Komdigi Klaim Ada Miskomunikasi: Steam Belum Terhubung dengan IGRS, Apa Implikasinya?

Komdigi Klaim Ada Miskomunikasi: Steam Belum Terhubung dengan IGRS, Apa Implikasinya?
Komdigi Klaim Ada Miskomunikasi: Steam Belum Terhubung dengan IGRS, Apa Implikasinya?

123Berita – 07 April 2026 | Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi) menegaskan bahwa tampilan rating Indonesia Game Rating System (IGRS) pada sejumlah judul game di platform Steam bukan hasil klasifikasi resmi pemerintah. Pernyataan ini muncul setelah munculnya kebingungan di kalangan pengembang dan pemain game digital mengenai keabsahan rating yang terlihat pada toko digital tersebut.

Berikut beberapa poin penting yang disampaikan oleh pejabat Komdigi dalam klarifikasi resmi:

Bacaan Lainnya
  • IGRS masih beroperasi sebagai sistem penilaian mandiri yang dikelola oleh Kementerian Kominfo, dengan prosedur pengajuan, evaluasi, dan penerbitan rating yang melibatkan tim ahli.
  • Steam belum terhubung secara resmi dengan IGRS, sehingga tidak ada alur data resmi antara keduanya.
  • Rating yang muncul di Steam kemungkinan berasal dari pihak ketiga atau dari pengembang yang mengunggah label secara manual, yang belum melalui proses verifikasi Kementerian.
  • Komdigi berkomitmen untuk meningkatkan koordinasi dengan platform distribusi game internasional demi melindungi konsumen Indonesia, khususnya anak-anak dan remaja.

Ketidaksesuaian ini menimbulkan pertanyaan mengenai keabsahan rating yang dilihat pemain di Steam. Beberapa pengembang game Indonesia yang telah mengajukan rating IGRS melaporkan bahwa label yang muncul di Steam tidak selalu mencerminkan hasil resmi yang mereka terima. Hal ini dapat menimbulkan risiko misinformasi bagi konsumen, terutama bagi orang tua yang mengandalkan rating sebagai panduan membeli atau mengunduh game.

Selain itu, fenomena ini menyoroti tantangan regulasi dalam ekosistem game digital yang semakin global. Platform distribusi seperti Steam, Epic Games Store, atau PlayStation Store memiliki kebijakan masing-masing dalam menampilkan rating, yang biasanya mengacu pada sistem rating internasional seperti ESRB (Entertainment Software Rating Board) atau PEGI (Pan European Game Information). Integrasi dengan sistem rating nasional seperti IGRS memerlukan penyesuaian teknis, legal, serta kesepahaman mengenai standar konten.

Para pakar industri game menilai bahwa langkah Komdigi untuk memperjelas posisi IGRS sangat penting. “Jika rating nasional tidak terintegrasi dengan platform utama, maka efektivitasnya akan berkurang,” ujar seorang analis industri game yang tidak disebutkan namanya. “Pemerintah perlu membangun mekanisme pertukaran data yang aman dan transparan, serta menyosialisasikan prosesnya kepada semua pemangku kepentingan,” tambahnya.

Sementara itu, Steam sendiri belum memberikan komentar resmi mengenai status integrasi dengan IGRS. Namun, dalam beberapa pernyataan publik, Valve (perusahaan induk Steam) menyatakan komitmennya untuk mematuhi peraturan lokal di pasar tempat mereka beroperasi, termasuk menyesuaikan konten dengan regulasi yang berlaku.

Di sisi lain, Kementerian Kominfo menegaskan bahwa IGRS tetap berfungsi penuh untuk game yang dirilis di pasar domestik melalui toko digital lokal atau distribusi fisik. Pengembang yang mengajukan rating melalui IGRS akan tetap menerima sertifikat resmi yang dapat mereka gunakan sebagai bukti kepatuhan terhadap regulasi konten.

Berikut rangkaian proses standar pengajuan rating IGRS yang dijelaskan oleh Komdigi:

  1. Pengembang mengirimkan formulir aplikasi beserta materi game yang akan dinilai.
  2. Tim ahli melakukan peninjauan konten, meliputi aspek kekerasan, bahasa, unsur seksual, dan elemen lain yang relevan.
  3. Setelah evaluasi, tim memberikan rekomendasi rating sesuai dengan kategori yang telah ditetapkan.
  4. Pengembang menerima sertifikat rating resmi dan dapat menampilkannya pada materi promosi atau toko digital.

Penting untuk dicatat bahwa proses ini tidak otomatis terhubung ke platform internasional kecuali ada perjanjian khusus antara pihak Kementerian dan platform tersebut. Oleh karena itu, konsumen disarankan untuk selalu memverifikasi rating melalui sumber resmi, misalnya situs resmi IGRS atau dokumen sertifikat yang diberikan kepada pengembang.

Kasus ini juga memunculkan pertanyaan mengenai tanggung jawab platform distribusi dalam menampilkan rating yang akurat. Beberapa negara telah mengatur kewajiban platform untuk menampilkan rating resmi yang diakui secara nasional, namun implementasinya bervariasi tergantung pada regulasi masing-masing negara.

Menutup pembahasan, Komdigi menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan Steam dan platform serupa guna mengurangi miskomunikasi di masa depan. Pemerintah berharap adanya integrasi resmi yang dapat menjamin konsistensi informasi rating, melindungi konsumen, dan mendukung pertumbuhan industri game Indonesia yang semakin kompetitif di pasar global.

Pengguna Steam di Indonesia diharapkan tetap waspada dan memeriksa rating game melalui sumber resmi sebelum melakukan pembelian atau instalasi. Sementara itu, Komdigi berjanji akan memberikan pembaruan lebih lanjut jika terjadi perkembangan signifikan dalam proses integrasi dengan platform internasional.

Pos terkait