123Berita – 07 April 2026 | London, 7 April 2026 – Pemerintah Inggris resmi menetapkan batas maksimum suku bunga untuk pinjaman mahasiswa pada tingkat 6 persen, sebuah langkah yang diumumkan sebagai upaya melindungi jutaan peminjam dari beban biaya yang semakin tinggi. Kebijakan ini, yang berlaku khusus untuk skema Plan 2 di Inggris, menjadi bagian dari paket reformasi pendidikan yang lebih luas, sekaligus menanggapi kekhawatiran publik atas kenaikan suku bunga yang sebelumnya terkait erat dengan inflasi.
Selama beberapa tahun terakhir, suku bunga pinjaman mahasiswa di Inggris dipatok pada tingkat yang mengikuti indeks inflasi, sehingga ketika inflasi melambung, beban pembayaran kembali para peminjam juga meningkat secara signifikan. Pada 2023, suku bunga tersebut sempat mencapai lebih dari 7 persen, menambah tekanan pada lulusan baru yang tengah memulai karier. Dengan menetapkan plafon 6 persen, pemerintah berupaya menstabilkan beban keuangan dan memastikan bahwa pembayaran kembali tidak melampaui batas yang dapat dipertanggungjawabkan oleh peminjam.
Skema Plan 2, yang mencakup mahasiswa yang memulai studi di perguruan tinggi pada atau setelah tahun 2012, menjadi fokus utama kebijakan ini. Bagi peminjam yang masih berada dalam masa pembayaran, batas baru akan diterapkan pada saat mereka mencapai usia 30 tahun atau pada tahun 2029, mana yang lebih dulu. Dengan kata lain, meskipun inflasi tetap tinggi, suku bunga tidak akan melebihi 6 persen untuk periode tersebut.
Langkah ini mendapat sambutan beragam dari berbagai pemangku kepentingan. Organisasi mahasiswa dan serikat pekerja menyatakan bahwa kebijakan tersebut merupakan kemenangan penting dalam upaya mengurangi ketimpangan ekonomi. “Batas bunga 6 persen memberikan kepastian dan mengurangi beban yang tidak perlu bagi lulusan baru,” kata perwakilan National Union of Students (NUS). Sebaliknya, beberapa analis keuangan mengingatkan bahwa penetapan plafon dapat mempengaruhi pendapatan pemerintah dari pinjaman mahasiswa, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi alokasi dana untuk program pendidikan lain.
Di sisi lain, partai oposisi mengkritik kebijakan ini sebagai solusi parsial yang tidak mengatasi akar masalah biaya pendidikan tinggi. Mereka menuntut penurunan biaya kuliah secara keseluruhan serta reformasi sistem pinjaman yang lebih adil. “Menetapkan batas bunga memang membantu, tetapi tidak menyelesaikan krisis biaya kuliah yang semakin melambung,” ujar anggota Partai Buruh di Parlemen.
Implementasi batas bunga 6 persen juga menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya pada wilayah lain di Britania Raya. Kebijakan ini secara eksplisit berlaku hanya di Inggris, sementara Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara tetap mengikuti aturan suku bunga masing-masing yang dapat berbeda. Hal ini menimbulkan potensi perbedaan perlakuan bagi mahasiswa yang menempuh studi di wilayah-wilayah tersebut.
Berikut rangkuman poin-poin utama kebijakan tersebut:
- Batas maksimum suku bunga ditetapkan pada 6 persen untuk pinjaman Plan 2 di Inggris.
- Kebijakan berlaku bagi peminjam yang mencapai usia 30 tahun atau pada tahun 2029, mana yang lebih dulu.
- Tujuan utama adalah melindungi peminjam dari fluktuasi inflasi yang tinggi.
- Reaksi positif dari organisasi mahasiswa, namun kritik tetap muncul dari oposisi dan analis keuangan.
- Kebijakan hanya mencakup wilayah Inggris, tidak berlaku untuk Skotlandia, Wales, atau Irlandia Utara.
Secara finansial, penetapan batas bunga ini diperkirakan akan mengurangi total pendapatan pemerintah dari pinjaman mahasiswa sekitar £1,2 miliar selama dekade berikutnya. Pemerintah menegaskan bahwa pengurangan tersebut akan diimbangi oleh peningkatan efisiensi dalam pengelolaan dana dan prioritas pada program beasiswa serta bantuan keuangan bagi mahasiswa berpenghasilan rendah.
Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan fiskal yang lebih luas, di mana pemerintah berusaha menyeimbangkan kebutuhan untuk menjaga kestabilan ekonomi makro dengan tekanan sosial yang meningkat akibat biaya hidup yang tinggi. Menurut Menteri Pendidikan, kebijakan ini merupakan “tindakan yang berani dan responsif” dalam menanggapi perubahan ekonomi global serta kebutuhan domestik.
Dengan penetapan batas bunga ini, masa depan peminjam pinjaman mahasiswa di Inggris diharapkan menjadi lebih terprediksi. Bagi banyak lulusan, terutama yang memasuki pasar kerja dengan gaji awal yang masih rendah, kepastian bahwa suku bunga tidak akan melampaui 6 persen dapat memberikan ruang bernapas dalam mengatur keuangan pribadi. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menurunkan biaya kuliah dan memperluas akses pendidikan tinggi yang terjangkau.
Secara keseluruhan, kebijakan plafon bunga 6 persen menandai langkah penting dalam upaya pemerintah Inggris mengendalikan beban keuangan mahasiswa. Meskipun tidak menyelesaikan semua masalah struktural, kebijakan ini menawarkan perlindungan jangka menengah bagi peminjam dan menegaskan komitmen pemerintah untuk menyesuaikan sistem pinjaman pendidikan dengan realitas ekonomi saat ini.





