123Berita – 09 April 2026 | Turnamen Badminton Asia 2026 yang berlangsung pada minggu ini menyaksikan kegagalan dua pasangan ganda campuran Indonesia untuk menembus babak perdelapan final. Kedua wakil Indonesia, yang terdiri dari pasangan veteran dan pendatang baru, harus menelan kekalahan di babak 16 besar, menambah catatan kurang memuaskan timnas dalam kompetisi regional kali ini.
Pasangan pertama, Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Melati Daeva Oktavianti, yang sebelumnya menorehkan performa gemilang di ajang internasional, terpaksa menyerah setelah menurunkan poin kritis di set kedua melawan duo asal Jepang. Pertandingan berlangsung sengit, dengan kedua tim saling bertukar serangan di net dan smash yang tajam. Namun, kesalahan fatal pada posisi backhand net pada menit-menit akhir memaksa mereka menurunkan angka 18-21 di set penentu.
Sementara itu, pasangan kedua, Alfian Eko Prasetya dan Rin Irawan, yang masih relatif baru di kancah ganda campuran internasional, harus menerima kekalahan dari tim Korea Selatan dengan skor 15-21, 22-24. Meskipun menampilkan pertahanan yang solid dan beberapa rally panjang, kurangnya pengalaman dalam menghadapi taktik cepat lawan membuat mereka terperangkap dalam pola permainan yang dapat diprediksi.
Kedua kekalahan ini tidak hanya mengakhiri harapan Indonesia untuk meraih medali di Kejuaraan Asia 2026, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang strategi pelatihan dan persiapan mental pemain. Pelatih kepala Tim Nasional, Coach Indra Gunawan, mengaku kecewa namun tetap optimis bahwa kegagalan ini dapat menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki formasi tim ke ajang mendatang, termasuk Piala Dunia Badminton 2027.
Berikut rangkuman singkat hasil pertandingan Indonesia di babak 16 besar:
- Kevin/Melati vs. Jepang (Miyuki Kato / Hiroki Tanaka): 19-21, 21-18, 18-21
- Alfian/Rin vs. Korea Selatan (Kim Hyeon-woo / Lee So-yeon): 15-21, 22-24
Selain hasil di atas, turnamen ini menampilkan sejumlah kejutan lain, di antaranya kemenangan tim Thailand yang mengalahkan tim unggulan China di babak perempat final, serta kebangkitan pemain muda India yang berhasil menembus semifinal. Dominasi negara-negara Asia Timur masih terasa kuat, namun persaingan semakin merata seiring munculnya generasi pemain baru.
Para pemain Indonesia memberikan komentar singkat setelah pertandingan. Kevin Sanjaya menyatakan, “Kami sudah berusaha maksimal, tetapi hari ini tidak berada di sisi kami. Kami akan kembali berlatih lebih keras dan memperbaiki taktik di net.” Sementara Melati menambahkan, “Kekalahan ini mengajarkan kami pentingnya konsistensi dalam setiap rally, terutama pada momen penentu.” Alfian mengaku, “Saya belajar banyak dari pertandingan ini, terutama dalam hal koordinasi gerakan dengan pasangan.” Rin menutup dengan harapan, “Kami tetap percaya pada proses, dan akan bangkit lagi di kompetisi berikutnya.”
Pengamat badminton, Rizky Pratama, menilai bahwa Indonesia masih memiliki potensi besar di ganda campuran, namun harus meningkatkan kerja sama antara pemain senior dan junior. “Kekuatan Indonesia terletak pada kecepatan dan kreativitas, tetapi saat ini tampak kurangnya koordinasi strategi yang matang antara pasangan,” ujarnya.
Menilik statistik turnamen, Indonesia menurunkan total lima poin pada masing-masing pertandingan, yang secara keseluruhan menempatkan mereka di urutan ke-7 dalam klasemen negara. Negara dengan poin tertinggi tetap menjadi China, diikuti oleh Jepang dan Korea Selatan.
Meski kegagalan ini menorehkan catatan kurang memuaskan, Badan Olahraga Nasional Indonesia (Boon) berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh. Fokus utama ke depan adalah memperkuat program pembinaan ganda campuran di level junior, meningkatkan intensitas latihan fisik, serta menambah sesi simulasi pertandingan melawan tim-tim kuat dari Jepang, Korea, dan Thailand.
Kesimpulannya, kegagalan dua pasangan ganda campuran Indonesia di Kejuaraan Asia 2026 menandai titik kritis yang memerlukan evaluasi mendalam. Diharapkan dengan perbaikan strategi, peningkatan mental, dan pembinaan generasi muda, Indonesia dapat kembali bersaing di panggung Asia dan dunia pada kompetisi selanjutnya.





