Nelson Silva dari Portugal Ikut Prosesi Semana Santa di Larantuka, Flores Timur: Simbol Persahabatan Budaya

Nelson Silva dari Portugal Ikut Prosesi Semana Santa di Larantuka, Flores Timur: Simbol Persahabatan Budaya
Nelson Silva dari Portugal Ikut Prosesi Semana Santa di Larantuka, Flores Timur: Simbol Persahabatan Budaya

123Berita – 04 April 2026 | Ribuan peziarah berkumpul di Larantuka, sebuah kota kecil di Flores Timur, untuk merayakan Semana Santa, tradisi pekan suci yang sudah menjadi magnet wisata religi tiap tahunnya. Di antara mereka, tampak sosok berkulit pucat dengan pakaian sederhana, namun memiliki cerita yang jauh melampaui pulau ini. Nelson Silva, seorang warga Portugal, menempuh perjalanan lintas benua demi menyaksikan prosesi yang memadukan elemen Katolik Barat dengan warisan budaya lokal. Kehadirannya menjadi bukti kuat bahwa Lantarukian tidak hanya memikat wisatawan domestik, melainkan juga menarik minat internasional.

Semana Santa Larantuka memiliki akar sejarah yang unik. Sejak abad ke-16, ketika bangsa Portugis pertama kali menginjakkan kaki di Nusa Tenggara Timur, tradisi Kristiani yang dibawa oleh misionaris berbaur dengan kebudayaan Manggarai. Selama tiga hari, jalan-jalan utama kota dipenuhi patung kayu, simbol penderitaan Yesus, dan nyanyian liturgi yang diiringi oleh gendang tradisional. Upacara puncak, yang dikenal sebagai “Misa de la Santa” menampilkan prosesi panjang dengan para santo, tokoh almarhum, serta penari yang mengenakan kostum berwarna-warni. Uniknya, ritual-ritual tersebut diadakan di tengah-tengah desa yang masih mengandalkan pertanian, menjadikan acara religius sekaligus festival budaya yang sarat makna.

Bacaan Lainnya

Nelson Silva, yang bekerja sebagai arsitek di Lisbon, mengaku terpesona sejak pertama kali membaca tentang Semana Santa Larantuka dalam sebuah artikel wisata internasional. “Saya selalu tertarik pada pertemuan antara tradisi Barat dan Timur. Ketika mengetahui bahwa Larantuka masih mempraktikkan Semana Santa dengan cara yang sangat otentik, saya memutuskan untuk berkunjung,” ujar Nelson dalam sebuah wawancara singkat sebelum keberangkatannya. Perjalanan yang menempuh lebih dari 14.000 kilometer itu melibatkan transit melalui Dubai, Jakarta, dan akhirnya Labuan Bajo, sebelum melanjutkan penerbangan kecil ke Kupang dan melanjutkan perjalanan darat ke Larantuka. Selama tiga hari di sana, Nelson tidak hanya menjadi penonton, melainkan juga berpartisipasi aktif dalam beberapa sesi doa bersama dan membantu menata dekorasi kayu yang dipajang di alun-alun utama.

Kehadiran Nelson mendapat sambutan hangat dari penduduk setempat. Kepala Panitia Semana Santa, Bapak I Wayan, menyatakan, “Kami senang dapat menunjukkan kekayaan budaya kami kepada dunia. Kehadiran saudara dari Portugal menegaskan ikatan historis yang sudah ada sejak masa kolonial, namun kini lebih bersifat persahabatan dan pertukaran budaya.” Turis asing lainnya pun mengaku terkesan dengan keramahan warga Larantuka yang rela berbagi cerita, makanan tradisional, serta mengundang mereka untuk mencicipi ikan bakar khas Flores. Menurut data Badan Pariwisata Daerah, kunjungan wisatawan asing ke Larantuka meningkat 12% pada tahun ini, dipicu oleh promosi digital dan liputan media internasional.

  • Prosesi dimulai pada pukul 05.00 WIB dengan pemberkatan lilin.
  • Ratusan patung kayu berukuran hingga tiga meter dibawa mengelilingi kota.
  • Penampilan musik tradisional Manggarai mengiringi tiap langkah para peziarah.
  • Kegiatan diakhiri dengan misa malam di Gereja St. Joseph.

Partisipasi Nelson Silva tidak hanya menambah warna pada prosesi, namun juga membuka peluang kolaborasi lintas budaya. Ia berencana mengadakan pameran foto yang menampilkan perbandingan antara Semana Santa di Portugal dan di Larantuka, serta mengusulkan program pertukaran pelajar seni rupa antara sekolah di Lisbon dan sekolah seni di Flores. Upaya semacam ini diharapkan dapat memperkuat hubungan bilateral Indonesia‑Portugal, terutama dalam sektor pariwisata religi yang masih relatif kurang dieksplorasi.

Secara keseluruhan, kehadiran Nelson Silva menegaskan bahwa Larantuka telah menjadi titik pertemuan antara tradisi Kristiani Barat dan warisan budaya lokal. Prosesi Semana Santa tidak lagi sekadar ritual keagamaan, melainkan juga platform dialog antarbudaya yang mengundang partisipasi internasional. Dengan meningkatnya minat wisatawan asing, potensi ekonomi daerah pun ikut tumbuh, sementara nilai-nilai toleransi dan persahabatan semakin terpatri dalam setiap langkah prosesi. Semoga ke depannya, lebih banyak cerita serupa yang terjalin, menjadikan Larantuka bukan hanya destinasi wisata, melainkan simbol keberagaman dan kebersamaan yang melintasi batas geografis.

Pos terkait