123Berita – 06 April 2026 | Stadion Sumpah Pemuda, Lampung menjadi saksi dramatis pada Minggu 5 April 2026 ketika Bhayangkara FC mengalahkan Persija Jakarta dengan skor tipis 3-2 dalam laga lanjutan pekan ke-26 BRI Super League 2025/26. Pertandingan yang semula menjanjikan kemenangan bagi Macan Kemayoran berbalik menjadi kegagalan setelah kartu merah menjebak skuad asuhan Mauricio Souza.
Persija membuka pertandingan dengan tempo menggebrak. Hanya empat puluh detik sejak peluit pertama, gelandang muda Rayhan Hannan berhasil menembus pertahanan Bhayangkara dan menandai gol pertama yang sekaligus menjadi salah satu gol tercepat musim ini. Gol kilat ini mengingatkan publik pada aksi Mirza Mustafic yang melesatkan bola ke gawang PSM Makassar pada Januari lalu.
Setelah memimpin, Persija terus menekan lini belakang Bhayangkara, namun peluang emas sulit dikonversi menjadi gol tambahan. Bhayangkara tak tinggal diam; mereka menyamakan kedudukan pada menit ke-28 lewat serangan balik yang dipimpin Aqil Savik, menjadikan skor 1-1 menjelang jeda.
Babak kedua dimulai dengan intensitas tinggi, namun hanya lima menit kemudian Persija mengalami pukulan berat. Jordi Amat yang sudah menerima satu kartu kuning sebelumnya akhirnya mendapat kartu kuning kedua pada menit ke-49, memaksa wasit menyingkirkan pemain asal Spanyol itu. Akibat kartu merah tersebut, Persija harus bertanding dengan sepuluh pemain hingga akhir laga.
Pelatih Mauricio Souza segera merespon dengan menurunkan gelandang bertahan Van Basty Sousa untuk menstabilkan lini tengah yang kini kekurangan satu pemain. Meski demikian, tekad Persija tidak surut. Pada menit ke-62, Fabio Calonego mengeksekusi tendangan bebas yang melesat tepat ke sudut gawang Bhayangkara, mengembalikan keunggulan menjadi 2-1 bagi tuan rumah.
Keunggulan tersebut tidak berlangsung lama. Bhayangkara, meski berada dalam situasi pemain lebih, meningkatkan tekanan secara konsisten. Usaha mereka terbayar pada menit ke-85 ketika Dendy Sulistyawan mengirimkan bola yang tak dapat dijangkau kiper Persija, Cyrus Margono, menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Menjelang akhir pertandingan, Bhayangkara menyiapkan serangan pamungkas. Pada tambahan waktu, umpan akurat I Putu Gede berhasil dihadapi Sidibe yang melesatkan bola ke sudut atas gawang. Gol ketiga itu menutup pertandingan dengan skor akhir 3-2, memastikan kemenangan dramatis Bhayangkara FC yang kini mencatatkan rekor enam kemenangan beruntun di kompetisi.
Kekalahan ini menambah catatan buruk Persija Jakarta. Tim asuhan Mauricio Souza kini mengalami tiga pertandingan tanpa kemenangan, setelah sebelumnya hanya mampu menahan imbang Dewa United dan Borneo FC. Sementara itu, Bhayangkara FC terus menegaskan dominasinya dengan performa konsisten, menjadikan mereka salah satu kandidat kuat perebutan gelar musim ini.
Berikut susunan pemain yang terlibat dalam laga tersebut:
- Bhayangkara FC: Aqil Savik, Moises (Rizki Fauzi 73′), Sadiki, Vinicius Leonardo, Putu Gede, Ichsan (Yamamoto 63′), Wahyu Subo (Sulistyawan 74′), Frenky (Andika 54′), Henri, Mbarga, Sidibe.
- Persija Jakarta: Cyrus Margono, Thales (Bruno Tubarao 64′), Rizky Ridho, Paulo Ricardo, Dony Tri (Shayne 77′), Mota (Sousa 53′), Jordi Amat, Fabio Calonego, Rayhan Hannan, Allano (Ajaraie 76′), Gustavo (Runtukahu 54′).
Kartu merah yang diberikan kepada Jordi Amat terbukti menjadi faktor penentu dalam hasil akhir. Kekurangan satu pemain pada menit-menit krusial mengurangi fleksibilitas taktik Persija, memaksa mereka bermain lebih defensif dan membuka celah bagi serangan Bhayangkara.
Keputusan wasit untuk mengeluarkan Amat dari lapangan mendapat beragam tanggapan. Beberapa pihak menilai keputusan tersebut tepat mengingat intensitas permainan, sementara yang lain mengkritik ketatnya penegakan aturan kartu kuning di liga ini. Apa pun penilaiannya, dampaknya tidak dapat dipungkiri: Persija harus mengorbankan peluang untuk memperluas keunggulan, sementara Bhayangkara memanfaatkan kelebihan satu pemain untuk menambah gol.
Di luar sorotan kartu merah, performa Rayhan Hannan tetap menjadi sorotan positif. Gol cepatnya di menit pertama menandakan potensi besar pemain muda tersebut dalam menggerakkan serangan Persija. Namun, ketidakkonsistenan dalam menciptakan peluang berbahaya menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah bagi lini serang.
Dengan hasil ini, Bhayangkara FC menegaskan posisinya di papan atas klasemen, sementara Persija harus segera bangkit agar tidak semakin terperosok ke zona rendah. Pertandingan berikutnya akan menjadi ajang pembuktian bagi kedua tim dalam memperbaiki strategi dan mentalitas mereka.
Kesimpulannya, pertandingan di Lampung menyajikan drama penuh emosi, di mana kartu merah menjadi katalisator perubahan alur pertandingan. Bhayangkara FC memanfaatkan situasi tersebut untuk meraih kemenangan penting, sementara Persija harus mengevaluasi kebijakan taktis serta disiplin pemainnya untuk menghindari skenario serupa di masa depan.





