123Berita – 09 April 2026 | Babak pertama pertandingan tandang FC Barcelona melawan Atletico Madrid di Wanda Metropolitano menjadi sorotan bukan karena gol, melainkan karena insiden handball yang mengundang protes tajam dari pihak Barcelona. Pada menit ke-23, bek kanan Barcelona, Marc Pubill, berhasil menahan operan dari kiper Atletico, Jan Oblak, dengan menggunakan lengannya. Meskipun pelanggaran jelas terlihat, wasit tidak memberikan hukuman apa pun, baik itu tendangan bebas, kartu kuning, maupun peninjauan VAR.
Insiden tersebut terjadi ketika Barcelona mengintensifkan serangan mereka di wilayah pertahanan lawan. Pubill, yang biasanya dikenal dengan kecepatan dan kemampuannya dalam mengantisipasi pergerakan lawan, tampak terkejut saat bola meluncur ke arahnya. Tanpa sengaja, ia mengarahkan bola ke dalam tubuhnya, menimbulkan dugaan handball. Namun, wasit utama, yang berdiri di tengah lapangan, melanjutkan permainan tanpa menghentikannya.
Reaksi pemain Barcelona tidak tertahan. Pada saat itu, pelatih Xavi Hernandez dan kapten pemain, Gerard Piqué, bergegas mendekati waspada dan menuntut peninjauan VAR. Sementara itu, pemain Barcelona yang berada di lapangan mengangkat tangan, menandakan keberatan atas keputusan yang dianggap tidak adil. Meskipun permintaan peninjauan disampaikan, VAR tidak melakukan intervensi apa pun, sehingga insiden tersebut tetap tidak berujung pada keputusan apapun.
Keputusan tersebut menimbulkan kegaduhan di tribun stadion. Suporter Barcelona yang menonton secara langsung melalui layar raksasa di sekitar stadion melontarkan sorakan tidak setuju, sementara suporter Atletico tampak lebih tenang namun tetap waspada. Di sisi lain, komentator televisi menyoroti ketidaksesuaian antara peraturan handball yang jelas dan aplikasi VAR yang tampaknya acuh pada kasus ini.
Setelah pertandingan berakhir dengan skor 2-1 untuk Barcelona, pelatih Xavi memberikan pernyataan resmi kepada pers. Ia menegaskan bahwa keputusan wasit dan VAR pada insiden handball tersebut menyalahi prinsip keadilan dalam kompetisi. “Kami menghargai keputusan wasit, namun bila ada keraguan, VAR seharusnya berperan. Kejadian ini menunjukkan masihnya celah dalam sistem pengawasan yang harus segera diperbaiki,” ujar Xavi.
Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) dan UEFA pun menerima keluhan resmi dari Barcelona. Kedua lembaga tersebut berjanji akan meninjau kembali prosedur VAR dan memberikan klarifikasi terkait keputusan yang diambil pada pertandingan tersebut. Sementara itu, Komite Disiplin Liga Spanyol (LFP) menyiapkan rapat khusus untuk membahas potensi revisi aturan VAR, khususnya dalam hal penanganan handball yang terjadi di area pertahanan.
Insiden ini tidak hanya mengundang protes dari pihak Barcelona, tetapi juga memicu perdebatan luas di kalangan analis sepak bola dan penggemar. Beberapa pakar menilai bahwa wasit mungkin terpengaruh oleh kecepatan permainan dan tekanan situasi, sehingga terlewatkan kontak tangan. Di sisi lain, kritikus VAR menilai bahwa sistem tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan untuk mendeteksi handball yang terjadi secara cepat, terutama ketika pemain berada dalam posisi yang dinamis.
- Wasit utama tidak menandai pelanggaran.
- VAR tidak mengintervensi meskipun permintaan peninjauan diajukan.
- Marc Pubill, pemain Barcelona, terlibat dalam insiden handball.
- FC Barcelona mengajukan keluhan resmi kepada RFEF dan UEFA.
- Penggunaan VAR dalam kasus handball masih menjadi topik perdebatan.
Secara statistik, selama musim ini telah terjadi lebih dari 30 insiden handball yang memicu perdebatan, namun hanya sebagian kecil yang berakhir dengan keputusan VAR yang mengubah hasil pertandingan. Data ini menambah beban pada otoritas sepak bola untuk mengevaluasi kembali kriteria peninjauan dan kecepatan respons teknologi.
Menutup tulisan ini, kontroversi handball Pubill menegaskan kembali bahwa teknologi, meski canggih, tetap membutuhkan kejelasan prosedural dan konsistensi dalam penerapannya. Jika tidak, keputusan yang diambil dapat merusak integritas kompetisi dan menurunkan kepercayaan publik terhadap sistem VAR. Diharapkan, melalui dialog terbuka antara klub, federasi, dan penyedia teknologi, aturan handball dapat diimplementasikan secara lebih adil, sehingga kejadian serupa tidak terulang di masa depan.





