Wamensos Agus Jabo Dorong Penguatan Kapasitas Tenaga Pengajar Sekolah Rakyat lewat Monitoring Berkelanjutan

123Berita – 10 April 2026 | Jakarta, 10 April 2026Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo menegaskan pentingnya meningkatkan kompetensi tenaga kependidikan di Sekolah Rakyat sebagai bagian integral dari upaya memperkuat kualitas pendidikan inklusif di Indonesia. Dalam sebuah pertemuan tertutup yang dihadiri oleh perwakilan kementerian, asosiasi pendidik, serta kepala sekolah di beberapa provinsi, Jabo menyampaikan rencana strategis yang menitikberatkan pada mekanisme monitoring dan evaluasi (M&E) berkelanjutan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Wamensos mengusulkan tiga pilar utama dalam rangka memperkuat kapasitas SDM Sekolah Rakyat:

  • Peningkatan Kompetensi Melalui Pelatihan Berkelanjutan: Mengintegrasikan modul pelatihan berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal, termasuk penggunaan teknologi pendidikan dan pendekatan pembelajaran diferensial.
  • Monitoring dan Evaluasi (M&E) Sistematis: Membentuk tim M&E di tingkat provinsi yang akan melakukan kunjungan rutin, audit kualitas pengajaran, serta penyusunan laporan perkembangan yang transparan.
  • Insentif dan Penghargaan: Memberikan skema insentif berbasis kinerja, serta penghargaan tahunan bagi tenaga kependidikan yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam capaian pembelajaran.

Jabo menambahkan bahwa kerangka kerja M&E akan didukung oleh platform digital yang memungkinkan pengumpulan data real‑time. Data tersebut akan diproses dengan algoritma sederhana untuk menghasilkan indikator kunci seperti tingkat kehadiran guru, rasio siswa‑guru, dan capaian standar kompetensi.

Implementasi rencana ini akan dimulai pada kuartal ketiga 2026 dengan pilot project di tiga provinsi: Papua, Nusa Tenggara Barat, dan Jambi. Pilihan provinsi didasarkan pada keragaman geografis dan tingkat kebutuhan intervensi yang berbeda. Di Papua, fokus utama adalah meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar bahasa lokal serta bahasa Indonesia secara bersamaan. Di NTB, pelatihan akan menitikberatkan pada penggunaan teknologi mobile learning untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur. Sedangkan di Jambi, prioritasnya adalah memperkuat manajemen sekolah agar dapat mengelola dana bantuan secara lebih efektif.

Selama pertemuan, beberapa kepala sekolah menyampaikan tantangan konkret yang mereka hadapi. Salah satunya, Kepala Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Mimika, Papua, mengungkapkan bahwa kurangnya pelatihan khusus bagi guru bahasa daerah menghambat proses belajar mengajar. “Kami butuh modul yang relevan dengan konteks budaya setempat, bukan hanya materi standar nasional,” katanya. Sebagai respons, tim M&E akan menyediakan materi pelatihan yang dikembangkan bersama universitas lokal dan lembaga kebudayaan.

Di sisi lain, perwakilan Asosiasi Guru Indonesia (AGI) menyoroti pentingnya mekanisme umpan balik yang terbuka antara guru dan evaluator. “Evaluasi harus bersifat konstruktif, bukan sekadar penilaian angka. Kami mengharapkan adanya forum diskusi rutin dimana guru dapat berbagi praktik terbaik dan tantangan yang dihadapi,” ujar Ketua AGI, Dr. Siti Marlina.

Selain itu, Wamensos menekankan bahwa dukungan anggaran akan diarahkan secara spesifik untuk program pelatihan dan pengadaan perangkat belajar digital. Anggaran awal sebesar Rp 250 miliar dialokasikan untuk tiga provinsi pilot, dengan harapan dapat diperluas ke seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2027 setelah evaluasi hasil.

Strategi penguatan kapasitas SDM ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Sosial yang menargetkan peningkatan angka partisipasi sekolah dasar (APSD) menjadi 98% pada akhir 2026. Dengan meningkatkan kualitas tenaga kependidikan, diharapkan tidak hanya angka partisipasi yang naik, tetapi juga mutu pembelajaran yang lebih tinggi, yang pada gilirannya akan menurunkan kesenjangan prestasi antar wilayah.

Seluruh pihak yang terlibat sepakat bahwa keberhasilan program bergantung pada kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, lembaga donor, serta komunitas lokal. “Kami mengundang semua pemangku kepentingan untuk bersama‑sama memantau pelaksanaan program ini, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh anak‑anak bangsa,” pungkas Agus Jabo.

Dengan komitmen kuat dari Kementerian Sosial dan dukungan luas dari mitra edukasi, diharapkan Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia akan memiliki tenaga kependidikan yang lebih terampil, termotivasi, dan siap menghadapi tantangan pendidikan masa depan. Upaya ini tidak hanya memperkuat fondasi belajar di tingkat dasar, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia yang kompetitif di kancah global.

Pos terkait