123Berita – 07 April 2026 | Di Indonesia, kebiasaan membersihkan diri setelah buang air kecil atau besar hampir selalu mengandalkan aliran air. Praktik ini dianggap lebih higienis dan nyaman oleh mayoritas masyarakat. Namun, ketika berinteraksi dengan wisatawan atau ekspatriat Barat, sering muncul pertanyaan mengapa mereka lebih memilih tisu kering daripada air. Fenomena ini menarik perhatian para ahli kebersihan dan budaya, yang kemudian memberikan penjelasan ilmiah dan sosial tentang perbedaan kebiasaan tersebut.
Namun, tidak semua orang setuju dengan metode ini. Bagi banyak orang Barat, terutama yang berasal dari negara-negara dengan infrastruktur toilet yang berbeda, tisu kering menjadi pilihan standar. Dr. Emily Hart, seorang pakar kebersihan internasional yang pernah meneliti kebiasaan toilet di lebih dari 20 negara, menjelaskan alasan psikologis di balik pilihan tersebut. “Kebiasaan penggunaan tisu telah tertanam sejak kecil. Bagi mereka, rasa bersih diukur dari tidak ada residu basah atau terasa lembab pada kulit. Ini juga berkaitan dengan persepsi kebersihan yang dibentuk oleh budaya konsumerisme dan ketersediaan produk tisu yang melimpah,” kata Dr. Hart.
Perbedaan infrastruktur juga memainkan peran penting. Di banyak negara Barat, toilet dengan sistem flush dan tidak dilengkapi dengan sambungan air khusus untuk pencucian pribadi. Hal ini membuat penggunaan tisu menjadi pilihan praktis dan efisien. Di sisi lain, Indonesia memiliki tradisi penggunaan gayung atau bidet sederhana yang terintegrasi dalam desain kamar mandi. “Ketersediaan fasilitas air mempengaruhi perilaku kebersihan. Bila air mudah diakses, orang cenderung memanfaatkannya,” tambah Dr. Arif.
Selain faktor infrastruktur dan budaya, ada pula pertimbangan lingkungan. Menurut laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, penggunaan tisu kertas dalam jumlah besar berkontribusi pada deforestasi dan peningkatan sampah padat. “Setiap lembar tisu mengandung serat kayu yang berasal dari hutan. Penggunaan berlebihan dapat meningkatkan tekanan pada sumber daya alam,” ujar Dr. Arif. Ia menambahkan bahwa penggunaan air, bila dilakukan dengan bijak, dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Namun, tidak semua tisu bersifat sama. Ada tisu yang terbuat dari bahan daur ulang atau bambu yang lebih ramah lingkungan. Dr. Emily Hart menyarankan agar konsumen Barat mulai mempertimbangkan opsi tersebut sebagai langkah transisi. “Memilih tisu biodegradable atau yang terbuat dari bambu dapat mengurangi dampak lingkungan tanpa mengorbankan kebiasaan pribadi,” katanya.
Berikut adalah perbandingan singkat antara kedua metode berdasarkan pendapat para ahli:
- Kebersihan: Air dapat membersihkan lebih efektif; tisu dapat meninggalkan residu bila tidak cukup banyak.
- Kenyamanan: Air memberikan sensasi sejuk; tisu menawarkan kemudahan dan kecepatan.
- Risiko iritasi: Tisu kasar dapat menyebabkan iritasi; air mengurangi gesekan berlebih.
- Dampak lingkungan: Tisu kertas meningkatkan sampah; penggunaan air membutuhkan sistem pembuangan yang efisien.
- Biaya: Air lebih murah dalam jangka panjang; tisu memerlukan pembelian rutin.
Para pakar juga menekankan pentingnya edukasi lintas budaya, terutama di era globalisasi di mana interaksi antarbangsa semakin intens. Dr. Arif menyarankan agar penyedia layanan publik, seperti hotel dan rumah sakit, menyediakan kedua opsi—air dan tisu—untuk menghormati preferensi tamu. “Memberikan pilihan tidak hanya meningkatkan kenyamanan, tetapi juga mengurangi potensi konflik budaya,” jelasnya.
Sementara itu, Dr. Emily menyoroti perlunya kampanye sadar lingkungan di negara-negara Barat. “Kampanye yang menekankan manfaat penggunaan air, terutama di daerah dengan akses bersih, dapat mengubah persepsi publik dan mengurangi ketergantungan pada tisu plastik,” ujarnya.
Di Indonesia, beberapa kota besar telah mulai mengadopsi sistem bidet elektronik yang menggabungkan semprotan air dengan kontrol suhu. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan, tetapi juga membantu mengurangi konsumsi tisu. Menurut survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023, penggunaan bidet meningkat sebesar 12% di wilayah perkotaan, menandakan pergeseran perilaku kebersihan yang signifikan.
Kesimpulannya, pilihan antara air dan tisu dalam proses cebok bukan sekadar soal preferensi pribadi, melainkan merupakan hasil interaksi kompleks antara budaya, infrastruktur, kesehatan, dan lingkungan. Dengan memahami alasan di balik kebiasaan masing-masing pihak, baik warga Indonesia maupun bule dapat menemukan solusi yang menghormati kebutuhan dan nilai bersama.