123Berita – 05 April 2026 | Sabtu malam, 4 April 2026, dua jenazah prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gugur dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon tiba di Bandara Internasional Adi Sucipto, Yogyakarta. Kedatangan jenazah tersebut menjadi momen duka yang sekaligus menegaskan komitmen Indonesia terhadap operasi penjagaan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Para prajurit yang dimaksud adalah Sersan Satu (S-1) Dwi Pratama, 31 tahun, dan Sersan (S) Budi Santoso, 28 tahun, keduanya bertugas di Pasukan Kontingen Indonesia (KONI) yang tergabung dalam United Nations Interim Force Lebanon (UNIFIL). Keduanya tewas pada 15 Maret 2026 dalam sebuah insiden tembak-menembak di wilayah perbatasan selatan Lebanon, ketika pasukan UNIFIL berupaya menegakkan gencatan senjata antara pihak-pihak yang berseteru.
Setelah proses identifikasi medis dan administratif, jenazah kedua prajurit tersebut dipindahkan ke pesawat militer TNI Angkatan Udara dan diterbangkan ke Tanah Air melalui jalur udara internasional. Pesawat tersebut mendarat di Bandara Adi Sucipto pada pukul 22.30 WIB, dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pertahanan, Komando TNI Angkatan Darat, serta pejabat daerah setempat.
Upacara penghormatan terakhir di bandara berlangsung dengan khidmat. Menyambut jenazah, petugas militer menggelar formasi barisan, sementara petugas kebun binatang (kebun binatang?) menyalakan lilin sebagai simbol penghormatan. Lalu lintas bandara sempat dihentikan sementara demi kelancaran prosesi, dan lampu sorot menyoroti area penurunan jenazah.
Dalam sambutannya, Jenderal TNI (Purn) Agus Subekti, Kepala Staf Angkatan Darat, menyampaikan rasa duka yang mendalam serta mengapresiasi pengorbanan para prajurit. “Mereka mengabdi bukan hanya untuk Indonesia, tetapi untuk perdamaian dunia. Kami berjanji akan terus melanjutkan misi mereka dengan integritas dan profesionalisme,” ujar Jenderal Subekti.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa pemerintah akan memastikan keluarga korban mendapat dukungan penuh, baik secara moral maupun material. “Kami akan memberikan santunan, bantuan pendidikan untuk anak-anak mereka, serta fasilitas kesehatan bagi keluarga yang ditinggalkan. Pengorbanan mereka tidak akan pernah terlupakan,” tegasnya.
Keluarga almarhum, yang turut hadir di bandara bersama tokoh masyarakat Yogyakarta, tampak haru. Istri Sersan Satu Dwi Pratama, Siti Nurhaliza, mengungkapkan rasa terima kasih atas penghormatan yang diberikan negara, sambil mengingat kembali kebanggaan suaminya yang selalu menekankan pentingnya kedamaian. “Dia selalu berkata bahwa tugas kami adalah menjaga agar tidak ada lagi anak-anak yang harus merasakan perang,” katanya sambil meneteskan air mata.
Setelah prosesi di bandara, jenazah akan dibawa ke Rumah Duka Militer di Jakarta untuk diproses lebih lanjut sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Proses pemakaman dijadwalkan pada hari Senin, 6 April 2026, dengan upacara militer penuh hormat yang akan dihadiri pejabat tinggi negara, rekan-rekan prajurit, serta keluarga dekat.
Insiden di Lebanon ini menambah deretan korban jiwa Indonesia dalam operasi perdamaian internasional. Sejak penempatan pertama pada tahun 1978, TNI telah mengirim lebih dari 1.300 personel ke UNIFIL. Hingga kini, terdapat 22 nama prajurit yang gugur dalam tugas perdamaian di Lebanon, termasuk 2 nama yang baru saja kembali ke tanah air.
Para pengamat militer menilai bahwa keberadaan pasukan Indonesia dalam UNIFIL tetap penting mengingat dinamika geopolitik di wilayah Levant. “Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara non‑blok, sehingga kontribusi TNI dalam menjaga stabilitas Lebanon tidak hanya memberikan nilai diplomatik, tetapi juga memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang mendukung perdamaian global,” ujar Dr. Rina Hapsari, dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada.
Selain penghormatan militer, pemerintah juga berupaya meningkatkan kesiapsiagaan pasukan yang bertugas di luar negeri. Direktorat Jenderal Penerbangan Militer tengah meninjau prosedur evakuasi medis serta penanganan jenazah untuk memastikan proses yang cepat dan hormat. Upaya ini diharapkan dapat meminimalkan beban emosional bagi keluarga korban serta meningkatkan profesionalisme pasukan di lapangan.
Dengan kembali hadirnya jenazah kedua prajurit TNI ke tanah air, masyarakat Indonesia kembali diingatkan akan nilai pengorbanan para pahlawan yang berjuang jauh dari rumah demi keamanan dunia. Semangat mereka menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk melanjutkan tradisi pengabdian kepada bangsa dan negara.
Kepergian mereka memang meninggalkan duka mendalam, namun warisan keberanian dan dedikasi mereka tetap hidup dalam setiap langkah TNI yang beroperasi di luar negeri. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai persatuan, Indonesia akan selalu menghormati dan mengingat jasa-jasa para prajurit yang telah mengorbankan nyawa demi perdamaian dunia.





