123Berita – 06 April 2026 | Jumat, 5 April 2026, Persija Jakarta kembali menelan kekalahan di Liga Super 2025/2026 setelah tersingkir dengan skor 2-3 dari Bhayangkara FC. Di balik hasil yang menyedihkan itu, pelatih tim biru, Mauricio Souza, mengungkapkan satu penyebab utama yang mempersulit skuadnya meraih poin penting: kartu merah yang diberikan kepada bek kiri Jordi Amat pada menit ke-30 babak pertama.
Kejadian tersebut terjadi setelah amukan Amat terhadap pemain lawan yang berujung pada pelanggaran keras. Wasit langsung mengeluarkan kartu merah, memaksa Persija bermain dengan sepuluh pemain selama lebih dari 60 menit. “Kehilangan Jordi di tengah pertandingan membuat kami kehilangan keseimbangan di lini belakang serta menurunkan opsi serangan dari sisi kiri,” ujar Souza dalam konferensi pers usai laga.
- Penurunan penguasaan bola: Persija hanya menguasai 44% waktu permainan setelah pengurangan pemain.
- Peningkatan tekanan lawan: Bhayangkara meningkatkan serangan sayap kanan, memanfaatkan ruang yang ditinggalkan oleh Amat.
- Kesulitan dalam transisi: Tanpa Amat, perpindahan bola dari pertahanan ke lini serang menjadi lambat dan kurang terarah.
Statistik pertandingan mencerminkan dampak tersebut. Sebelum kartu merah, Persija mencatat 12 tembakan, termasuk 5 tembakan tepat sasaran, serta menguasai 58% penguasaan bola. Setelah pengurangan pemain, angka tersebut menurun drastis menjadi 6 tembakan, hanya 2 di antaranya tepat sasaran, dan penguasaan bola turun menjadi 34%.
Selain faktor kartu merah, Souza menambahkan bahwa beberapa isu lain turut memperparah hasil akhir. “Kami juga mengalami kekurangan konsentrasi pada menit-menit akhir, terutama ketika Bhayangkara menambah tekanan. Selain itu, beberapa keputusan wasit yang kontroversial, seperti penalti yang tidak diberikan kepada kami pada menit ke-78, menambah beban mental tim,” katanya.
Selama paruh pertama, Persija sempat unggul 1-0 berkat gol cantik dari striker Andi Prasetyo yang memanfaatkan umpan silang dari sayap kanan. Namun, Bhayangkara menyamakan kedudukan pada menit ke-22 melalui tendangan bebas yang dieksekusi dengan presisi oleh gelandang tengah mereka, Rafi. Setelah pengurangan Jordi, Bhayangkara mencetak dua gol tambahan, masing-masing pada menit ke-55 dan 71, yang mengamankan kemenangan mereka.
“Kita harus belajar dari kekalahan ini,” tegas Souza. “Kartu merah memang mengubah dinamika pertandingan, namun kami harus siap mengatasi situasi serupa di masa depan. Saya akan meninjau kembali pola permainan dan menyiapkan skema alternatif yang dapat dijalankan meski dengan pemain lebih sedikit.”
Para pemain Persija pun mengakui kesulitan yang dirasakan setelah pengurangan pemain. Gelandang tengah, Rudi Hartono, menyatakan, “Saat Jordi keluar, kami kehilangan kepercayaan diri di lini pertahanan. Kami berusaha menutupi, tapi ruang-ruang kosong terlalu banyak untuk kami kontrol.”
Dalam rapat internal tim, Souza menekankan pentingnya disiplin pemain dalam menghadapi situasi kritis. “Kartu merah bukan sekadar hukuman individu, melainkan beban kolektif. Setiap pemain harus memahami konsekuensi dari tindakan mereka terhadap seluruh tim,” ujarnya.
Persija Jakarta kini menatap pertandingan berikutnya dengan tekad memperbaiki performa. Pelatih muda tersebut berencana mengadakan sesi taktik intensif, menekankan pada pergerakan tanpa Jordi, serta meningkatkan ketahanan fisik pemain untuk menghadapi tekanan lawan yang intens.
Kesimpulannya, kegagalan Persija Jakarta melawan Bhayangkara FC pada laga 2-3 bukan semata-mata karena kualitas lawan yang lebih unggul, melainkan dipicu oleh kartu merah kepada Jordi Amat yang mengganggu struktur tim. Kombinasi kehilangan pemain kunci, penurunan penguasaan bola, serta beberapa keputusan kontroversial dari wasit turut menambah beban tim. Ke depan, Mauricio Souza bertekad memperbaiki disiplin, menyiapkan taktik alternatif, dan meningkatkan konsentrasi agar Persija dapat kembali bersaing di puncak klasemen Super League 2025-2026.





