123Berita – 04 April 2026 | Jakarta, 4 April 2026 – Aktris senior Laura Basuki kembali menunjukkan kualitas akting kelas dunia lewat perannya dalam film drama “Yohanna”. Sutradara Razka Robby Ertanto menegaskan bahwa pemilihan Laura bukan keputusan sewenang‑wenang; dia membutuhkan seorang pemeran utama yang dapat bekerja cepat, mengingat jadwal produksi yang sangat singkat, kurang dari dua minggu. Keputusan untuk mengajak Laura terikat pada kemampuannya menjiwai konflik batin karakter utama, yang menggambarkan pergulatan iman dan keadilan hidup.
Setelah membaca naskah, Laura langsung merespons positif dan menyatakan kesediaannya tanpa ragu. Bagi aktris berusia 38 tahun ini, tokoh Yohanna menarik karena mencerminkan dilema yang dialami banyak orang: percaya pada Tuhan namun tetap merasakan keraguan ketika dunia terasa tidak adil. Ia menekankan bahwa setiap manusia pasti pernah mengalami pergolakan serupa, sehingga peran ini memberikan ruang bagi eksplorasi emosional yang mendalam.
Lokasi syuting dipilih di pulau Sumba, sebuah wilayah yang jarang dijadikan latar film mainstream. Laura mengaku terkesan dengan keunikan lingkungan, dari pemandangan alam yang eksotis hingga budaya lokal yang masih kuat. Namun yang paling menyentuh baginya adalah interaksi dengan anak‑anak penduduk setempat yang menjadi pemeran pendukung. “Awalnya saya berniat memberi wawasan akting kepada mereka, namun ternyata saya justru belajar banyak dari kejujuran emosi mereka,” ungkap Laura. Ia menambah bahwa energi murni anak‑anak Sumba, yang belum terpapar banyak tontonan modern, memberi warna baru pada proses kreatif.
Selama proses produksi, Laura menyaksikan secara langsung kondisi sosial yang menjadi latar cerita. Ia menemukan anak‑anak di Sumba yang terpaksa bekerja, bahkan terlibat sebagai joki kuda, sehingga mengorbankan hak mereka untuk bersekolah. Pengalaman ini membuka mata aktris terhadap realitas keras yang jarang diketahui publik luas. “Melihat mereka berjuang untuk hidup membuat saya menyadari betapa jauh kesenjangan yang ada, dan saya merasa bertanggung jawab untuk menyuarakan kisah mereka melalui film ini,” katanya.
Film “Yohanna” mengisahkan seorang biarawati muda yang berangkat ke Sumba membawa truk berisi bantuan kemanusiaan. Ketika truk tersebut dicuri, Yohanna terpaksa turun ke lapangan untuk mencarinya, sekaligus menyaksikan penderitaan masyarakat setempat. Konflik eksternal berbaur dengan krisis internal sang biarawati, yang mempertanyakan kembali keimanan dan identitasnya. Robby menegaskan bahwa film ini tidak bermaksud menggurui, melainkan memperlihatkan manusia dalam nuansa abu‑abu, di mana iman dapat naik turun tergantung pada ujian hidup.
Para produser menekankan bahwa durasi syuting yang singkat menuntut kesiapan mental dan teknis dari seluruh kru, terutama pemeran utama. Laura, yang dikenal memiliki disiplin tinggi, berhasil menyesuaikan diri dengan ritme produksi yang cepat tanpa mengorbankan kualitas akting. Ia juga memanfaatkan momen di lokasi untuk memperdalam karakter Yohanna, menambahkan nuansa autentik yang sulit dicapai di set studio.
Dengan rilis dijadwalkan pada 9 April 2026, “Yohanna” diharapkan menjadi sorotan tidak hanya karena cerita yang menggugah, tetapi juga karena keberaniannya mengangkat isu‑isu sosial seperti child labor, ketidakadilan ekonomi, dan krisis keimanan dalam konteks Indonesia modern. Penonton akan diajak mengikuti perjalanan batin Yohanna yang bertransformasi melalui pertemuan dengan anak‑anak Sumba, sekaligus menyadari bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari kesadaran individu.





