Menyusuri Jejak Religi di Pancoran: Masjid Jami At-Taubah dan Makam Habib Kuncung

Menyusuri Jejak Religi di Pancoran: Masjid Jami At-Taubah dan Makam Habib Kuncung
Menyusuri Jejak Religi di Pancoran: Masjid Jami At-Taubah dan Makam Habib Kuncung

123Berita – 08 April 2026 | Pancoran, salah satu wilayah di Jakarta Selatan, kini semakin dikenal sebagai destinasi wisata religi yang memadukan nilai sejarah, kepercayaan, dan keindahan arsitektur. Dua ikon utama yang menjadi magnet kunjungan adalah Masjid Jami At-Taubah dan makam Habib Kuncung, sosok ulama yang dihormati oleh warga setempat. Kedatangan para peziarah, wisatawan, sekaligus peneliti sejarah menambah kehidupan dinamis di kawasan tersebut.

Masjid Jami At-Taubah berdiri megah dengan gaya arsitektur modern yang tetap menampilkan elemen tradisional Islam. Bangunan utama menampilkan kubah berwarna putih bersih, menara setinggi 30 meter, serta halaman luas yang dikelilingi pepohonan rindang. Di dalamnya, interior masjid dihiasi kaligrafi Arab yang menenangkan, serta lampu gantung kristal yang menyinari ruang sholat utama. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga berperan sebagai pusat kegiatan sosial, seperti pengajian rutin, pelatihan Al-Qur’an, dan bakti sosial untuk warga sekitar.

Bacaan Lainnya

Makam Habib Kuncung terletak di dalam kompleks masjid, tepat di sebelah barat area parkir. Makam tersebut ditandai dengan batu nisan berukir nama lengkap Habib Kuncung beserta tahun kelahiran dan wafatnya. Keberadaannya menjadi saksi bisu perjalanan hidup seorang ulama yang dikenal luas karena kepeduliannya terhadap pendidikan agama dan bantuan kemanusiaan. Masyarakat setempat mempercayai bahwa makam ini memiliki aura magis; banyak yang datang untuk berdoa, memohon keberkahan, atau sekadar menelusuri jejak sejarah spiritual kota.

Sejarah singkat Habib Kuncung menunjukkan bahwa ia lahir di era kolonial, menempuh pendidikan agama tradisional di pesantren-pesantren terkemuka, dan kemudian menetap di Jakarta pada pertengahan abad ke-20. Di masa itu, ia aktif dalam membangun jaringan keagamaan yang menghubungkan berbagai komunitas Muslim di ibu kota. Salah satu pencapaian terbesar Habib Kuncung adalah pendirian Masjid Jami At-Taubah pada tahun 1975, yang pada awalnya hanyalah sebuah musholla sederhana. Berkat upaya dan dukungan umat, masjid tersebut berkembang menjadi tempat ibadah yang megah seperti yang terlihat saat ini.

Berbagai cerita turun-temurun menambah mistik pada makam Habib Kuncung. Sebagian orang mengklaim pernah merasakan getaran atau aroma harum ketika berada di sekitar nisan, sementara yang lain melaporkan pengalaman mimpi yang diyakini sebagai petunjuk spiritual. Fenomena-fenomena ini tidak hanya menarik pengunjung lokal, melainkan juga wisatawan mancanegara yang tertarik dengan budaya dan tradisi Islam di Indonesia.

Keberadaan Masjid Jami At-Taubah dan makam Habib Kuncung memberikan dampak ekonomi positif bagi wilayah Pancoran. Bisnis kuliner, toko suvenir, serta penyedia transportasi lokal mengalami peningkatan kunjungan. Pemerintah daerah pun menanggapi hal ini dengan memperbaiki infrastruktur, seperti penambahan jalur pejalan kaki, penerangan jalan, serta fasilitas parkir yang lebih luas. Upaya tersebut diharapkan dapat menyeimbangkan antara pelestarian nilai religius dan kenyamanan pengunjung.

Bagi para wisatawan yang berencana mengunjungi lokasi ini, ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan:

  • Waktu kunjungan: Pagi hari (sebelum sholat Dzuhur) atau sore menjelang maghrib biasanya lebih sepi, memungkinkan pengalaman yang lebih tenang.
  • Pakaian: Kenakan busana sopan sesuai kaidah berpakaian muslim, seperti hijab bagi wanita dan pakaian yang menutupi tubuh bagi pria.
  • Etika: Hormati proses ibadah yang sedang berlangsung, hindari berisik, dan ikuti aturan yang ditetapkan pengelola masjid.
  • Donasi: Pengunjung dapat menyumbangkan dana atau barang kebutuhan masjid, yang biasanya diterima di loket khusus.
  • Pengambilan foto: Di area masjid diperbolehkan mengambil foto, namun pada area makam sebaiknya meminta izin terlebih dahulu dan tidak menempatkan flash yang mengganggu.

Seiring dengan meningkatnya minat publik terhadap wisata religi, Masjid Jami At-Taubah dan makam Habib Kuncung berpotensi menjadi contoh bagaimana warisan spiritual dapat dipadukan dengan pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Upaya pelestarian tidak hanya melibatkan pihak keagamaan, melainkan juga pemerintah, akademisi, serta komunitas lokal. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa nilai historis dan keagamaan tetap terjaga, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Ke depan, rencana pengembangan meliputi penambahan fasilitas edukatif, seperti museum mini yang menampilkan foto-foto, dokumen, dan artefak terkait kehidupan Habib Kuncung serta proses pembangunan masjid. Program ini diharapkan dapat menarik kalangan pelajar dan peneliti, sekaligus menambah dimensi edukatif bagi wisatawan yang ingin memahami konteks sejarah secara lebih mendalam.

Dengan segala keunikan dan nilai yang dimilikinya, Masjid Jami At-Taubah serta makam Habib Kuncung tidak sekadar menjadi tempat ibadah, melainkan juga simbol kekayaan budaya religius Jakarta Selatan. Bagi siapa pun yang mencari pengalaman spiritual sekaligus menelusuri jejak sejarah, destinasi ini menawarkan kombinasi yang jarang ditemukan di tengah hiruk‑pikuk kota metropolitan.

Pos terkait