Jalan Salib Paus Leo XIV di Colosseum: Liturgi Jumat Agung yang Memukau di Kota Abadi

123Berita – 05 April 2026 | Roma, 7 April 2024 – Pada Jumat Agung yang suci, Colosseum megah kembali menjadi saksi bisu peristiwa religius yang menggabungkan warisan sejarah Romawi dengan tradisi Katolik. Paus Leo XIV memimpin upacara Jalan Salib di arena antik ini, sementara ribuan umat Katolik dari berbagai belahan dunia berkumpul di antara reruntuhan batu, menyaksikan cahaya lilin menyalakan suasana khidmat.

Colosseum, yang dibangun pada abad ke‑1 Masehi sebagai arena pertarungan gladiator, kini bertransformasi menjadi panggung liturgi internasional. Sejak masa reformasi liturgi Paus Fransiskus, Paus Leo XIV terus melanjutkan tradisi mengadakan Jalan Salib di tempat-tempat bersejarah, sebagai simbol perdamaian dan penebusan. Pemilihan Colosseum bukan sekadar estetika, melainkan upaya menegaskan kembali pesan universal Kristus tentang pengorbanan di tengah reruntuhan kekuasaan duniawi.

Bacaan Lainnya

Upacara dimulai tepat pada pukul 14.00 waktu setempat, ketika sinar matahari menembus celah‑celah batu, menciptakan kontras dramatis antara cahaya alami dan cahaya lilin. Paus Leo XIV, mengenakan mitra liturgis putih bersih, memimpin rombongan 30 kristus yang melintasi tiga stasiun utama: Stasiun I (Tempat Penyaliban), Stasiun II (Pengurapan Tubuh), dan Stasiun III (Pemakaman). Setiap stasiun diiringi doa-doa khas, nyanyian Gregorian, dan refleksi singkat yang mengaitkan penderitaan Kristus dengan tantangan umat modern.

Ribuan umat Katolik, termasuk delegasi dari Italia, Filipina, Polandia, dan Amerika Latin, berbaris perlahan di antara barisan kursi portabel yang diatur di arena. Lilin-lilin kecil, dibawa masing‑masing peserta, menciptakan lautan cahaya berkelap‑kelip yang meniru bintang‑bintang di langit Roma malam. Suasana hening, kecuali gema langkah kaki dan nyanyian pujian yang mengalun lembut, menambah keagungan momen.

  • Ritual dimulai dengan Misa Kudus di altar utama yang dipasang khusus.
  • Paus Leo XIV membacakan Injil Yohanes 19:17‑30, menekankan makna salib.
  • Setiap stasiun diselingi refleksi visual berupa proyeksi gambar Colosseum pada zaman Romawi dan foto-foto masa kini.
  • Umat diajak menyalakan lilin tambahan sebagai simbol harapan dan perdamaian.

Keunikan Jalan Salib di Colosseum terletak pada integrasi antara warisan arkeologis dan spiritualitas kontemporer. Sejumlah arkeolog menilai bahwa penggunaan situs bersejarah dalam konteks ibadah dapat meningkatkan rasa hormat terhadap warisan budaya sekaligus mengedukasi publik tentang nilai‑nilai kemanusiaan yang terkandung dalam tradisi keagamaan.

Paus Leo XIV dalam homili singkatnya menekankan pentingnya “menjadi saksi kasih Kristus di dunia yang penuh konflik”. Ia mengajak umat untuk menjadikan cahaya lilin di Colosseum sebagai simbol harapan yang menyalakan hati setiap orang, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang melanda Eropa dan kawasan lainnya. “Kita berdiri di antara batu-batu yang pernah menyaksikan pertumpahan darah, kini menjadi tempat damai yang menegaskan kembali pesan perdamaian,” ujar Paus.

Reaksi warga Roma dan turis internasional sangat positif. Seorang wisatawan asal Spanyol menyatakan, “Pengalaman menyaksikan liturgi di tengah reruntuhan Colosseum sungguh menggetarkan jiwa, menggabungkan sejarah dan spiritualitas dalam satu momen.” Sementara otoritas kota Roma menegaskan komitmen untuk terus membuka situs bersejarah bagi acara keagamaan yang bersifat damai dan inklusif.

Jalan Salib pada Jumat Agung kali ini tidak hanya menjadi peringatan atas penderitaan Kristus, melainkan juga panggilan universal untuk perdamaian, toleransi, dan pemeliharaan warisan budaya. Dengan cahaya lilin yang menari di antara bayang‑bayang batu kuno, Paus Leo XIV berhasil menorehkan catatan baru dalam sejarah liturgi Katolik, mengingatkan dunia bahwa di tengah reruntuhan masa lalu, harapan tetap dapat bersinar terang.

Pos terkait