123Berita – 07 April 2026 | Menteri Warisan Budaya Republik Islam Iran, Mohammad Reza Khatami, pada hari Rabu menandatangani surat resmi yang ditujukan kepada Direktur Jenderal UNESCO, mengajak badan PBB tersebut untuk secara tegas mengutuk ancaman Israel menyerang jaringan kereta api Iran. Surat itu menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur transportasi sipil tidak hanya melanggar hukum humaniter internasional, tetapi juga berpotensi menimbulkan kejahatan perang yang serius.
Surat resmi tersebut disampaikan melalui kanal diplomatik resmi dan menyoroti beberapa poin penting. Pertama, Khatami menekankan bahwa jaringan kereta api Iran merupakan tulang punggung logistik nasional, menghubungkan wilayah-wilayah strategis, termasuk zona industri, pelabuhan, serta daerah pertanian yang vital bagi ketahanan pangan negara. Kedua, serangan terhadap jalur kereta api dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar, memperparah tekanan ekonomi yang sudah dirasakan akibat sanksi internasional.
Selain menuntut tindakan simbolis dari UNESCO, Menteri juga mengingatkan bahwa hukum humaniter yang diatur dalam Konvensi Jenewa melarang serangan terhadap objek sipil yang tidak memiliki nilai militer langsung. “Jika Israel melancarkan aksi militer terhadap infrastruktur kereta api kami, maka hal itu dapat dikategorikan sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional,” ujar Khatami dalam suratnya.
Pakar hukum internasional, Dr. Ali Rezaei, yang merupakan dosen di Universitas Tehran, menambahkan bahwa serangan semacam itu dapat masuk dalam kategori kejahatan perang. “Kejahatan perang tidak hanya mencakup pembunuhan massal atau penyiksaan, tetapi juga penghancuran secara sengaja terhadap properti sipil yang tidak memiliki peran militer,” jelas Rezaei. “Jika terbukti, pelaku dapat diadili di Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) atau pengadilan khusus yang dibentuk oleh PBB.
Sejumlah analis geopolitik menilai bahwa ancaman Israel terhadap jalur kereta api Iran merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menekan Iran dalam konteks perselisihan regional. Menurut laporan intelijen, Israel khawatir dengan kemampuan logistik Iran dalam mendukung kelompok-kelompok militan di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon dan kelompok pro-Palestina di Gaza. Dengan mengganggu transportasi darat, Israel berpotensi menghambat aliran material militer yang diyakini mengalir melalui jaringan kereta api.
Namun, langkah Iran untuk melibatkan UNESCO menandakan upaya diplomatik yang berbeda. UNESCO, sebagai badan yang mengelola warisan budaya dan ilmiah, memiliki mandat untuk melindungi situs-situs bersejarah dan infrastruktur penting yang memiliki nilai universal. Mengaitkan isu kereta api dengan perlindungan warisan budaya memberi dimensi tambahan pada perdebatan, menggarisbawahi bahwa kereta api bukan sekadar sarana transportasi, melainkan bagian integral dari identitas dan sejarah nasional Iran.
Reaksi komunitas internasional masih dalam tahap awal. Beberapa negara anggota UNESCO, termasuk Prancis dan Jerman, menyatakan keprihatinan mereka terhadap peningkatan ketegangan di Timur Tengah, namun belum mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan posisi mereka. Di sisi lain, perwakilan Israel menolak tuduhan tersebut, menyatakan bahwa setiap tindakan militer yang diambil selalu didasarkan pada pertimbangan keamanan nasional dan akan mematuhi hukum internasional.
Berikut adalah ringkasan poin-poin utama yang diangkat dalam surat Khatami kepada UNESCO:
- Permintaan resmi untuk mengutuk ancaman Israel menyerang jaringan kereta api Iran.
- Penekanan pada nilai strategis dan ekonomi jaringan kereta api bagi Iran.
- Penegasan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil melanggar Konvensi Jenewa.
- Peringatan bahwa tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
- Ajakan bagi UNESCO untuk menggunakan platform internasionalnya dalam menekan pihak yang terlibat.
Para pakar juga mengingatkan bahwa sejarah mencatat banyak contoh di mana infrastruktur sipil dijadikan target dalam konflik bersenjata, yang kemudian menimbulkan konsekuensi kemanusiaan yang parah. Contoh paling terkenal adalah serangan terhadap jalur kereta api di Bosnia pada 1990-an, yang menyebabkan ribuan kematian dan menghambat distribusi bantuan kemanusiaan.
Jika UNESCO memberikan pernyataan tegas, hal ini dapat meningkatkan tekanan diplomatik pada Israel, sekaligus memberikan sinyal kuat kepada komunitas internasional bahwa pelanggaran terhadap infrastruktur sipil tidak dapat diterima. Sebaliknya, ketidakjelasan atau penolakan UNESCO dapat memperlemah posisi Iran dalam arena diplomatik, sekaligus memberi ruang bagi Israel untuk melanjutkan rencananya tanpa konsekuensi politik yang signifikan.
Dalam konteks yang lebih luas, kasus ini menambah daftar panjang perselisihan yang melibatkan Iran dan Israel, termasuk sengketa nuklir, serangan siber, dan konflik proxy di Suriah serta Lebanon. Setiap langkah diplomatik atau militer baru berpotensi mengubah keseimbangan geopolitik di kawasan, dan menambah beban pada mekanisme penyelesaian damai yang selama ini diupayakan oleh PBB.
Kesimpulannya, surat Iran kepada UNESCO bukan sekadar permohonan simbolis, melainkan upaya strategis untuk mengangkat isu pelanggaran hukum internasional ke panggung global. Dengan melibatkan UNESCO, Iran berharap mendapatkan dukungan moral dan politik yang dapat memperkuat posisi negosiasi mereka, sekaligus menahan aksi militer yang dapat berujung pada kejahatan perang. Dampak keputusan UNESCO, baik berupa pernyataan resmi maupun tindakan lebih lanjut, akan menjadi indikator penting dalam dinamika hubungan Iran‑Israel ke depan serta upaya komunitas internasional dalam menegakkan hukum humaniter.