123Berita – 08 April 2026 | Dalam sebuah pernyataan tertulis yang disebarkan pada hari Rabu, putra tertua pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengutuk tegas pembunuhan Majid Khademi, kepala Organisasi Perlindungan Intelijen Korps Revolusi Islam (IRGC). Khamenei menegaskan bahwa aksi pembunuhan tersebut merupakan tindakan keji yang harus dikecam oleh seluruh umat manusia, sekaligus menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai “teroris” yang berada di balik serangan tersebut.
Majid Khademi, yang dikenal sebagai salah satu pejabat intelijen paling berpengaruh di Iran, tewas dalam penembakan di wilayah barat Iran pada tanggal 23 Maret 2024. Penembakan itu terjadi di sebuah pertemuan internal IRGC, dan menewaskan Khademi serta beberapa anggota stafnya. Pemerintah Iran segera menuduh pihak asing, terutama Israel, sebagai dalang utama aksi tersebut, meski tidak ada bukti publik yang menguatkan tuduhan itu.
Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang selama ini dikenal vokal dalam mengkritik kebijakan luar negeri Barat, menulis surat pernyataan yang menekankan penghormatan mendalam kepada Khademi. Ia menyebut Khademi sebagai sosok yang “dedikasinya tidak tergoyahkan dalam melindungi kedaulatan dan keamanan negara”. Khamenei menambahkan bahwa kematian Khademi bukan hanya kehilangan bagi IRGC, melainkan juga bagi seluruh rakyat Iran yang menilai beliau sebagai pahlawan dalam melawan ancaman eksternal.
Selain memberikan penghormatan, Khamenei secara tegas menyebut Amerika Serikat dan Israel sebagai teroris internasional. Ia menuduh kedua negara tersebut melakukan aksi terorisme negara (state‑terrorism) yang menargetkan pejabat tinggi Iran. Dalam pernyataannya, Khamenei menulis, “Kita tidak akan tinggal diam ketika terorisme negara menembus wilayah kami dan merenggut nyawa pahlawan‑pahlawan kami. Amerika Serikat dan Israel harus bertanggung jawab atas tindakan keji ini.”
Pernyataan Khamenei memicu reaksi beragam di dalam negeri maupun luar negeri. Di dalam Iran, partai-partai konservatif menyambut baik sikap keras Khamenei, menganggapnya sebagai bukti komitmen rezim terhadap kedaulatan nasional. Sementara itu, para pengamat politik menilai bahwa pernyataan ini dapat meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama mengingat hubungan yang sudah tegang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menolak semua tuduhan tersebut, menyatakan bahwa mereka tidak terlibat dalam pembunuhan Khademi. Sebuah juru bicara Departemen Luar Negeri menegaskan, “Kami mengecam segala bentuk kekerasan, termasuk pembunuhan pejabat pemerintah Iran, namun kami tidak memiliki peran apapun dalam insiden ini.” Pemerintah Israel pun memberikan pernyataan singkat yang menolak semua tuduhan, menambahkan bahwa mereka tidak akan menanggapi serangan tanpa bukti yang jelas.
Analisis para pakar hubungan internasional menunjukkan bahwa pernyataan Khamenei dapat dimaknai sebagai upaya memperkuat narasi anti‑Barat di dalam negeri Iran, sekaligus menegaskan posisi Iran sebagai negara yang menolak intervensi luar. Dr. Farhad Alizadeh, dosen ilmu politik di Universitas Tehran, berpendapat, “Pernyataan Khamenei tidak hanya merupakan reaksi emosional terhadap pembunuhan, melainkan juga strategi politik untuk menggalang dukungan domestik dengan menuduh musuh eksternal.”
Serangan terhadap pejabat intelijen Iran tidaklah baru. Sebelumnya, pada tahun 2020, seorang pejabat senior IRGC juga menjadi target pembunuhan yang diduga berhubungan dengan konflik regional. Namun, kematian Majid Khademi menandai eskalasi yang lebih signifikan mengingat posisinya yang sangat strategis dalam struktur keamanan Iran.
Berbagai organisasi hak asasi manusia internasional menyerukan penyelidikan independen atas pembunuhan tersebut. Mereka menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas, serta menolak segala bentuk tuduhan yang belum didukung oleh bukti konkret. Salah satu pernyataan dari Human Rights Watch berbunyi, “Setiap pembunuhan pejabat publik harus diselidiki secara menyeluruh, tanpa memihak, untuk memastikan keadilan bagi korban dan keluarganya.”
Seiring dengan meningkatnya ketegangan, Iran telah meningkatkan kesiapan militer di beberapa wilayah perbatasan, khususnya di sekitar zona konflik Suriah dan Irak. Pemerintah Tehran menegaskan bahwa mereka akan memperkuat pertahanan nasional untuk mengantisipasi potensi tindakan balasan dari pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab.
Secara keseluruhan, pernyataan Mojtaba Khamenei menegaskan kembali posisi Iran yang keras terhadap apa yang dianggapnya sebagai intervensi asing. Sementara itu, dunia internasional menunggu perkembangan selanjutnya, termasuk kemungkinan penyelidikan yang melibatkan badan‑badan intelijen internasional. Apapun hasilnya, insiden ini menambah daftar panjang konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, serta menegaskan pentingnya dialog diplomatik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Kesimpulannya, pembunuhan Majid Khademi tidak hanya menjadi tragedi pribadi bagi keluarga dan rekan kerjanya, tetapi juga menimbulkan dampak geopolitik yang signifikan. Pernyataan keras dari Mojtaba Khamenei menyoroti ketegangan yang terus memanas antara Iran dan negara‑negara Barat, sekaligus menegaskan komitmen Tehran untuk melindungi kepentingan nasionalnya dengan cara apapun yang dianggap perlu.





