperkuat ikatan sosial antarwarga, menjadikan kawasan itu sebagai pusat aktivitas komunitas yang sehat.
Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi fokus utama program penataan ini:
- Pembersihan dan Pemilahan Sampah: Pengangkutan sampah ke fasilitas daur ulang dan kompos, dengan partisipasi aktif warga.
- Penanaman Kebun Produktif: Tanaman sayur, buah, dan obat tradisional menggunakan teknik hidroponik dan organik.
- Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Penciptaan lapangan kerja, pelatihan pertanian perkotaan, dan pemasaran hasil kebun.
- Peningkatan Kualitas Lingkungan: Pengurangan bau, penurunan polusi udara, dan peningkatan ruang terbuka hijau.
- Penguatan Kohesi Sosial: Fasilitas publik untuk rekreasi, olahraga, dan pertemuan komunitas.
Seluruh tahapan tersebut dikoordinasikan oleh Badan Pengelolaan Sampah DKI Jakarta, yang menyediakan dukungan teknis dalam proses komposting serta pelatihan agrikultur perkotaan. Pemerintah Kota juga mengalokasikan anggaran khusus sebesar Rp 30 miliar untuk fase pertama, mencakup pembiayaan peralatan, bibit, serta honorarium pelatih.
Keberhasilan awal program ini menginspirasi rencana perluasan ke wilayah lain di Jakarta Barat, termasuk kawasan permukiman lain yang masih menghadapi permasalahan sampah serupa. Diharapkan, model penataan yang mengintegrasikan pengelolaan limbah, pertanian perkotaan, dan pemberdayaan ekonomi dapat menjadi contoh bagi kota‑kota lain di Indonesia yang berupaya mengatasi tantangan urbanisasi dan perubahan iklim.
Dengan mengubah tumpukan sampah menjadi ruang hijau produktif, Pemkot Jakarta Barat tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, melainkan juga membuka peluang ekonomi baru bagi warganya. Inisiatif ini menegaskan pentingnya sinergi antar‑instansi pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam mewujudkan kota yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan.





