Pemkab Tolikara Pastikan Festival Etnik Religi 2026, Optimis Tingkatkan PAD Secara Signifikan

Pemkab Tolikara Pastikan Festival Etnik Religi 2026, Optimis Tingkatkan PAD Secara Signifikan
Pemkab Tolikara Pastikan Festival Etnik Religi 2026, Optimis Tingkatkan PAD Secara Signifikan

123Berita – 06 April 2026 | Pemerintah Kabupaten Tolikara menegaskan komitmen untuk menyelenggarakan Festival Etnik Religi (FER) pada Agustus 2026. Acara yang mengusung tema pelestarian kebudayaan sekaligus peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) ini diharapkan menjadi magnet bagi wisatawan domestik dan mancanegara, serta memperkuat identitas multikultural wilayah Papua Barat.

Festival Etnik Religi merupakan inisiatif yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2023 oleh Bupati Tolikara, Dr. H. Yustinus Manurung. Sejak itu, pemerintah daerah telah menggelar serangkaian kegiatan pendahuluan, termasuk lokakarya kebudayaan, pelatihan pemandu wisata, dan penataan infrastruktur dasar. Penyelenggaraan FER 2026 direncanakan berlangsung selama tiga hari, dengan agenda meliputi pertunjukan seni tradisional, pameran kerajinan tangan, kompetisi kuliner etnik, serta dialog lintas kepercayaan yang menyoroti nilai-nilai toleransi dan persatuan.

Bacaan Lainnya

Dalam konferensi pers yang digelar pada tanggal 5 April 2026, Bupati Yustinus menyatakan, “FER bukan sekadar festival hiburan. Ini adalah platform strategis untuk mempromosikan warisan budaya kita sekaligus meningkatkan daya tarik ekonomi daerah. Kami menargetkan peningkatan PAD minimal 15 persen dibandingkan tahun anggaran sebelumnya.” Pernyataan tersebut mencerminkan harapan tinggi pemerintah setempat untuk mengoptimalkan potensi pariwisata budaya sebagai sumber pendapatan baru.

Secara finansial, pemerintah Kabupaten Tolikara memperkirakan bahwa FER akan menyumbang tambahan pendapatan sebesar Rp 45 miliar, yang akan berasal dari pajak hotel, retribusi penyewaan tempat, serta penjualan produk lokal. Analisis awal menunjukkan bahwa setiap 1.000 pengunjung dapat menghasilkan rata-rata Rp 150.000 dalam bentuk kontribusi pajak dan konsumsi lokal. Dengan target kunjungan mencapai 300.000 orang selama tiga hari, potensi pendapatan tersebut menjadi realistis.

Festival ini juga berupaya menampilkan keragaman etnis yang ada di Tolikara, termasuk suku Doyog, Nggam, dan Lani, yang masing-masing memiliki tradisi musik, tarian, serta pakaian adat yang unik. Selama acara, penonton dapat menyaksikan pertunjukan tradisional seperti “Tarian Lani” yang melibatkan gerakan melingkar simbolik, serta “Pesta Kain Doyog” yang menampilkan proses pembuatan tenun dengan teknik pewarnaan alami.

Persiapan infrastruktur menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 20 miliar untuk perbaikan jalan akses utama menuju pusat acara di Kecamatan Karubaga, pembangunan area parkir sementara, serta penyediaan fasilitas kebersihan dan kesehatan. Selain itu, kerja sama dengan pihak swasta dan lembaga non‑profit diformalkan untuk menyediakan tenda, sistem listrik cadangan, dan layanan keamanan selama festival.

Untuk menambah daya tarik, panitia festival menyiapkan program kuliner yang menampilkan makanan khas daerah, seperti “Papeda” dengan ikan kuah kuning, serta “Sate Babi Khas Tolikara” yang dibumbui rempah lokal. Produk-produk kerajinan tangan, seperti anyaman rotan dan ukiran batu, juga akan dipajang di zona pameran, memberikan peluang pasar langsung kepada para pengrajin.

Berikut adalah beberapa manfaat yang diharapkan dari Festival Etnik Religi 2026:

  • Peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan internasional.
  • Penciptaan lapangan kerja sementara di sektor pelayanan, transportasi, dan keamanan.
  • Peningkatan penjualan produk lokal, yang dapat memperkuat jaringan pemasaran UMKM.
  • Peningkatan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dan nilai-nilai religius antar suku.
  • Pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan workshop.

Para ahli ekonomi daerah menilai bahwa dampak jangka panjang festival ini dapat memperluas basis pajak daerah, terutama melalui peningkatan sektor perhotelan, transportasi, dan perdagangan. “Jika dikelola dengan baik, festival budaya berulang dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, bukan hanya sumber pendapatan sesaat,” ujar Dr. Siti Mariani, dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Cenderawasih.

Selain aspek ekonomi, FER juga berfungsi sebagai sarana dialog antar kepercayaan. Mengingat keberagaman agama yang ada di Tolikara, festival ini menyertakan rangkaian kegiatan keagamaan yang menekankan nilai toleransi, seperti doa bersama, pertunjukan musik religius, dan seminar tentang kerukunan umat beragama. Upaya ini selaras dengan kebijakan nasional untuk memperkuat persatuan dalam keragaman.

Dengan semua persiapan yang telah dilakukan, pemerintah Kabupaten Tolikara optimis bahwa Festival Etnik Religi 2026 akan menjadi tonggak penting dalam sejarah budaya dan ekonomi daerah. Keberhasilan acara ini diharapkan tidak hanya meningkatkan PAD, tetapi juga memperkuat identitas budaya Tolikara di mata dunia.

Pos terkait