123Berita – 11 Juni 2026 | Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax sebesar 32 persen telah menjadi topik hangat di kalangan masyarakat. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyayangkan kenaikan harga ini karena dapat memberikan dampak negatif pada perekonomian masyarakat menengah bawah.
Ekonom juga menyarankan agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap kebijakan harga BBM ini dan mencari solusi alternatif untuk mengurangi dampak negatifnya. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan subsidi bagi masyarakat menengah bawah dan meningkatkan efisiensi penggunaan BBM.
Kenaikan harga BBM ini juga dapat berdampak pada inflasi dan meningkatkan biaya produksi bagi industri. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyesuaian harga dan kebijakan moneter untuk mengatasi dampak negatif ini.
Di sisi lain, kenaikan harga BBM ini juga dapat membantu meningkatkan pendapatan negara dari sektor energi. Namun, perlu diingat bahwa pendapatan negara harus dibalas dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi ketergantungan pada BBM dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan ini.
Bagi masyarakat, kenaikan harga BBM ini dapat menjadi kesempatan untuk mengubah gaya hidup dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Dengan menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki, masyarakat dapat mengurangi penggunaan BBM dan menghemat biaya.
Di akhir, kenaikan harga Pertamax 32 persen ini merupakan tantangan bagi pemerintah dan masyarakat untuk mencari solusi alternatif dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Dengan kerja sama dan kesadaran, kita dapat mengatasi dampak negatif ini dan mencapai tujuan perekonomian yang lebih baik.





