Pakar Teknologi Pangan Dorong Implementasi Rantai Dingin untuk Perkuat Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Nasional

Pakar Teknologi Pangan Dorong Implementasi Rantai Dingin untuk Perkuat Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Nasional
Pakar Teknologi Pangan Dorong Implementasi Rantai Dingin untuk Perkuat Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Nasional

123Berita – 04 April 2026 | Sejumlah pakar terkemuka di bidang teknologi pangan menegaskan pentingnya penerapan sistem rantai dingin (cold chain) sebagai komponen strategis dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Menurut mereka, integrasi rantai dingin tidak hanya meningkatkan mutu dan keamanan pangan, tetapi juga memperkuat efektivitas distribusi makanan bergizi bagi kelompok rentan di seluruh Indonesia.

Program MBG, yang dikelola oleh Kementerian Pertanian bersama kementerian terkait, bertujuan menyediakan akses makanan bergizi secara gratis kepada anak-anak, ibu hamil, dan lansia yang berada pada risiko gizi buruk. Sejak peluncurannya, program ini telah menjangkau jutaan penerima manfaat melalui jaringan sekolah, puskesmas, dan posyandu. Namun, tantangan logistik terutama dalam menjaga kesegaran dan kualitas bahan pangan masih menjadi sorotan utama.

Bacaan Lainnya

Tanpa sistem rantai dingin yang memadai, produk pangan seperti susu, daging, ikan, serta sayur dan buah segar rentan mengalami degradasi mutu selama proses pengangkutan dan penyimpanan. Penurunan kualitas dapat memicu pertumbuhan mikroba patogen, menurunkan nilai gizi, serta meningkatkan risiko keracunan makanan. Kondisi ini berpotensi mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap program MBG dan menurunkan dampak positifnya.

Dr. Ida Wahyu, dosen Fakultas Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, menekankan bahwa “penerapan rantai dingin secara menyeluruh harus menjadi standar operasional bagi setiap tahapan distribusi MBG, mulai dari gudang pusat hingga titik penyerahan akhir”. Ia menambahkan bahwa teknologi pendinginan modern, seperti kendaraan berpendingin, kotak isolasi termal, serta pemantauan suhu digital, dapat diintegrasikan dengan biaya yang terjangkau melalui skema kemitraan publik‑swasta.

Berikut beberapa manfaat utama yang diuraikan oleh para ahli:

  • Meningkatkan daya tahan produk pangan, mengurangi kerugian akibat pembusukan.
  • Menjaga nilai gizi, terutama pada nutrisi sensitif panas seperti vitamin C dan protein.
  • Meminimalisir risiko kontaminasi mikroba, sehingga keamanan pangan terjamin.
  • Meningkatkan kepercayaan konsumen dan penerima manfaat terhadap kualitas makanan yang diberikan.
  • Mendukung pencapaian target SDGs terkait kelaparan dan kesehatan.

Untuk mengimplementasikan sistem rantai dingin secara efektif, para pakar mengusulkan langkah‑langkah berikut:

  1. Inventarisasi fasilitas pendingin yang ada di setiap daerah dan penentuan kebutuhan tambahan.
  2. Pengadaan kendaraan berpendingin berstandar nasional, termasuk truk dan motor box dengan kontrol suhu otomatis.
  3. Penerapan teknologi pemantauan suhu real‑time menggunakan sensor IoT, sehingga setiap penyimpanan dapat dipantau secara daring.
  4. Pelatihan sumber daya manusia di bidang logistik pangan mengenai prosedur handling dingin dan standar higienitas.
  5. Pengembangan jaringan kemitraan dengan perusahaan logistik dan produsen peralatan pendingin untuk memperoleh harga khusus dan layanan purna jual.

Pemerintah pusat telah menanggapi rekomendasi ini dengan menyiapkan anggaran tambahan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, menyatakan bahwa kebijakan ini akan diprioritaskan dalam fase kedua pelaksanaan MBG, terutama di wilayah dengan iklim tropis yang menantang. “Kami berkomitmen memastikan setiap paket makanan yang kami distribusikan mencapai penerima dalam kondisi optimal,” ujar beliau dalam sebuah pernyataan resmi.

Jika diterapkan secara konsisten, sistem rantai dingin diproyeksikan dapat menurunkan tingkat kehilangan pangan hingga 30 persen, serta meningkatkan nilai gizi yang diterima oleh target program. Dampak tersebut tidak hanya mengoptimalkan penggunaan anggaran negara, tetapi juga mempercepat penurunan angka stunting dan kekurangan gizi di kalangan anak-anak Indonesia.

Secara keseluruhan, integrasi rantai dingin dalam Program MBG dianggap sebagai langkah krusial untuk menjamin mutu, keamanan, dan keberlanjutan distribusi makanan bergizi. Kolaborasi lintas sektoral, dukungan kebijakan, serta investasi dalam teknologi pendinginan menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi tersebut, sehingga harapan akan Indonesia yang lebih sehat dapat terwujud secara nyata.

Pos terkait