Mengenal Probosutedjo: Pengusaha Era Orde Baru, Adik Tiri Soeharto, dan Pendiri Universitas Mercu Buana

Mengenal Probosutedjo: Pengusaha Era Orde Baru, Adik Tiri Soeharto, dan Pendiri Universitas Mercu Buana
Mengenal Probosutedjo: Pengusaha Era Orde Baru, Adik Tiri Soeharto, dan Pendiri Universitas Mercu Buana

123Berita – 23 April 2026 | Probosutedjo, yang lebih dikenal sebagai sosok pengusaha terkemuka pada masa Orde Baru, memegang peranan penting dalam jaringan bisnis dan pendidikan Indonesia. Sebagai adik tiri Presiden Soeharto, ia menorehkan jejak karier yang menggabungkan kekuatan politik dan visi wirausaha, berujung pada pendirian Universitas Mercu Buana yang kini menjadi institusi pendidikan tinggi ternama.

Awal Kehidupan dan Hubungan Keluarga

Lahir pada 28 Agustus 1939 di Kabupaten Gombong, Central Java, Probosutedjo menapaki kehidupan sejak usia muda dengan latar belakang keluarga yang kemudian terhubung dengan kekuasaan. Ia menjadi adik tiri Soeharto setelah ayahnya, Raden Mas Syarif, menikah dengan ibu tiri Soeharto. Kedekatan ini membuka pintu masuk ke lingkaran elit politik, namun Probosutedjo tidak semata-mata mengandalkan relasi; ia membangun reputasinya lewat usaha-usaha mandiri.

Bacaan Lainnya

Karier Bisnis di Era Orde Baru

Pada awal 1970-an, Probosutedjo memulai langkahnya di dunia usaha dengan mendirikan PT. Bumi Taruna Sejahtera, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kontruksi dan pengembangan properti. Melalui jaringan yang luas, perusahaan ini berhasil mendapatkan sejumlah proyek strategis, termasuk pembangunan gedung‑gedung pemerintahan dan fasilitas publik. Keberhasilan tersebut menjadikannya salah satu tokoh bisnis yang paling berpengaruh pada era tersebut.

Selain bidang konstruksi, Probosutedjo juga menancapkan kepalanya di sektor perbankan, pertambangan, dan agribisnis. Ia menjadi anggota Dewan Direksi Bank Central Asia (BCA) pada pertengahan 1980-an, sekaligus mengelola perusahaan tambang batu bara di Kalimantan. Diversifikasi usaha ini tidak hanya memperluas portofolio bisnisnya, tetapi juga memperkuat posisi tawar dalam negosiasi proyek‑proyek besar pemerintah.

Pendirian Universitas Mercu Buana

Visi pendidikan menjadi titik balik penting dalam perjalanan Probosutedjo. Pada tahun 1985, ia mendirikan Universitas Mercu Buana di Jakarta, dengan motto “Maju Bersama”. Tujuan utama pendirian universitas ini adalah menyediakan akses pendidikan tinggi yang terjangkau namun berkualitas, khususnya bagi kalangan menengah ke bawah yang selama ini kurang terlayani.

Awalnya, Mercu Buana memulai dengan tiga program studi utama: Ekonomi, Teknik Sipil, dan Ilmu Hukum. Berbekal dana pribadi dan dukungan jaringan politik, kampus tersebut cepat berkembang, menambah fakultas‑fakultas lain seperti Kedokteran, Teknik Informatika, dan Manajemen. Hingga kini, Universitas Mercu Buana telah meluluskan lebih dari 200.000 alumni yang tersebar di berbagai sektor industri, pemerintahan, dan akademik.

Kontroversi dan Kritik

Meskipun kesuksesannya tak dapat dipungkiri, perjalanan Probosutedjo tidak lepas dari sorotan kritis. Keterkaitannya dengan rezim Soeharto menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dalam perolehan kontrak pemerintah. Beberapa pengamat menilai bahwa kedekatan politiknya memberi keistimewaan yang tidak didapatkan oleh pengusaha lain. Namun, pendukungnya menegaskan bahwa kualitas kerja dan inovasi yang dibawa perusahaan-perusahaannya menjadi faktor utama keberhasilan.

Pada akhir 1990-an, ketika krisis ekonomi melanda Indonesia, beberapa perusahaan milik Probosutedjo mengalami tekanan keuangan. Ia kemudian melakukan restrukturisasi aset, menjual sebagian unit usaha, dan mengalihkan fokus pada sektor pendidikan serta layanan keuangan yang lebih stabil.

Warisan dan Pengaruh Terhadap Pendidikan Tinggi

Setelah pensiun dari aktivitas bisnis intensif, Probosutedjo menaruh energinya pada pengembangan Mercu Buana. Ia memperkenalkan program beasiswa untuk mahasiswa berprestasi dari daerah terpencil, serta menjalin kerja sama dengan universitas luar negeri untuk program pertukaran pelajar. Upaya ini memperkuat reputasi Mercu Buana sebagai lembaga yang berorientasi internasional.

Warisan yang paling menonjol adalah pendekatan holistik terhadap pendidikan, yang menekankan tidak hanya pada teori, tetapi juga pada praktek lapangan. Banyak lulusan Mercu Buana yang kini memegang posisi strategis di perusahaan multinasional, pemerintahan, serta organisasi non‑profit, mencerminkan dampak jangka panjang visi Probosutedjo.

Kesimpulan

Probosutedjo berhasil mengukir sejarah sebagai pengusaha yang mampu memadukan jaringan politik dengan kemampuan wirausaha, sekaligus menyumbangkan kontribusi signifikan pada dunia pendidikan Indonesia melalui Universitas Mercu Buana. Meskipun perjalanan kariernya tidak lepas dari kontroversi, jejaknya tetap menjadi contoh bagaimana visi bisnis dapat bertransformasi menjadi legacy sosial yang berdampak luas.

Pos terkait