123Berita – 04 April 2026 | Isu paspor pemain Timnas Indonesia yang selama ini hangat di Belanda kini meluas hingga ke liga-liga Eropa Barat, khususnya Belgia. Perdebatan tersebut menyentuh kebijakan naturalisasi, regulasi liga, serta dampak terhadap pemain diaspora yang tengah berkarier di luar negeri. Salah satu nama yang paling banyak dibicarakan adalah Joey Pelupessy, gelandang berketurunan Indonesia yang saat ini berkontrak dengan klub Liga Belgia.
Masalah paspor ini bermula ketika sejumlah pemain keturunan Indonesia, termasuk Pelupessy, mengajukan permohonan paspor Indonesia untuk dapat memperkuat skuad Garuda. Upaya tersebut didorong oleh keinginan federasi nasional untuk memperluas basis pemain, sekaligus memberikan peluang bagi diaspora yang memiliki potensi tinggi. Namun, proses administrasi yang melibatkan Kementerian Luar Negeri dan Persatuan Sepakbola Indonesia (PSSI) tidak berjalan mulus.
Di Belgia, aturan liga mengenai pemain berbasis kewarganegaraan masih sangat ketat. Setiap klub dibatasi dalam jumlah pemain non-EU yang dapat terdaftar dalam skuad utama. Karena Indonesia belum termasuk dalam kawasan Uni Eropa, pemain dengan paspor Indonesia dianggap sebagai pemain asing. Akibatnya, kepemilikan paspor Indonesia justru dapat membatasi peluang Pelupessy untuk bermain secara reguler, meski ia memiliki kemampuan yang cukup untuk bersaing di level profesional.
Ketegangan semakin memuncak ketika PSSI secara resmi mengumumkan rencana mengajukan naturalisasi massal bagi pemain diaspora. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis menjelang kualifikasi Piala Dunia dan turnamen regional, namun menimbulkan pertanyaan tentang legalitas dan kepatuhan terhadap peraturan FIFA serta kebijakan imigrasi negara-negara tempat pemain tersebut berkarier.
Pengamat sepak bola menilai bahwa kebijakan ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, memperkuat Timnas Indonesia dengan talenta yang telah terasah di liga Eropa dapat meningkatkan kualitas tim secara signifikan. Di sisi lain, pemain seperti Pelupessy dapat terjebak dalam birokrasi yang rumit, berisiko kehilangan tempat di klub mereka jika tidak memenuhi kuota pemain asing.
Dalam sebuah pernyataan resmi, perwakilan PSSI menegaskan bahwa proses pengajuan paspor dan naturalisasi sedang berada dalam tahap koordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Indonesia di Brussels. Mereka menambahkan bahwa semua prosedur akan mengikuti aturan FIFA mengenai perubahan kebangsaan pemain, termasuk masa tunggu yang ditetapkan.
Sementara itu, klub Pelupessy di Belgia menyatakan dukungan mereka terhadap keputusan pemain untuk mengemban bendera Indonesia, namun menekankan pentingnya kepastian administratif. “Kami menghargai aspirasi pemain untuk memperkuat Timnas, namun kami juga harus memastikan bahwa status paspor tidak mengganggu regulasi liga,” ujar juru bicara klub dalam konferensi pers internal.
Reaksi publik di Indonesia pun beragam. Sebagian besar suporter menyambut baik kehadiran pemain diaspora dengan paspor Indonesia, melihatnya sebagai peluang memperkuat skuad nasional. Namun, ada pula suara kritis yang menyoroti potensi menurunnya kesempatan pemain lokal untuk mendapat panggilan, serta pertanyaan mengenai loyalitas pemain yang dibesarkan di luar negeri.
Di tengah dinamika tersebut, Joey Pelupessy sendiri belum memberikan komentar resmi. Namun, melalui akun media sosialnya, ia mengungkapkan rasa terhormatnya atas kepercayaan yang diberikan untuk memperkuat Timnas Indonesia, sekaligus menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi baik di klub maupun tim nasional.
Kasus ini juga mengangkat diskusi lebih luas mengenai identitas kebangsaan dalam sepak bola modern. Dengan globalisasi yang semakin meluas, banyak pemain memiliki pilihan ganda antara negara kelahiran dan negara warisan. Bagaimana federasi mengelola pilihan ini menjadi tantangan kebijakan yang kompleks.
Secara keseluruhan, kontroversi paspor pemain Timnas Indonesia yang kini meluas ke liga Belgia mencerminkan ketegangan antara aspirasi nasional dan regulasi kompetisi internasional. Bagi Joey Pelupessy, perjalanan kariernya akan sangat dipengaruhi oleh keputusan administratif yang sedang diproses. Bagi PSSI, tantangan terbesar adalah menyelaraskan strategi perekrutan pemain diaspora dengan kepatuhan terhadap peraturan FIFA dan kebijakan liga Eropa.
Ke depan, keputusan akhir mengenai paspor Pelupessy dan pemain lainnya akan menjadi indikator sejauh mana Indonesia mampu mengintegrasikan talenta diaspora ke dalam skema kompetitif tanpa mengorbankan stabilitas klub dan kepatuhan regulasi. Semua pihak diharapkan dapat menemukan solusi yang seimbang, demi kemajuan sepak bola Indonesia di kancah internasional.





