123Berita – 07 April 2026 | Jalan darurat yang menghubungkan Kabupaten Bener Meriah dengan Aceh Tengah kembali mengalami kerusakan total setelah terjangan banjir deras pada pekan ini. Aliran air yang meluap dari sungai‑sungai kecil di kawasan pegunungan memutuskan akses utama, memaksa ribuan kendaraan untuk menunggu atau mencari rute alternatif yang jauh lebih memakan waktu.
Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Aceh sejak awal minggu ini telah menurunkan muka tanah dan menambah volume air pada aliran‑aliran kecil di dataran tinggi. Pada sore hari kemarin, hujan lebat mengguyur daerah sekitar jalur lintas Bener Meriah‑Aceh Tengah, menyebabkan beberapa titik penurunan air meluap hingga menutupi permukaan jalan. Tanah longsor yang terbentuk mengakibatkan sebagian lebar jalan terbelah, membuat jalur tidak dapat dilalui kendaraan apa pun, termasuk kendaraan darurat.
Jalan darurat ini memang dibangun pada tahun 2019 sebagai upaya pemerintah Provinsi Aceh untuk meningkatkan konektivitas antara dua kabupaten yang sebelumnya hanya dapat dijangkau melalui jalur lintas pegunungan yang berbahaya. Sejak pembukaannya, jalan ini telah menjadi jalur vital bagi distribusi hasil pertanian seperti kopi, cengkeh, dan sayuran, serta menjadi sarana transportasi utama bagi layanan kesehatan dan pendidikan.
Kerusakan yang terjadi kali ini bukan yang pertama. Pada akhir 2021, jalan yang sama pernah mengalami penutupan sementara akibat tanah longsor setelah hujan lebat. Pada saat itu, pemerintah provinsi menyalurkan bantuan darurat berupa truk tangki air bersih dan tim pemulihan jalan. Namun, belum ada laporan resmi mengenai upaya pencegahan atau perbaikan struktural yang dilakukan sejak saat itu.
Setelah kejadian terkini, Kepala Dinas Perhubungan Bener Meriah, Ir. H. Zulkifli, mengumumkan bahwa tim inspeksi sudah dikerahkan ke lokasi untuk melakukan survei kerusakan. “Prioritas kami adalah membuka kembali akses secepat‑cepatnya, mengingat dampak ekonomi dan sosial yang sangat signifikan. Kami telah menyiapkan peralatan berat, termasuk excavator dan bulldozer, serta mengoordinasikan bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).”
Selain itu, Gubernur Aceh, Dr. Irwansyah, dalam konferensi pers singkat, menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk memperkuat infrastruktur jalan di wilayah rawan banjir. “Kami akan meninjau kembali desain jalan darurat ini, termasuk pemasangan sistem drainase yang lebih efisien dan penguatan pondasi di area kritis. Investasi jangka panjang diperlukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan,” ujarnya.
Para ahli geoteknik dari Universitas Syiah Kuala juga memberikan masukan. Mereka menyarankan agar perencanaan ulang jalan mengintegrasikan analisis hidrologi yang lebih mendalam, penggunaan material tahan erosi, serta penanaman vegetasi penahan tanah pada lereng‑lereng sekitar jalur. “Kondisi geologi Aceh memang rentan terhadap longsor, terutama ketika intensitas hujan meningkat. Solusi teknis harus mempertimbangkan faktor‑faktor tersebut secara menyeluruh,” kata Prof. Dr. Ahmad Zaki, dosen Fakultas Teknik Sipil.
Sementara itu, warga setempat menunggu dengan harap. “Kami mengandalkan jalan ini setiap hari untuk mengirimkan hasil panen ke pasar. Tanpa akses ini, pendapatan kami terancam menurun drastis,” keluh Ibu Siti, petani sayur dari Desa Gampong Baro, Bener Meriah.
Dengan kondisi cuaca yang masih diprediksi akan tetap tidak menentu dalam beberapa pekan ke depan, pihak berwenang diharapkan dapat menyelesaikan perbaikan secepatnya. Upaya mitigasi jangka panjang, termasuk pembangunan jalan alternatif atau penambahan jembatan penyeberangan kecil, dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur saja.
Secara keseluruhan, penutupan jalan darurat Bener Meriah‑Aceh Tengah menggarisbawahi pentingnya perencanaan infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim. Kerusakan berulang tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat pedesaan. Diperlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan, memastikan jalur ini tetap dapat melayani kebutuhan logistik dan mobilitas publik tanpa gangguan yang berulang.





