123Berita – 07 April 2026 | Di sebuah bengkel sederhana di Cipondoh, Kota Tangerang, aktivitas para pengrajin sedang memunculkan kembali sosok ikonik budaya Betawi, ondel-ondel. Pada Selasa, 7 April 2026, mata publik dapat menyaksikan proses pembuatan ondel-ondel yang menggabungkan ketrampilan tradisional dengan sentuhan kreativitas modern. Dari rangka kayu yang dirakit hingga penambahan pakaian berwarna cerah, setiap langkah mengungkapkan dedikasi para seniman lokal dalam melestarikan warisan budaya Betawi.
Ondel-ondel, yang dikenal sebagai boneka raksasa berbadan besar dan wajah menakutkan, telah menjadi simbol identitas Betawi sejak zaman kolonial Belanda. Awalnya berfungsi sebagai penjaga kampung, kini ia beralih menjadi elemen penting dalam pertunjukan seni, parade, dan perayaan tradisional. Di Cipondoh, permintaan terhadap ondel-ondel tidak hanya datang dari warga setempat, melainkan juga dari instansi pemerintah, penyelenggara acara, serta pecinta budaya yang ingin menambah nuansa Betawi pada berbagai event.
Proses pembuatan dimulai dengan pemilihan kayu keras, biasanya dari jenis jati atau mahoni, yang dipotong dan dibentuk menjadi kerangka dasar setinggi tiga hingga empat meter. Pengrajin kemudian mengukir detail wajah, termasuk mata besar, hidung melengkung, dan mulut yang sengaja dibuat menganga untuk menimbulkan kesan menakutkan namun tetap menghibur. Setiap detail dikerjakan secara manual, mengandalkan pengalaman bertahun‑tahun dan ketelitian tinggi.
Setelah rangka selesai, tahap selanjutnya adalah penambahan anyaman bambu atau anyaman rotan sebagai penopang tubuh, yang memberikan fleksibilitas pada gerakan ondel-ondel saat dipentaskan. Selanjutnya, penutup tubuh dilapisi dengan kain tradisional Betawi yang berwarna-warni, seperti batik pekalongan atau songket, yang dipilih sesuai selera pemesan. Pakaian tersebut tidak hanya memperindah tampilan, tetapi juga menambah nilai estetika yang kuat pada karya.
Proses pengecatan wajah menjadi bagian paling menantang. Warna merah menyala, kuning cerah, dan biru tua dipadukan secara cermat untuk menonjolkan ekspresi karakter. Pengrajin biasanya menggunakan cat berbahan dasar akrilik yang tahan lama, mengingat ondel-ondel sering dipajang di luar ruangan. Di akhir tahap, aksesori seperti topi tradisional, tasbih, atau bahkan lampu LED dipasang untuk menambah kesan modern dan menarik perhatian penonton.
Harga ondel-ondel di Cipondoh sangat beragam, menyesuaikan ukuran, bahan, serta tingkat detail yang diminta. Untuk ondel-ondel berukuran kecil, harga mulai dari Rp400.000, cocok untuk acara komunitas atau hiasan rumah. Sementara ondel-ondel berukuran besar, yang biasanya dipasangkan menjadi dua unit untuk pertunjukan, dapat mencapai Rp4.000.000 per pasang. Harga tersebut mencakup seluruh proses produksi, mulai dari bahan baku hingga finishing akhir.
Para pengrajin tidak hanya sekadar menjual produk, melainkan juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya melestarikan kebudayaan Betawi. Mereka secara rutin mengadakan workshop bagi pemuda lokal, mengajarkan teknik dasar pembuatan ondel-ondel, serta menekankan nilai historis dan sosial dari boneka ini. Upaya tersebut diharapkan dapat menumbuhkan generasi baru yang menghargai warisan budaya dan mampu melanjutkan tradisi secara berkelanjutan.
Selain aspek ekonomi, keberadaan ondel-ondel juga berperan dalam memperkuat identitas komunitas Betawi di wilayah Tangerang. Pada setiap perayaan Hari Kemerdekaan, Festival Budaya Betawi, atau pernikahan tradisional, kehadiran ondel-ondel menjadi magnet visual yang menghubungkan generasi tua dengan generasi muda. Kegembiraan warga ketika menyaksikan ondel-ondel menari atau berkeliling menandakan kebanggaan kolektif akan warisan budaya yang masih hidup.
Dalam konteks pasar kreatif, ondel-ondel Cipondoh kini mulai menembus pasar digital. Beberapa pengrajin telah membuka toko online, memanfaatkan platform e‑commerce untuk menjual produk mereka ke seluruh Indonesia bahkan mancanegara. Penjualan online tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan desainer interior, event organizer, dan museum budaya yang ingin menambahkan sentuhan tradisional pada proyek mereka.
Pemerintah daerah Tangerang juga memberikan dukungan berupa pelatihan, subsidi bahan baku, serta promosi pada event pariwisata. Kebijakan ini bertujuan untuk menguatkan ekosistem kreatif lokal, meningkatkan daya saing produk tradisional, serta menciptakan lapangan kerja baru bagi warga sekitar.
Melihat antusiasme pasar dan dukungan institusional, prospek masa depan ondel-ondel di Cipondoh tampak cerah. Inovasi desain, penggunaan material ramah lingkungan, serta integrasi teknologi seperti lampu LED atau sensor gerak menjadi tren yang mulai diadopsi. Namun, para pengrajin menegaskan bahwa esensi utama tetap pada keaslian budaya Betawi, sehingga setiap inovasi harus tetap menghormati nilai tradisional.
Secara keseluruhan, kegiatan pembuatan ondel-ondel di Cipondoh bukan sekadar proses produksi barang, melainkan sebuah perjalanan budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Dari kayu mentah hingga hasil jadi yang menakjubkan, setiap langkah mencerminkan komitmen para pengrajin dalam melestarikan identitas Betawi. Dengan harga yang kompetitif, dukungan pemerintah, serta semangat inovasi, ondel-ondel Cipondoh siap terus menjadi duta budaya yang menginspirasi generasi selanjutnya.





