Passportgate di Eredivisie: Dean James dan Nathan Tjoe‑A‑On Bikin Liga Belanda Tegas Tak Ulang Laga

Passportgate di Eredivisie: Dean James dan Nathan Tjoe‑A‑On Bikin Liga Belanda Tegas Tak Ulang Laga
Passportgate di Eredivisie: Dean James dan Nathan Tjoe‑A‑On Bikin Liga Belanda Tegas Tak Ulang Laga

123Berita – 04 April 2026 | Kontroversi administratif yang kini disebut “Passportgate” kembali mengguncang dunia sepak bola Eropa, khususnya Liga Belanda atau Eredivisie. Dua pemain, Dean James dan Nathan Tjoe‑A‑On, menjadi sorotan utama setelah terungkap bahwa dokumen paspor mereka mengandung ketidaksesuaian yang menimbulkan pertanyaan serius mengenai keabsahan status kepemilikan mereka. Eredivisie CV, operator kompetisi, menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk menggelar pertandingan ulang terkait insiden ini, meski tekanan dari klub dan penggemar terus menguat.

Dean James, gelandang muda asal Australia yang bermain untuk klub Eredivisie, diketahui menggunakan paspor Indonesia dalam proses pendaftaran. Sementara itu, Nathan Tjoe‑A‑On, pemain keturunan Indonesia‑Belanda yang bergabung dengan tim lain di liga yang sama, juga memanfaatkan paspor Indonesia untuk memenuhi kuota pemain asing. Kedua kasus ini terungkap setelah audit internal yang dilakukan oleh otoritas liga menemukan ketidaksesuaian data pada dokumen identitas mereka.

Bacaan Lainnya

Penggunaan paspor Indonesia oleh kedua pemain tersebut awalnya dimaksudkan untuk memanfaatkan kuota pemain lokal yang lebih menguntungkan bagi klub. Kuota pemain asing di Eredivisie memang terbatas, sehingga klub cenderung mencari celah legal untuk menambah kualitas skuad tanpa melanggar regulasi. Namun, ketika dokumen tersebut dipertanyakan, klub harus segera memberikan klarifikasi kepada liga.

Klub yang menaungi Dean James, FC Utrecht, menyatakan bahwa mereka telah melakukan pengecekan dokumen secara menyeluruh sebelum mengontrak pemain. Mereka menegaskan bahwa paspor yang diberikan oleh James sah dan diakui oleh otoritas Indonesia. Sementara itu, klub Nathan Tjoe‑A‑On, PEC Zwolle, menyampaikan bahwa mereka juga telah melakukan verifikasi internal, namun mengakui adanya kemungkinan kesalahan administratif yang belum terdeteksi pada saat pendaftaran.

Reaksi publik tidak kalah panas. Penggemar sepak bola Belanda, terutama suporter klub yang terlibat, menuntut transparansi dan keadilan. Banyak yang berpendapat bahwa jika pemain tersebut memang tidak memenuhi syarat, maka hasil pertandingan yang melibatkan mereka harus dipertimbangkan kembali, termasuk kemungkinan pengulangan pertandingan. Namun, Eredivisie CV menolak keras usulan tersebut. Dalam konferensi pers, perwakilan liga menegaskan bahwa aturan pertandingan ulang hanya diterapkan jika ada pelanggaran teknis yang mempengaruhi hasil pertandingan secara langsung, seperti penggunaan pemain yang belum terdaftar secara resmi. Karena dalam kasus ini, dokumen pemain masih berada dalam proses penyelidikan, bukan keputusan final, liga memutuskan untuk tidak mengulang pertandingan.

Keputusan tersebut menuai kritik tajam dari beberapa analis sepak bola. Mereka berargumen bahwa integritas kompetisi harus dijaga dengan ketat, dan kegagalan mengidentifikasi dokumen palsu atau tidak sah pada saat pendaftaran seharusnya menjadi dasar bagi tindakan korektif yang lebih tegas, termasuk penalti bagi klub yang terlibat. Di sisi lain, ada pula suara yang mengingatkan pentingnya prosedur hukum yang adil, mengingat pemain memiliki hak untuk membela diri dan mengajukan banding atas keputusan administrasi.

Dalam beberapa minggu ke depan, kedua pemain tersebut diperkirakan akan mengajukan banding ke Badan Arbitrase Olahraga (CAS) atau mengajukan permohonan klarifikasi kepada Kedutaan Besar Indonesia. Sementara itu, Eredivisie CV berjanji akan memperketat prosedur verifikasi dokumen pemain, termasuk kerja sama lebih intensif dengan federasi sepak bola masing‑masing negara asal pemain.

Polemik ini juga menimbulkan dampak pada pasar transfer. Klub-klub lain di Eredivisie kini lebih berhati‑hati dalam merekrut pemain dengan latar belakang multinasional. Beberapa manajer menegaskan bahwa mereka akan menunggu hasil penyelidikan lengkap sebelum menandatangani kontrak baru, guna menghindari risiko serupa di masa mendatang.

Selain dampak kompetitif, kasus Passportgate ini menggarisbawahi pentingnya regulasi internasional mengenai kepemilikan ganda. FIFA telah mengeluarkan pedoman mengenai pemain yang memiliki dua atau lebih kewarganegaraan, termasuk persyaratan dokumentasi yang harus dipenuhi oleh klub dan asosiasi nasional. Namun, implementasi di level liga domestik masih bervariasi, sehingga menimbulkan celah yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.

Kesimpulannya, kontroversi Dean James dan Nathan Tjoe‑A‑On menunjukkan kerentanan sistem administrasi Liga Belanda dalam mengelola kepemilikan ganda pemain. Meskipun Eredivisie CV menolak pengulangan pertandingan, tekanan publik dan kebutuhan akan kejelasan regulasi akan mendorong perubahan kebijakan di masa depan. Bagaimana hasil akhir penyelidikan akan menjadi indikator penting bagi integritas kompetisi serta kepercayaan publik terhadap otoritas sepak bola Belanda.

Pos terkait