Menag Dorong Perluasan Program Makan Bergizi Gratis di Madrasah dan Pondok Pesantren: Santri Dijadikan Kunci Utama

Menag Dorong Perluasan Program Makan Bergizi Gratis di Madrasah dan Pondok Pesantren: Santri Dijadikan Kunci Utama
Menag Dorong Perluasan Program Makan Bergizi Gratis di Madrasah dan Pondok Pesantren: Santri Dijadikan Kunci Utama

123Berita – 05 April 2026 | Menlu Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya memperluas jangkauan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan madrasah serta pondok pesantren. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan pada acara koordinasi kebijakan kementerian, Menag menekankan bahwa peningkatan cakupan MBG tidak hanya soal logistik, melainkan juga memerlukan partisipasi aktif para santri sebagai agen perubahan.

Program MBG, yang diluncurkan sejak 2019, bertujuan menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak usia sekolah, khususnya di wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Hingga kini, program tersebut telah mencakup ribuan sekolah negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Namun, Menag mengakui bahwa masih ada celah signifikan di sektor pendidikan berbasis agama, terutama madrasah dan pesantren, yang belum sepenuhnya terjangkau.

Bacaan Lainnya

“Kita harus memastikan setiap anak di madrasah dan pesantren mendapatkan asupan gizi yang memadai. Tanpa gizi yang cukup, proses belajar mengajar tidak akan optimal,” ujar Nasaruddin Umar. “Oleh karena itu, kami berkomitmen memperluas jangkauan MBG, dan santri akan menjadi ujung tombak dalam upaya ini.”

Strategi yang diusulkan meliputi beberapa langkah kunci:

  • Pembentukan Tim MBG di Setiap Madrasah dan Pesantren: Tim ini akan terdiri dari kepala madrasah, pengurus pondok, serta perwakilan santri yang dipilih berdasarkan kompetensi dan motivasi.
  • Pelatihan Gizi dan Manajemen Logistik: Santri akan diberikan pelatihan tentang pentingnya gizi, prosedur penyimpanan makanan, serta cara mendistribusikan makanan secara higienis.
  • Kolaborasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Pemerintah Daerah: Kementerian Agama akan menjalin kemitraan dengan LSM yang memiliki pengalaman dalam program gizi serta pemerintah provinsi/kabupaten untuk memastikan dukungan anggaran dan infrastruktur.
  • Monitoring dan Evaluasi Berbasis Teknologi: Penggunaan aplikasi mobile untuk mencatat penerima manfaat, stok makanan, serta laporan harian akan mempermudah pengawasan.

Menag juga menyinggung pentingnya peran orang tua dan masyarakat sekitar dalam mendukung program MBG. “Kita tidak dapat menjalankan program ini secara terisolasi. Dukungan keluarga dan warga setempat akan memperkuat keberlanjutan program,” tambahnya.

Selain manfaat gizi, program MBG diharapkan dapat meningkatkan tingkat partisipasi santri dalam kegiatan sosial, menumbuhkan rasa tanggung jawab, serta mempererat jaringan antara institusi pendidikan agama dan pemerintah. Menurut penelitian yang dikutip oleh Kementerian, anak yang mendapatkan makanan bergizi secara konsisten memiliki peningkatan konsentrasi belajar hingga 15 persen dibandingkan yang tidak.

Dalam upaya mempercepat pelaksanaan, Menag menargetkan penambahan 2.000 madrasah dan 500 pondok pesantren dalam fase pertama ekspansi MBG pada tahun 2024/2025. Anggaran tambahan sebesar Rp 150 miliar akan dialokasikan khusus untuk pembelian bahan makanan, peralatan dapur, serta pelatihan santri.

Para tokoh pendidikan agama menyambut baik inisiatif tersebut. Ketua Dewan Persatuan Madrasah Nasional (DPMN), Dr. H. Ahmad Zaini, menyatakan, “Program MBG yang melibatkan santri memberi nilai lebih. Santri bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama yang dapat menyalurkan manfaat kepada rekan-rekannya.”

Namun, tantangan tetap ada. Beberapa pesantren yang berada di wilayah dengan infrastruktur jalan yang buruk mengkhawatirkan keterlambatan pengiriman bahan makanan. Menag mengakui hal ini dan berjanji akan mengoptimalkan jaringan logistik, termasuk memanfaatkan armada pemerintah daerah dan kerja sama dengan perusahaan transportasi.

Dengan menempatkan santri sebagai ujung tombak, diharapkan program MBG tidak hanya menjadi sekadar bantuan makanan, melainkan sebuah platform pendidikan hidup yang menumbuhkan kepedulian sosial. Menag menutup pernyataannya dengan harapan, “Jika santri dapat merasakan manfaat langsung, mereka akan menjadi duta gizi di lingkungan masing-masing, menularkan kebiasaan makan sehat kepada keluarga dan masyarakat luas.”

Kesimpulannya, upaya memperluas jangkauan MBG di madrasah dan pondok pesantren merupakan langkah strategis yang menggabungkan aspek kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan sosial. Dengan melibatkan santri sebagai pelaku utama, program ini berpotensi menghasilkan dampak berkelanjutan bagi generasi muda Indonesia, sekaligus memperkuat sinergi antara institusi keagamaan dan pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa.

Pos terkait