123Berita – 07 April 2026 | Vokalis legendaris Once Mekel mengungkapkan keprihatinannya atas maraknya hoaks yang menyusup ke benak generasi muda Indonesia. Dalam sebuah wawancara, ia menegaskan bahwa penyebaran informasi palsu tidak hanya mengaburkan fakta, tetapi juga berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
Era digital yang dipenuhi platform media sosial telah mempercepat alur informasi, namun sekaligus membuka celah luas bagi konten yang tidak terverifikasi. Hoaks yang beredar mulai dari isu politik, agama, hingga kesehatan sering kali dibungkus dalam judul sensasional yang mudah menarik perhatian remaja dan pemuda yang masih dalam proses pembentukan pola pikir.
Sebagai seorang musisi yang telah meniti karier selama lebih dari dua dekade, Once Mekel memiliki basis penggemar yang luas, termasuk kalangan muda. Kredibilitasnya sebagai penyanyi dan aktivis sosial memberi bobot khusus pada setiap pernyataan yang ia sampaikan, sehingga pesan peringatannya mengenai bahaya hoaks menjadi lebih menonjol di tengah kebisingan dunia maya.
Once menyoroti beberapa contoh hoaks yang paling merusak, seperti penyebaran rumor palsu tentang calon pemimpin, klaim tak berdasar mengenai kelompok agama tertentu, serta informasi keliru tentang vaksinasi. Menurutnya, jenis-jenis kebohongan ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga menimbulkan rasa curiga dan kebencian di antara generasi yang masih rentan.
Pengaruh hoaks terhadap generasi muda tidak dapat diremehkan. Remaja yang belum memiliki pengalaman kritis cenderung menerima informasi apa adanya, sehingga pola pikir mereka dapat terbentuk atas dasar ketidakakuratan. Akibatnya, potensi terjadinya polarisasi sosial menjadi semakin nyata, mengancam kohesi nasional yang selama ini dibangun.
Dalam menanggapi situasi tersebut, Once menekankan pentingnya menanamkan nilai kebangsaan sejak dini. Ia berpendapat bahwa rasa cinta tanah air, rasa hormat terhadap simbol-simbol negara, dan kesadaran akan keberagaman budaya Indonesia harus menjadi landasan utama dalam pendidikan karakter anak-anak.
Selain kebangsaan, toleransi menjadi pilar kedua yang tak kalah krusial. Once mengajak generasi muda untuk belajar menghargai perbedaan pendapat, kepercayaan, dan latar belakang sosial. Dengan sikap terbuka, mereka dapat menilai informasi secara objektif, mengurangi reaksi emosional yang sering dimanfaatkan penyebar hoaks.
Aktivis tersebut juga menyerukan peran aktif orang tua, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan dalam membekali anak dengan kemampuan literasi media. Ia menekankan bahwa bukan sekadar melarang akses internet, melainkan mengajarkan cara memverifikasi sumber, mengenali bias, dan menilai kredibilitas konten.
Berbagai langkah konkret dapat diambil, seperti menyelenggarakan workshop literasi digital di sekolah, mengintegrasikan modul pengecekan fakta dalam kurikulum, serta mengembangkan aplikasi lokal yang membantu memfilter konten berbahaya. Upaya kolaboratif antara pemerintah, LSM, dan platform digital diharapkan dapat menekan arus hoaks secara signifikan.
Pemerintah Indonesia sendiri telah meluncurkan sejumlah inisiatif, termasuk program edukasi anti-hoaks dan kerja sama dengan lembaga fact‑checking. Namun, Once menilai bahwa kebijakan saja tidak cukup; dibutuhkan perubahan budaya di mana setiap individu merasa bertanggung jawab untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Contoh positif juga muncul dari kalangan pemuda yang secara aktif melawan penyebaran berita palsu. Kelompok mahasiswa dan komunitas kreatif telah memproduksi video edukatif, infografis, serta kampanye daring yang menyoroti bahaya hoaks. Upaya‑upaya ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi garda terdepan dalam memerangi disinformasi.
Dengan menegaskan kembali pentingnya nilai kebangsaan dan toleransi, Once Mekel berharap agar seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, dapat mengembangkan sikap kritis terhadap setiap informasi yang diterima. Ia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa Indonesia akan tetap bersatu, kuat, dan cerdas dalam menghadapi tantangan era digital.





