Indonesia Tetap Optimis Meski Proyeksi Pertumbuhan 2026 Dipangkas Bank Dunia

123Berita – 10 April 2026 | JAKARTAPemerintah Indonesia menyambut penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2026 yang dikeluarkan oleh Bank Dunia dengan sikap tenang dan percaya diri. Meskipun lembaga multilateral tersebut menurunkan angka perkiraan menjadi 4,9 persen, para pejabat negara menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kuat dan mampu mengatasi tantangan eksternal.

Rilis terbaru Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan Indonesia dari 5,1 persen menjadi 4,9 persen untuk periode 2024-2026. Penurunan ini mencerminkan ketidakpastian global yang dipicu oleh tekanan inflasi, kebijakan moneter ketat di negara maju, serta gangguan rantai pasokan yang masih terasa. Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menanggapi hasil tersebut dengan keyakinan, menekankan bahwa pemerintah telah menyiapkan kebijakan fiskal dan struktural yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

“Kami mengapresiasi analisis Bank Dunia, namun kami tetap optimis karena kebijakan reformasi struktural yang sedang berjalan, peningkatan investasi, serta perbaikan iklim usaha memberikan landasan yang solid untuk mencapai target pertumbuhan yang lebih tinggi,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Rabu (10 April 2026). “Kami tidak akan terpengaruh oleh satu perkiraan saja, melainkan pada implementasi kebijakan yang konsisten dan terukur,” tambahnya.

Beberapa faktor utama yang menjadi landasan optimisme pemerintah antara lain:

  • Stabilitas makroekonomi: Inflasi konsumen berhasil ditekan di bawah 3,5 persen pada akhir 2025, sementara nilai tukar rupiah tetap relatif stabil meski terjadi fluktuasi pasar global.
  • Investasi domestik dan asing: Penanaman modal bruto (PMB) pada kuartal keempat 2025 mencatat pertumbuhan 7,2 persen year-on-year, didorong oleh sektor manufaktur, energi terbarukan, dan teknologi informasi.
  • Reformasi kebijakan fiskal: Pemerintah memperluas basis pajak, meningkatkan kepatuhan, dan menurunkan defisit anggaran menjadi 2,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir 2025.
  • Pengembangan sumber daya manusia: Program vokasi dan peningkatan kualitas pendidikan tinggi menghasilkan tenaga kerja yang lebih kompetitif di pasar global.

Selain itu, pemerintah menyoroti upaya diversifikasi ekonomi sebagai penyangga utama menghadapi gejolak eksternal. Sektor pariwisata, yang kembali pulih pasca pandemi, mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 8,5 persen pada 2025. Sementara itu, industri digital dan e‑commerce mengalami percepatan, dengan nilai transaksi mencapai US$ 120 miliar, naik 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pengamat ekonomi menilai bahwa respons pemerintah yang terukur dapat menenangkan pasar domestik. “Jika pemerintah tetap konsisten dalam menjalankan kebijakan yang mendukung iklim investasi, penurunan proyeksi Bank Dunia tidak serta merta menurunkan kepercayaan investor,” ujar Dr. Ahmad Fauzi, ekonom senior di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Keuangan (LPEK). “Faktor pentingnya adalah bagaimana kebijakan fiskal dan moneter berkoordinasi untuk menjaga likuiditas serta mengendalikan inflasi,” tambahnya.

Di sisi lain, Bank Dunia menyebutkan bahwa penurunan proyeksi dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi di China, ketegangan geopolitik di kawasan Indo‑Pasifik, serta kebijakan proteksionis yang meningkatkan biaya impor bahan baku. Namun, lembaga tersebut tetap memandang Indonesia memiliki potensi untuk melampaui proyeksi jika reformasi struktural dapat dipercepat.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempercepat implementasi reformasi struktural, termasuk penguatan regulasi investasi, penyederhanaan perizinan, serta peningkatan kualitas infrastruktur. Proyek pembangunan jalan tol, pelabuhan, dan jaringan listrik berkelanjutan diperkirakan selesai pada awal 2027, yang diharapkan dapat menurunkan biaya logistik nasional hingga 12 persen.

Dalam rangka menjaga pertumbuhan tetap berkelanjutan, Kementerian Keuangan juga mengintensifkan kerja sama dengan lembaga keuangan internasional untuk memperkuat cadangan devisa dan memperluas akses pembiayaan berkelanjutan. “Kita akan terus memantau situasi global dan menyesuaikan kebijakan makroekonomi secara proaktif,” tegas Sri Mulyani.

Secara keseluruhan, meskipun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 mengalami penurunan, pemerintah tetap optimis berkat fondasi makroekonomi yang kuat, kebijakan reformasi yang berjalan, serta diversifikasi sektor ekonomi. Optimisme ini diharapkan dapat menjaga kepercayaan investor dan masyarakat, sekaligus memicu percepatan pencapaian target pertumbuhan jangka menengah yang lebih ambisius.

Pos terkait