123Berita – 09 April 2026 | Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen) mengumumkan kolaborasi baru dengan sejumlah organisasi internasional untuk memperkuat literasi dan numerasi di seluruh Nusantara. Kerja sama ini dirancang sebagai respons atas kesenjangan kemampuan dasar yang masih menghambat prestasi siswa.
Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat literasi dan numerasi di Indonesia masih berada di belakang standar regional, dengan banyak pelajar belum mampu membaca dengan lancar atau melakukan perhitungan sederhana. Pemerintah menilai masalah ini sebagai penghalang fundamental bagi pengembangan sumber daya manusia nasional.
Program bersama yang diberi nama “Inisiatif Penguatan Literasi dan Numerasi Nasional” akan dijalankan selama lima tahun ke depan, menargetkan sekolah dasar dan menengah pertama di wilayah perkotaan maupun terpencil. Pendekatan yang diambil mencakup revisi kurikulum, pelatihan guru, serta penyediaan alat belajar digital.
Mitra internasional meliputi UNESCO, Bank Dunia, serta beberapa LSM yang berfokus pada pendidikan anak usia dini. Keahlian mereka akan mendukung perancangan modul pengajaran berbasis bukti serta pemantauan kemajuan siswa melalui penilaian standar.
Salah satu komponen inti adalah pembentukan “Pusat Literasi” di sejumlah distrik terpilih. Pusat ini akan menjadi pusat sumber daya bagi guru dengan menyediakan paket pengajaran, perpustakaan digital, dan lokakarya pengembangan profesional. Selain itu, pusat tersebut akan berfungsi sebagai titik temu masyarakat untuk melibatkan orang tua dalam proses belajar.
Peningkatan kompetensi guru menjadi fokus utama. Kemendikdasmen menargetkan pelatihan sebanyak 150.000 pendidik melalui program pembelajaran campuran yang menggabungkan seminar tatap muka dengan modul daring. Materi pelatihan mencakup fonik, strategi pemahaman, teknik pemecahan masalah, serta integrasi teknologi dalam kelas.
Untuk menjamin keberlanjutan, program ini dialokasikan anggaran sekitar Rp 2,5 triliun, yang sebagian didanai oleh dana pendidikan nasional dan didukung tambahan dari mitra global. Dana tersebut akan dialokasikan untuk produksi materi belajar yang disesuaikan lokal, pengadaan tablet, serta pembangunan dasbor pemantauan.
Proyek percontohan yang dilaksanakan pada 2023 di provinsi Jawa Barat, Sulawesi Tengah, dan Papua menunjukkan hasil yang menjanjikan. Di Jawa Barat, tingkat kecakapan membaca meningkat 12 persen, sementara skor numerasi di Sulawesi Tengah naik 9 persen setelah enam bulan intervensi.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa keberhasilan inisiatif ini sangat bergantung pada koordinasi antara kantor pendidikan pusat dan daerah. Otoritas pendidikan provinsi ditugaskan menyesuaikan kerangka kerja nasional dengan bahasa lokal dan konteks budaya, memastikan inklusivitas bagi komunitas adat.
Sejumlah pengkritik memperingatkan bahwa program sebelumnya sering kali mengalami implementasi yang tidak merata dan kurangnya tindak lanjut. Sebagai respons, kementerian telah menetapkan sistem pengumpulan data real‑time yang terhubung ke dasbor nasional, memungkinkan pembuat kebijakan mengidentifikasi sekolah yang tertinggal dan memberikan dukungan remedial secara cepat.
Kelompok masyarakat sipil menyambut positif langkah ini, menekankan bahwa peningkatan literasi dan numerasi tidak hanya penting untuk kemajuan akademik, tetapi juga untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan partisipasi warga. Mereka menyerukan agar pemerintah mempertahankan momentum ini melebihi periode lima tahun awal.
Kolaborasi ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mencapai Sustainable Development Goal 4, yang menuntut pendidikan berkualitas, inklusif, dan merata. Dengan memperkuat keterampilan dasar, negara menargetkan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia serta daya saing dalam ekonomi berbasis pengetahuan global.
Seiring pelaksanaan program secara nasional, para pemangku kepentingan mengharapkan peningkatan kompetensi siswa secara bertahap namun signifikan. Evaluasi berkelanjutan, pelaporan transparan, dan partisipasi komunitas diposisikan sebagai pilar utama yang akan mempertahankan pencapaian dan mengubah lanskap pendidikan Indonesia.
Secara keseluruhan, kerja sama antara Kemendikdasmen dan mitra global ini menandai langkah krusial dalam menutup kesenjangan literasi dan numerasi. Dengan investasi strategis, pemantauan yang kuat, dan fokus pada pemberdayaan guru, Indonesia semakin dekat untuk memastikan setiap anak memperoleh keterampilan dasar yang diperlukan untuk pembelajaran seumur hidup dan kewarganegaraan yang produktif.





