Kolaborasi Sasa dan IPB Perkuat Hilirisasi Kelapa untuk Kemandirian Rantai Pasok Nasional

Kolaborasi Sasa dan IPB Perkuat Hilirisasi Kelapa untuk Kemandirian Rantai Pasok Nasional
Kolaborasi Sasa dan IPB Perkuat Hilirisasi Kelapa untuk Kemandirian Rantai Pasok Nasional

123Berita – 07 April 2026 | Upaya memperkuat industri kelapa nasional kembali digencarkan melalui kolaborasi strategis antara PT Sasa Inti dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Kedua pihak menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang berjudul “Penguatan Kapasitas Sistem Rantai Pasok dan Model Kemitraan Penyediaan Bahan Baku Kelapa melalui Kerja Sama Pentahelix”. Diskusi tersebut menjadi ajang dialog multipihak, melibatkan perwakilan pemerintah, akademisi, petani, serta pelaku industri, untuk merumuskan strategi penguatan rantai pasok kelapa yang adaptif, berkelanjutan, dan inklusif.

Kelapa memang telah lama menjadi komoditas strategis bagi industri pangan Indonesia sekaligus sumber penghidupan utama bagi ribuan petani. Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Minahasa Selatan, menempati posisi penting sebagai salah satu sentra produksi kelapa nasional. Data lokal mencatat luas perkebunan kelapa mencapai 47.164 hektar dengan total produksi sekitar 42.209 ton per tahun. Angka tersebut menegaskan peran kelapa sebagai tulang punggung ekonomi daerah serta penopang mata pencaharian masyarakat setempat.

Bacaan Lainnya

Namun, peningkatan aktivitas industri pengolahan di wilayah produksi memunculkan tantangan baru. Persaingan bahan baku semakin ketat, menyebabkan fluktuasi harga dan ketidakstabilan pasokan yang berpotensi merugikan petani. Kondisi ini mempertegas pentingnya penguatan sistem rantai pasok yang mampu menyeimbangkan kebutuhan industri dengan kesejahteraan petani.

Chief Manufacturing Officer PT Sasa Inti, H. Snowerdi Sumardi, menegaskan bahwa kelapa bukan sekadar bahan baku industri, melainkan juga sumber penghidupan masyarakat. “Penguatan rantai pasok harus dirancang secara komprehensif agar mampu menjawab tantangan pasar sekaligus memberi nilai tambah yang adil bagi petani,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada 7 April 2026.

Sasa telah mengimplementasikan Sasa Sustainability Framework, sebuah kerangka kerja keberlanjutan yang mencakup seluruh rantai nilai perusahaan. Sejak 2024, perusahaan ini merintis program pemberdayaan petani kelapa di Minahasa Selatan. Program tersebut mencakup edukasi agronomi modern, pendampingan teknis, serta skema kemitraan jangka panjang yang menjamin kepastian serapan hasil panen. Head of Stakeholder Relation PT Sasa Inti, Rida Atmiyanti, menambahkan, “Keberlanjutan rantai pasok tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan petani. Kami mendorong kemitraan yang fokus pada peningkatan produktivitas, kualitas panen, dan kepastian pasar bagi petani.”

Fasilitas pengolahan kelapa milik Sasa di Minahasa Selatan berperan strategis dalam menghubungkan produksi hulu dengan kebutuhan industri hilir. Dengan memanfaatkan hasil panen lokal, fasilitas tersebut mempercepat proses hilirisasi, menambah nilai pada komoditas kelapa, dan membuka peluang pasar yang lebih luas untuk produk olahan dalam negeri.

FGD yang dilaksanakan secara hybrid, dengan pertemuan luring di Taman Kencana, Bogor serta partisipasi daring dari Manado dan Minahasa Selatan, menghasilkan beberapa rekomendasi kunci:

  • Peningkatan penggunaan data dan riset ilmiah dalam perencanaan rantai pasok.
  • Penguatan kemitraan pentahelix (pemerintah, akademisi, industri, petani, dan lembaga keuangan) untuk menciptakan ekosistem yang saling mendukung.
  • Penerapan standar kualitas dan sertifikasi bagi produk kelapa mentah dan olahan.
  • Pengembangan program pelatihan agronomi berbasis praktik modern untuk meningkatkan produktivitas petani.
  • Skema pembiayaan yang memudahkan petani mengakses modal kerja dan teknologi.

Profesor Dr. Ir. Hariyadi, MS, Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian IPB, menekankan peran perguruan tinggi dalam menyediakan kerangka ilmiah yang mendukung kebijakan dan praktik di lapangan. “Penguatan rantai pasok kelapa memerlukan pendekatan berbasis data, riset, dan kemitraan yang setara,” katanya.

Sementara itu, Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, SP, ME, Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, menilai kolaborasi ini sebagai contoh nyata kemitraan akademisi-industri yang dapat memperkuat daya saing komoditas kelapa serta mendorong kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, sinergi antara Sasa dan IPB diharapkan dapat menciptakan ekosistem kelapa yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dengan mengedepankan riset, data, dan kemitraan yang setara, upaya hilirisasi kelapa tidak hanya akan meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga memperkuat ketahanan industri nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani di wilayah produksi.

Harapan ke depan, model kemitraan ini dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki potensi produksi kelapa serupa, sehingga memperluas dampak positif bagi perekonomian nasional dan menciptakan rantai pasok yang lebih stabil, adil, dan berkelanjutan.

Pos terkait