123Berita – 08 April 2026 | Sejak awal April 2026, pasar plastik Indonesia mengalami lonjakan harga yang mencapai 50 persen. Kenaikan ini tidak hanya dirasakan oleh produsen kemasan, tetapi juga menggerogoti margin usaha pedagang kecil, khususnya penjual kopi keliling di kawasan Puri Kembangan, Jakarta Barat. Para penjual kopi yang selama ini mengandalkan kantong plastik sebagai wadah penyajian kini dihadapkan pada beban biaya tambahan yang signifikan, memaksa mereka menyesuaikan strategi bisnis atau menanggung kerugian.
Para pedagang mengaku bahwa tambahan biaya tersebut menggerus profit margin mereka yang sudah tipis. “Saya biasanya beli kantong plastik dalam jumlah besar untuk menghemat. Tapi kini, meski saya beli dalam grosir, harganya tetap naik. Kalau tidak menaikkan harga jual kopi, saya akan rugi,” ujar Budi Santoso, seorang penjual kopi keliling yang beroperasi di sekitar Jl. Kembangan Raya.
Berikut beberapa dampak utama yang dirasakan oleh pedagang kopi keliling di Puri Kembangan:
- Penurunan margin keuntungan: Dengan tambahan biaya plastik, margin keuntungan bersih turun rata-rata 10-12 persen.
- Kenaikan harga jual kepada konsumen: Beberapa pedagang terpaksa menaikkan harga kopi menjadi Rp 17.000-18.000 per cup, yang berisiko menurunkan daya beli konsumen.
- Pengurangan volume penjualan: Penjualan menurun sekitar 15-20 persen dalam tiga minggu pertama setelah lonjakan harga plastik.
- Adaptasi kemasan alternatif: Beberapa penjual mencoba menggunakan bahan biodegradable atau kertas, namun biaya awalnya lebih tinggi dan pasokan terbatas.
Data internal yang dikumpulkan oleh Asosiasi Pedagang Kopi Keliling (APKK) menunjukkan tren penurunan penjualan yang konsisten sejak akhir April. Berikut tabel ringkas perbandingan penjualan sebelum dan sesudah kenaikan harga plastik:
| Bulan | Penjualan (cup) | Margin Bersih (%) |
|---|---|---|
| Maret 2026 | 1.200 | 18 |
| April 2026 | 1.050 | 13 |
| Mei 2026 | 970 | 11 |
Selain tekanan biaya, lonjakan harga plastik juga memicu perdebatan tentang kebijakan pemerintah terkait regulasi bahan baku dan subsidi. Pemerintah pusat dan daerah telah mengumumkan rencana peninjauan kembali tarif impor bahan baku petrokimia serta mempertimbangkan insentif bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terdampak. Namun, hingga kini belum ada kebijakan konkret yang dapat meredam dampak langsung pada pedagang kecil.
Para pedagang juga menyoroti kurangnya dukungan teknis untuk transisi ke kemasan alternatif yang lebih ramah lingkungan. “Kami ingin beralih ke kantong kertas atau bahan biodegradable, tapi harganya jauh lebih mahal dan pemasoknya belum banyak,” kata Siti Nurhaliza, penjual kopi yang beroperasi di dekat Stasiun Kembangan.
Di sisi lain, konsumen mulai menunjukkan sikap kritis terhadap kenaikan harga kopi. Survei singkat yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Konsumen (LPK) mengungkapkan bahwa 38 persen responden bersedia membayar lebih untuk kopi dengan kemasan ramah lingkungan, sementara 62 persen lainnya lebih memilih menurunkan frekuensi pembelian atau mencari alternatif lain.
Berbagai pihak menyarankan solusi jangka pendek dan panjang. Solusi jangka pendek meliputi:
- Penyediaan subsidi plastik bagi pedagang mikro melalui program pemerintah daerah.
- Negosiasi harga dengan distributor plastik untuk mendapatkan tarif khusus.
- Penerapan program tukar plastik bekas dengan potongan harga bagi konsumen.
Solusi jangka panjang mencakup pengembangan ekosistem kemasan berkelanjutan, termasuk investasi pada produksi plastik daur ulang dan peningkatan kapasitas produksi kantong biodegradable lokal. Pemerintah juga diharapkan dapat memperkuat regulasi yang memfasilitasi transisi tanpa mengorbankan kesejahteraan pedagang kecil.
Dengan tekanan inflasi yang terus berlanjut, pedagang kopi keliling di Puri Kembangan harus menyesuaikan strategi bisnis mereka secara cepat. Beberapa di antaranya mulai mengoptimalkan menu dengan menambahkan varian kopi premium yang dapat dijual dengan harga lebih tinggi, sementara yang lain mengurangi porsi atau menambahkan layanan tambahan seperti Wi‑Fi gratis untuk menarik pelanggan.
Kesimpulannya, lonjakan harga plastik sebesar 50 persen sejak awal April 2026 menimbulkan tantangan signifikan bagi pedagang kopi keliling di Jakarta Barat. Dampaknya tidak hanya terbatas pada penurunan margin keuntungan, tetapi juga memaksa para pedagang untuk mencari alternatif kemasan, menyesuaikan harga jual, dan beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. Intervensi kebijakan yang tepat, baik dalam bentuk subsidi, regulasi, maupun dukungan teknis, diperlukan untuk memastikan kelangsungan usaha mikro sekaligus mendorong transisi menuju kemasan yang lebih berkelanjutan.





