Nunu Datau Ungkap Sakitnya Anak di Balik Peran Ibu Antagonis, Kena Bullying di Dunia Sinetron

Nunu Datau Ungkap Sakitnya Anak di Balik Peran Ibu Antagonis, Kena Bullying di Dunia Sinetron
Nunu Datau Ungkap Sakitnya Anak di Balik Peran Ibu Antagonis, Kena Bullying di Dunia Sinetron

123Berita – 07 April 2026 | Veteran aktris Nunu Datau yang kini berusia 54 tahun kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan bahwa anaknya menjadi korban bullying di lingkungan produksi sinetron tempat sang ibu memerankan peran ibu antagonis. Pengakuan tersebut muncul usai Nunu Datau tampil dalam sebuah sinetron terbaru sebagai sosok ibu yang keras dan berkonflik dengan tokoh utama. Meski peran tersebut menambah dimensi dramatis pada cerita, dampaknya ternyata meluas ke luar layar.

Sejak menapaki dunia akting pada usia tujuh tahun, Nunu Datau telah menorehkan jejak panjang dalam industri hiburan Indonesia. Ia tumbuh sebagai anak yatim, namun semangatnya untuk berakting menjadikannya salah satu wajah yang tak lekang oleh waktu. Kariernya meliputi berbagai genre, mulai dari drama keluarga hingga komedi romantis, dan kini ia kembali mengisi peran ibu antagonis yang kerap menimbulkan konflik emosional.

Bacaan Lainnya

Namun di balik gemerlap panggung, Nunu Datau mengaku menyaksikan anaknya mengalami tekanan psikologis akibat perlakuan tidak menyenangkan dari rekan-rekan seprofesi. “Anak saya sering mendapat cercaan dan ejekan karena saya bermain peran yang dianggap menyinggung, bahkan ada yang menuduh saya mengajarkan perilaku negatif,” ungkapnya dalam wawancara eksklusif. Ia menambahkan bahwa komentar‑komentar tersebut tidak hanya beredar di kalangan kru, melainkan juga menyebar ke media sosial, memperparah rasa tidak aman sang anak.

Kasus ini membuka tabir masalah bullying dalam industri sinetron yang jarang dibicarakan secara terbuka. Banyak pihak beranggapan bahwa persaingan ketat di antara aktor, aktris, dan kru produksi dapat memicu perilaku agresif, terutama ketika peran yang diemban bersifat kontroversial. Sebuah survei internal yang dilakukan oleh sebuah rumah produksi pada akhir 2023 mengungkapkan bahwa lebih dari 30% tenaga kerja mengaku pernah menjadi saksi atau korban bullying di set produksi.

Berikut beberapa faktor yang sering memicu bullying dalam dunia sinetron menurut para pakar psikologi media:

  • Peran antagonis yang kuat: Aktor yang memerankan tokoh negatif sering kali dipersepsikan secara pribadi, bukan sekadar karakter.
  • Tekanan jadwal ketat: Deadline yang menumpuk menurunkan toleransi antar anggota tim.
  • Pengawasan publik: Media sosial memperbesar eksposur kritik, sehingga komentar negatif mudah menyebar.
  • Keterbatasan dukungan mental: Banyak produksi belum menyediakan layanan konseling bagi kru.

Dalam menanggapi situasi tersebut, Nunu Datau menegaskan pentingnya edukasi dan kebijakan internal yang melindungi semua pihak di lokasi syuting. “Kami butuh standar etika yang jelas, serta mekanisme pelaporan yang aman bagi siapa saja yang merasa terintimidasi,” tegasnya. Ia juga mengajak para produser untuk lebih memperhatikan kesejahteraan mental, bukan sekadar hasil akhir tayangan.

Langkah-langkah konkret yang dapat diambil antara lain penyuluhan reguler tentang bullying, penetapan kode etik yang menekankan penghormatan pribadi, serta penyediaan konselor profesional di setiap proyek berskala besar. Beberapa stasiun televisi besar di Indonesia sudah mulai menerapkan program tersebut, meski implementasinya belum merata.

Reaksi publik terhadap pengakuan Nunu Datau cukup beragam. Sebagian mengapresiasi keberaniannya mengangkat isu yang sensitif, sementara yang lain mengkritik bahwa masalah tersebut seharusnya tidak melibatkan anaknya. Namun mayoritas setuju bahwa spotlight pada bullying dapat mendorong perubahan positif di industri hiburan.

Dengan pengalaman lebih dari empat dekade, Nunu Datau kini tidak hanya dikenal sebagai aktris berbakat, melainkan juga sebagai advokat hak asasi manusia dalam dunia seni. Ia berharap kisah ini menjadi panggilan bangun bagi semua pihak untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, inklusif, dan menghargai perbedaan peran. Semoga langkah-langkah preventif yang diusulkan dapat segera diadopsi, sehingga generasi aktor dan aktris berikutnya dapat menekuni seni tanpa rasa takut akan penindasan atau diskriminasi.

Pos terkait