123Berita – 04 April 2026 | Laura Basuki kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan pengalaman pribadinya selama proses produksi film “Yohanna” yang digelar di pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Sebagai aktris senior yang telah menorehkan banyak peran ikonik, Laura memilih untuk menantang adrenalin dan menelusuri sisi spiritual karakter biarawati yang ia perankan. Pengalaman ini tidak hanya menambah dimensi baru bagi kariernya, tetapi juga memberikan wawasan mendalam tentang kebudayaan lokal, tradisi keagamaan, dan tantangan logistik yang dihadapi dalam produksi film di daerah terpencil.
Film “Yohanna” mengangkat kisah seorang biarawati yang terlibat dalam konflik moral dan spiritual di tengah masyarakat tradisional. Laura menjelaskan bahwa peran ini menuntutnya untuk tidak sekadar menghafal dialog, melainkan meresapi kehidupan rohaniah sang tokoh. “Saya harus belajar cara berdoa, cara menjalankan ritus harian biarawati, bahkan menyesuaikan pola tidur dan pola makan sesuai aturan biara,” ujar Laura dalam sebuah wawancara eksklusif. Ia menambahkan bahwa proses pembelajaran tersebut memperkaya pemahaman pribadi tentang nilai‑nilai keagamaan yang selama ini hanya ia kenal lewat buku atau film.
Lokasi syuting di Sumba menjadi elemen penting dalam narasi film. Pulau ini terkenal dengan keindahan alamnya yang masih alami, namun juga memiliki infrastruktur terbatas. Laura mengakui bahwa perjalanan ke desa‑desa terpencil di Sumba memaksa tim produksi untuk beradaptasi dengan kondisi jalan yang belum beraspal, transportasi yang kadang terbatas, serta ketersediaan listrik yang tidak menentu. “Kami harus menyiapkan generator portabel, peralatan pencahayaan yang tahan lembab, dan bahkan belajar cara menyimpan makanan dalam suhu tinggi,” kata Laura. Meski tantangan logistik cukup besar, ia menilai bahwa keaslian latar belakang alam Sumba menambah nilai estetika visual film secara signifikan.
Selama berada di Sumba, Laura juga berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Ia menjelaskan bahwa warga desa menyambut tim produksi dengan hangat, menawarkan bantuan mulai dari penyediaan pakaian tradisional hingga bimbingan tentang adat istiadat setempat. “Mereka mengajarkan kami tarian tradisional, menjelaskan makna simbol‑simbol pada rumah adat, bahkan membantu kami menemukan lokasi yang tepat untuk adegan-adegan penting,” ungkapnya. Interaksi tersebut tidak hanya memperkaya proses kreatif, tetapi juga menumbuhkan rasa hormat yang mendalam antara kru film dan komunitas lokal.
Aspek spiritual menjadi fokus utama bagi Laura dalam memerankan biarawati. Ia menyebutkan bahwa selama masa syuting, ia rutin meluangkan waktu untuk berdoa bersama biarawati setempat, sekaligus mengikuti retret meditasi yang diadakan di sebuah biara kecil di lereng bukit. “Ritual‑ritual tersebut membantu saya menyeimbangkan emosi, terutama ketika adegan-adegan dramatis menuntut intensitas tinggi,” kata Laura. Ia menambahkan bahwa proses ini membuatnya lebih memahami konflik batin yang dialami karakter, sehingga penampilannya menjadi lebih autentik.
Selain tantangan spiritual dan logistik, Laura juga mengungkapkan proses persiapan fisik yang tak kalah penting. Film ini menuntut banyak adegan di luar ruangan, termasuk berjalan melintasi medan berbukit, menyeberangi sungai, dan berlari di antara hutan tropis. Untuk itu, Laura menjalani program kebugaran khusus selama tiga bulan sebelum keberangkatan, meliputi latihan kardio, kekuatan otot, serta yoga untuk menjaga fleksibilitas tubuh. “Saya tidak ingin kelelahan mengganggu konsentrasi saat harus menghayati dialog yang sangat mendalam,” jelasnya.
Pengalaman di Sumba juga memberi Laura kesempatan untuk menyoroti isu‑isu sosial yang relevan dengan konteks film. Ia menekankan pentingnya representasi budaya yang akurat dan menghormati nilai‑nilai lokal. “Sebagai pembuat film, kami memiliki tanggung jawab untuk tidak sekadar menggunakan latar belakang eksotis sebagai dekorasi visual, melainkan sebagai bagian integral dari cerita,” ujar Laura. Pendekatan ini mencerminkan tren industri perfilman Indonesia yang semakin mengutamakan keotentikan budaya dalam produksi konten.
Setelah menyelesaikan proses syuting, Laura mengaku bahwa film “Yohanna” akan menjadi salah satu karya paling pribadi dalam kariernya. Ia berharap penonton tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga merasakan kedalaman spiritual dan keindahan alam Sumba yang terpampang di layar lebar. “Semoga film ini bisa membuka mata penonton tentang keberagaman kepercayaan, sekaligus menginspirasi rasa empati terhadap mereka yang hidup dalam konteks budaya yang berbeda,” tutupnya dengan senyum.
Kesimpulannya, perjalanan Laura Basuki dalam menyiapkan dan melaksanakan syuting film “Yohanna” di Sumba mencerminkan gabungan antara dedikasi profesional, eksplorasi spiritual, dan penghargaan terhadap kearifan lokal. Pengalaman ini tidak hanya menambah dimensi baru pada portofolio aktris, tetapi juga menunjukkan bagaimana industri film Indonesia dapat menghasilkan karya yang menyeimbangkan estetika visual, nilai budaya, dan kedalaman emosional.





